Koleksi-koleksi purbakala yang selama ini tersimpan di gudang auditorium dikeluarkan dan dipajang rapi dalam etalase. Dari fosil, artefak budaya, hingga benda-benda sejarah Sulteng yang jarang terlihat publik. Semua hadir menjadi ruang belajar terbuka.
Suasana museum penuh dengan wajah-wajah ceria, terutama dari siswa TK hingga SMA. Salah satunya TK Putra Palu yang beralamat di Jalan Suprapto yang datang dengan puluhan murid.
“Mereka tadi melihat berbagai macam benda purbakala, koleksi museum. Anak-anak sangat senang, karena ini pertama kalinya mereka datang ke sini,” ujar Kepala Sekolah TK Putra Palu, Meriel Warani SPd MPd.
Sebelum pulang, pemandangan menggemaskan menarik perhatian saat para murid duduk bersama di panggung museum untuk berdoa. Sebuah kebiasaan dalam budaya “10 pembiasaan” yang ditanamkan sekolah.
Menurut Meriel, pameran ini menjadi jendela bagi anak-anak untuk mengenal makanan khas daerah, pakaian adat, hingga mengetahui perjalanan panjang peradaban manusia di Sulawesi Tengah.
Hal serupa disampaikan Kepala Sekolah TK Aisyiyah 4 Palu, Nurmalia Lamasitudju. Sebanyak 12 muridnya turut datang didampingi orang tua.
“Kegiatan ini bermanfaat sebagai refleksi bahwa tanpa ilmu pengetahuan manusia tidak akan pernah berkembang,” ujarnya.
Anggi, salah satu orang tua murid, mengaku pameran tersebut memberi banyak pelajaran. “Ikut kegiatan ini membuat saya senang, karena banyak pengalaman untuk anak-anak usia dini,” tuturnya.
Dari jenjang SD, antusiasme tak kalah besar. SD Inpres 2 Kamonji membagi kunjungan menjadi dua sesi, untuk kelas 1–3 di pagi hari, lalu kelas 4–6 siangnya.
Kepala Sekolah H. Hijrah, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa kunjungan kali ini bukan sekadar jalan-jalan. “Kami jadikan ini sebagai bahan riset. Setiap kelas dibagi menjadi delapan kelompok. Mereka membuat laporan pengamatan dan wawancara, lalu mempresentasikannya di sekolah,” jelasnya.
Museum menjadi ruang belajar yang hidup. Bukan sekadar tempat menyimpan artefak. Pantauan Radar Palu, dari Jalan Muhammad Yamin, rombongan SMA Imanuel Palu juga datang dengan semangat belajar. Fernita Pratiwi, siswa kelas 10 yang membagi rasa antusiasnya pada Radar Palu Jawa Pos Group.
“Senang bisa belajar dan menambah ilmu,” katanya singkat.
Guru Sejarah SMA Imanuel, Frans, S.Pd., menyebut bahwa kunjungan ini berkaitan dengan tugas Kurikulum Merdeka khususnya Profil Lulusan 8 Dimensi (P8). Ia menilai pameran seperti ini sangat baik untuk memperluas wawasan siswa.
“Siswa kelas 10 kami tugaskan menggali nilai dari benda bersejarah: dari sisi sejarah, religi, hingga geografis,” ungkapnya.
Dari berbagai jenjang sekolah yang datang, satu hal terlihat jelas bahwa museum bukan tempat yang membosankan. Dia bisa menjadi ruang belajar yang menyenangkan, interaktif, dan penuh cerita.
Banyak guru, orang tua, hingga siswa berharap agar pameran kebudayaan dan sejarah lebih sering diadakan di Palu. Dengan koleksi yang kaya, Museum Sulteng dianggap mampu membangun kedekatan generasi muda dengan sejarah dan budaya daerahnya.(cr1)
Editor : Nur Soima Ulfa