"Biaya pelatihan kader Posyandu berasal dari kombinasi Dinas Kesehatan dan APBDes masing-masing desa," ujar Sapara kepada wartawan di Kolonodale, Selasa (10/6/2025).
Kegiatan ini menyasar kader dari berbagai kecamatan di Morowali Utara, dan dibagi dalam dua tahap, pertama di Hotel Mulia Pendolo (28-30 April 2025) dengan 95 peserta, dan tahap kedua di Hotel Estrella Luwuk (1-4 Juni 2025) dengan 75 peserta.
Sapara menegaskan bahwa pelatihan ini bukan hanya memberikan manfaat besar bagi peningkatan kapasitas kader Posyandu desa. Tetapi juga sebagai bentuk penghargaan terhadap kader atas kontribusinya dalam penurunan angka stunting di desa.
Tahun 2024, Morut menerima dana fiskal sebesar Rp 5,8 miliar dari Kementerian Keuangan RI sebagai bentuk apresiasi atas keberhasilan tersebut.
"Tanpa kerja keras kader Posyandu, capaian ini mustahil tercapai," ungkapnya.
Pelatihan mencakup 25 keterampilan dasar kader Posyandu, termasuk pelayanan ibu hamil, bayi dan balita, remaja, hingga lansia. Pelaksanaan dilakukan di dalam wilayah Provinsi Sulawesi Tengah untuk tetap efisien secara anggaran.
Menanggapi isu yang beredar terkait dugaan penyimpangan dana pelatihan kader Posyandu, Sapara membantah. Ia menyayangkan pemberitaan sepihak tanpa konfirmasi langsung.
"Tidak ada permainan anggaran. Semua pengeluaran dapat dipertanggungjawabkan. Kamar hotel pun dibayar oleh peserta dari dana desa masing-masing," tegasnya sambil menunjukkan log panggilan di ponselnya.
Sekretaris Dinkes Morut, Arif Paskal Pokonda, menambahkan bahwa penentuan lokasi pelatihan mempertimbangkan efisiensi dan aksesibilitas peserta dari berbagai kecamatan.
Para peserta mengaku mendapatkan pengalaman dan ilmu baru. Misiliati (61), kader Posyandu dari Desa Malino, menyampaikan rasa terima kasihnya.
"Saya sudah mengabdi 30 tahun. Baru kali ini ikut pelatihan di luar desa dan menginap di hotel. Ini pengalaman luar biasa," ungkapnya.(ham)
Editor : Muchsin Siradjudin