Kegiatan pengabdian yang dihadiri para ODHIV, keluarga ODHIV dan masyarakat ini diketuai oleh Lenny.S.Kep.Ns.SKM.M.Kes, dan bersama dua anggotanya yakni Selvi Alfrida Mangundap.S.Kp.M.Si dan Rina Tampake.S.Pd.S.Kep.Ns.M.Med.Ed.
Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat Poltekkes Kemenkes Palu, Lenny mengatakan alasan dipilihnya tema di atas adalah hasil observasi dan wawancara dari pengurus dan anggota ODHIV itu sendiri.
Akses informasi dan layanan yang lebih luas agar juga dibutuhkan sehingga edukasi tidak hanya berhenti pada peserta, tetapi juga diperluas kepada masyarakat, keluarga, sekolah dan lingkungan kerja.
“Yang berikutnya ada penguatan organisasi atau komunitas ODHIV, dimana peserta ODHIV berharap adanya wadah yang lebih kuat untuk menyuarakan hak-hak mereka sekaligus menjadi media edukasi bagi masyarakat luas,” ujar Lenny.
Masih kata Lenny, keluarga ODHIV dan masyarakat juga berharap adanya peningkatan sosialisasi publik, dimana edukasi HIV-AIDS ini diharapkan lebih sering dilakukan agar stigma bisa benar-benar ditekan. Dibutuhkan juga kolaborasi lintas sektor, dimana pemerintah daerah, tenaga kesehatan, toko agama dan toko masyarakat dapat ikut serta aktif dalam mengedukasi masyarakat luas.
Baca Juga: Insiden Kapal Terbakar KLM Maryam Indah Hingga Pencarian Korban di Perairan Luwuk
“ODHIV ini tidak hanya diberi edukasi tentang kesehatan, tapi juga didukung dalam pengembangan keterampilan ekonomi agar mereka lebih mandiri,” sebutnya.
Lenny mengungkapkan, dengan adanya kegiatan ini para peserta ODHIV merasa diperhatikan dan didukung, tidak merasa sendirian menghadapi stigma di masyarakat. “Ibaratnya ada pihak yang peduli terhadap kondisi mereka. Mereka juga akui bertambahnya wawasan dan pengetahuan,” terangnya.
Pengetahuan itu kata Lenny seperti bagaimana menghadapi respon diskriminatif dengan cara yang sehat, baik secara emosional maupun sosial. ODHIV juga dapat meningkatkan kepercayaan diri mereka dalam menghadapi lingkungan, seperti teknik komunikasi asertif, manajemen emosi dan pemahaman hak-hak ODHIV.
“Munculnya rasa kebersamaan dengan forum ini karena mempertemukan ODHIV untuk saling berbagi pengalaman. Sehingga terbangun solidaritas dan rasa memiliki komunitas,” jelasnya.
Lenny mengakui, kegiatan pengabdian masyarakat tentang edukasi ini keluarga ODHIV dan masyarakat bisa menyadari pentingnya empati, apalagi kemungkinan selama ini kurang pemahaman tentang HIV AIDS sehingga muncul stigma.
Tetapi setelah kegiatan ini, mereka lebih memahami bahwa ODHIV tetap memiliki hak hidup yang sama, muncul kesadaran untuk mendukung dan menyampaikan keinginan untuk lebih terbuka dalam hal memberi dukungan emosional dan mengurangi sikap mengucilkan hingga perubahan cara pandang.
“Masyarakat mulai melihat bahwa diskriminasi justru memperburuk kondisi ODHIV, sementara penerimaan akan membantu mereka tetap sehat dan produktif,” tutup Lenny.(***)
Editor : Mugni Supardi