Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Sekolah Bengkel di Palu, Siswa “Bermasalah” Justru Dicari

Ade Safitri • Rabu, 22 April 2026 | 18:50 WIB
Kepala MTs Al-Khairaat Tondo Ramzah Rahim saat menjelaskan konsep “sekolah bengkel” yang membuka peluang bagi semua siswa untuk berubah. (Ade SafitriRadar Palu)
Kepala MTs Al-Khairaat Tondo Ramzah Rahim saat menjelaskan konsep “sekolah bengkel” yang membuka peluang bagi semua siswa untuk berubah. (Ade SafitriRadar Palu)

RADAR PALU — Di saat banyak sekolah berlomba menyeleksi siswa terbaik, satu madrasah di Palu justru memilih jalan berbeda. Mereka membuka pintu selebar-lebarnya, bahkan untuk siswa yang dianggap “bermasalah”.

MTs Al-Khairaat Tondo menyebut dirinya sebagai “sekolah bengkel”. Bukan tanpa alasan, konsep ini menempatkan sekolah sebagai tempat memperbaiki karakter, bukan sekadar mengejar nilai akademik.

Menjelang tahun ajaran baru 2026, madrasah ini mulai menggencarkan sosialisasi Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB). Pendekatannya terbilang tidak biasa. 

Baca Juga: Pendaftar MTsN 2 Palu Tembus 700, Syarat Berat: Wajib Lancar Ngaji dan Hafal Juz 30

Kepala MTs Al-Khairaat Tondo, Ramzah Rahim, menegaskan bahwa pihaknya tidak ingin menjadi sekolah yang eksklusif.

“Kenapa disebut sekolah bengkel? Karena di sini kita perbaiki. Anak-anak yang putus sekolah, pindahan, atau punya masalah, kalau mau berubah, silakan masuk,” ujarnya, Rabu (22/4/2026).

Konsep ini muncul dari realitas di lapangan. Banyak anak yang tersisih dari sistem pendidikan karena berbagai alasan—mulai dari ekonomi, lingkungan, hingga persoalan perilaku. 

Baca Juga: MTsN 2 Palu Gembleng Siswa lewat Genesis, Disiapkan Tembus Olimpiade Nasional

Alih-alih menolak, MTs Al-Khairaat Tondo justru melihat mereka sebagai potensi yang perlu diarahkan.

Ramzah menekankan, yang terpenting bukan latar belakang siswa, melainkan kemauan untuk berubah.

“Yang penting mau diperbaiki. Itu saja,” katanya singkat.

Soal syarat masuk, madrasah ini juga tidak memberatkan. Calon siswa cukup melengkapi dokumen standar seperti SKHU atau SKL, akta kelahiran, dan kartu keluarga.

Tak ada tes akademik yang rumit. Hanya satu yang diuji: kemampuan dasar membaca Al-Qur’an.

“Setelah daftar, kita lihat bagaimana dia mengaji. Itu saja,” jelas Ramzah.

Menariknya, pihak sekolah mengaku tidak pernah menolak siswa. Semua yang mendaftar akan diterima.

Alasannya sederhana. Selain komitmen pada konsep “bengkel”, mereka juga realistis dengan kondisi sekolah yang masih tergolong kecil. 

Baca Juga: Kepala MTs Muhammadiyah Palu Beberkan Dampak Nyata MBG di Kelas

“Kalau kita batasi, nanti tidak ada siswa,” ucapnya sambil tersenyum.

Saat ini, MTs Al-Khairaat Tondo memiliki enam rombongan belajar dengan total sekitar 120 siswa. Jumlah tersebut masih memungkinkan untuk bertambah.

Pihak sekolah pun berharap ada peningkatan minat dari lulusan sekolah dasar di sekitar Tondo, terutama dari SD Al-Khairaat.

Namun lebih dari sekadar mengejar jumlah siswa, Ramzah menegaskan misi utama mereka tetap pada perubahan karakter.

Setiap hari, guru-guru berupaya memberikan pembinaan, bukan hanya pengajaran.

“Setiap hari kita beri pencerahan. Harapannya anak-anak ini bisa berubah jadi lebih baik,” ujarnya.

Di tengah sistem pendidikan yang sering menilai dari angka, pendekatan “sekolah bengkel” ini menawarkan sudut pandang berbeda.

Bahwa setiap anak, seburuk apa pun labelnya, tetap punya kesempatan untuk diperbaiki.

Dan di Palu, kesempatan itu benar-benar dibuka.***

Editor : Muhammad Awaludin
#MTs Alkhairaat Tondo #sekolah bengkel #siswa bermasalah #SPMB 2026 #Pendidikan Palu