RADAR PALU - Menanggapi rentetan peristiwa pohon tumbang di Kota Palu dalam beberapa waktu terakhir, Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Palu, Ibnu Mundzir mengatakan bahwa yang pertama itu harus diketahui tidak sama kekuatan pohon yang tumbuh di hutan dan dalam kota.
Boleh jenisnya sama, tetapi kekuatannya berbeda. Karena di wilayah perkotaan banyak hal yang menyebabkan pohon itu menjadi tumbang.
“Ada berapa jenis pohon yang lunak batangnya, gampang untuk tumbang. Sederhananya mana yang cepat tumbuh, itu pasti akan tumbang, apalagi dia ditanam tidak direncanakan untuk ditanam, contohnya di trotoar, mungkin ada kegiatan sehingga lubangnya kecil dan akarnya tidak berkembang secara maksimal,” kata Ibnu Munzhir kepada Radar Palu, Jumat (19/9/2025).
Lanjutnya, terdapat dua jenis pohon yakni yang berakar serabut dibanding tunggang itu akan lebih kuat dengan akar serabut. Pohon yang berakar serabut akan lebih sering tumbang.
Kemudian faktor selanjutnya pohon tumbang adalah cuaca. Dari data BMKG kata dia dalam satu minggu terakhir sebelum tumbangnya pohon di beberapa titik di Kota Palu memang sangat intens hujan deras dan angin kencang.
“Apalagi rata-rata tanah kita di Palu ini adalah tanah aluvial, gampang sekali becek, kalau sudah becek pohon ditanam akarnya tidak dalam, kemudian tanah becek maka akan jadi lembut dan dihantam oleh angin. Faktor lain juga ada faktor malpraktik, artinya ketika pemangkasan pohon tidak dengan ahlinya,” kata Ibnu Mundzir.
Menurutnya, di sisi lain juga saat pembangunan drainase yang terletak di sekitar pohon, saat menggali drainase pastinya akan melukai akar pohon. Ketika akar pohon luka dan posisi pohonnya sudah miring, maka hanya akan menunggu waktu.
“Disamping memang kondisi pohon itu sudah tua,” katanya.
Ibnu Mundzir mengakui DLH Kota Palu itu memiliki dua tim pemangkasan pohon yang bekerja setiap hari. Satu timnya beranggotakan hampir 15 orang dan dibekali satu unit mobil crane.
Mereka akan bekerja dari pagi hingga sore hari untuk pemangkasan, jika pohon berukuran besar bisa ditangani mencapai lima pohon per tim sehari. Sedangkan untuk pohon sedang bisa sekitar tujuh sampai delapan pohon.
“Di bulan Agustus itu ada 200 pohon yang kami tangani, itu satu tim. Jadi kalau ditanya apa kendala yang paling besar memang faktor pembiayaan, itu yang kemudian tahun depan kami rencana untuk melakukan sensus pohon di seluruh Kota Palu,” sebutnya.
Sensus pohon ini nantinya akan mengetahui pada rute mana umur pohon itu berapa, sehingga DLH memiliki prioritas untuk penanganan-penanganan pohon.
“Apalagi penanganan pohon yang masih muda dan tua berbeda dalam hal intervensinya,” tutupnya.(acm)
Editor : Nur Soima Ulfa