RADAR PALU – Begitu menginjakkan kaki di SMPN 18 Palu, hawa sejuk langsung terasa. Tanaman bunga tertata rapi, pohon-pohon peneduh turut berjajar di depan gedung-gedung kelas. Pemandangan ini membuat suasana belajar terasa seperti di tengah taman kota. Namun siapa sangka, keasrian ini bukan hasil proyek kontraktor mahal, melainkan keringat para guru dan siswa yang bergotong royong secara mandiri.
Wakil Kepala Sekolah (Wakasek) Sarana Prasarana I Gede Dibia menceritakan rahasia di balik lapangan sekolah dan lingkungan yang asri, Rabu (14/5/2026).
"Yang mengerjakan (cor lapangan) ini bukan pakai tukang, tapi guru-guru sendiri, baik laki-laki maupun perempuan. Anak-anak juga ada yang menawarkan diri membantu," ceritanya bangga.
Sekolah ini memiliki filosofi unik dalam penataan lingkungannya, terutama keberadaan pohon beringin yang tumbuh subur di area sekolah. Bagi mereka, beringin adalah simbol pendidikan: buahnya kecil, tetapi pohonnya tumbuh menjadi tempat bernaung bagi banyak orang.
"Filosofinya besar. Sekecil apa pun ilmu yang diterima siswa dari guru, mudah-mudahan bisa bermanfaat bagi dirinya dan orang banyak, seperti beringin yang rindang," tuturnya puitis.
Selain filosofi, penanaman pohon besar ini awalnya bertujuan praktis untuk menghalau debu yang sering masuk ke ruang kelas sebelum adanya pengecoran lapangan sekolah. Kini, kerja keras itu terbayar lunas. SMPN 18 Palu sukses meraih predikat Adiwiyata tingkat kota dan kini sedang dinilai untuk tingkat nasional.
"Kami ingin anak-anak nyaman dan merasa terlindungi dengan lingkungan yang bersih. Bahkan sampah botol bekas pun kami sulap jadi pot bunga cantik di atas meja," pungkasnya.***
Editor : Muhammad Awaludin