Guru dipandang sebagai pilar pencerdasan kehidupan bangsa. Peran strategis mereka tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter, nilai, serta menggerakkan perubahan di masyarakat.
Perjalanan profesi guru di Indonesia memiliki akar sejarah panjang, dimulai sejak masa kolonial. Pada 1851, pemerintah Hindia Belanda mendirikan Sekolah Guru Negeri (Normal Cursus) di Surakarta untuk mencetak guru yang bertugas di desa-desa.
Baca Juga: Unjuk Kekuatan Nasional, TNI Kerahkan Puluhan Ribu Prajurit Amankan Aset Strategis Bangka–Morowali
Pada 1912 lahirlah Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB), yang kemudian bertransformasi menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI) pada 1932—sebuah langkah berani yang menegaskan semangat nasionalisme kala itu.
Di masa pendudukan Jepang, organisasi pendidikan sempat dibekukan, namun para guru tetap menjaga api nasionalisme melalui lembaga-lembaga pelatihan yang dibentuk saat itu.
Tonggak penting terjadi pasca kemerdekaan. Kongres Guru Indonesia pada 24–25 November 1945 di Surakarta melahirkan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), yang membawa misi mempertahankan kemerdekaan, meningkatkan mutu pendidikan, dan memperjuangkan kesejahteraan guru.
Baca Juga: Wacana Pembukaan Jalur Pelayaran Parigi Moutong-Wakai, Upaya Pengembangan Pariwisata Dua Kabupaten
Sejalan dengan peran historis PGRI, pemerintah menetapkan 25 November sebagai Hari Guru Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994.
Peringatan Hari Guru Nasional menjadi ruang refleksi bagi pendidik sekaligus ajakan kepada masyarakat untuk memberi penghargaan atas dedikasi para guru. Hari ini menegaskan kembali peran guru sebagai agen perubahan, pembentuk karakter, dan pemimpin opini di tingkat komunitas.
Selain itu, momentum ini mengingatkan pemerintah dan pemangku kebijakan tentang pentingnya peningkatan kesejahteraan, pengembangan kompetensi, serta penyediaan kebijakan pendidikan yang lebih memihak pada guru.
Baca Juga: Ina Tobani, Maestro Kain Kulit Kayu dari Kulawi yang Perahankan Warisan Sejak Ribuan Tahun
Perubahan zaman menghadirkan tantangan baru bagi para pendidik. Kesenjangan akses teknologi, tuntutan literasi digital, meningkatnya beban administratif, hingga perubahan peran guru dari sumber informasi menjadi fasilitator pembelajaran menjadi tantangan utama yang perlu diatasi bersama.
Upaya penguatan kompetensi, dukungan infrastruktur, serta pelatihan berkelanjutan menjadi kebutuhan mendesak agar guru mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan dinamika pembelajaran modern.
Berbagai kegiatan dapat dilakukan untuk memperingati Hari Guru, mulai dari pemberian penghargaan kepada guru teladan, workshop peningkatan kompetensi, program mentoring, kampanye apresiasi di media sosial, hingga pameran karya siswa. Hal sederhana seperti ucapan terima kasih, kartu buatan tangan, hingga ruang relaksasi bagi guru juga memiliki makna penting.
Guru memegang peran krusial dalam membentuk generasi masa depan yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga berkarakter, toleran, dan adaptif. Kolaborasi antara guru, pemerintah, keluarga, dan masyarakat menjadi kunci untuk mewujudkan kualitas pendidikan yang lebih baik.
Selamat Hari Guru Nasional. Terima kasih atas dedikasi dan pengabdian para pendidik bagi masa depan bangsa.
Editor : Agung Sumandjaya