Julukan “Sekolah Bangkit dari Kubur” bukannya berarti SDN 1 Palu dalah sekolah yang seram atau berhantu, tapi karena dianggap berhasil bertransformasi memiliki perwajahan yang baru.
Di tangannya, selama dua tahun memimpin, SDN 1 Palu kini memiliki perwajahan sekolah yang tidak hanya bersih, tapi juga teduh dan nyaman. Gedung sekolah dicat dengan warna hijau cerah dan dihiasi oleh tanaman hias dan tanaman gantung.
Kepada Radar Palu Jawa Pos Group, perempuan yang akrab disapa dengan nama Widi ini bercerita saat awal masuk ke SDN 1Palu, dia menemukanrupa sekolah yang tidak berwarna. Gersangnya halaman sebab tidak ada satu pun tumbuhan.
Dia pun mengaku prihatin melihat keadaan toilet sekolah tidak ada saluran pembuangan air sehingga menggenangi lantai. Dia juga mengingat ujung rok siswi yang basah setiap kali keluar toilet.
“Kamar mandinya itu hanya aktif dua. Dua pun itu tergenang (air) sampai di mata kaki,” cerita Widi mengenang kedatangan pertamanya sebagai Kepala Sekolah SDN 1 Palu.
Melihat sarana dan prasarana sekolah yang tidak terawat, Kepsek Widi segera mengadakan rapat bersama guru. Minimnya dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) tidak menjadi hambatannya. Berbekal proposal, Widi berusaha mencari donatur.
Orang tua murid serta guru ikut berkontribusi. Dibantu suami salah seorang guru SDN 1 Palu, dinding sekolah dicat kembali, dilukis, diberi kalimat-kalimat edukasi dan inspiratif, nama sekolah juga diukir di dinding lantai atas. Dia juga membuat septic tank.
“Tetangga kios (kios depan sekolah) bilang, Ibu ini sekolah bangun dari kubur!” sebutnya saat ditemui pada Jumat (07/10/2025).
Mirisnya, lampu di setiap ruangan sedikit yang berfungsi. Di antaranya lampu di toilet, beberapa lampu di kelas, serta lampu di kantor guru pun padam. Bahkan ada stop kontak yang tidak memiliki instalasi listrik. “Memang murni, dia hanya hiasan semata,” guyon Widi sambil tertawa.
Di saat hujan, halaman depan yang sebagiannya masih berlapis tanah akan digenangi lumpur. Kepsek Widi beserta guru-guru lekas menyulapnya menjadi lantai semen. Begitupun tempat parkir.
“Saya bersyukur dapat guru yang loyal terhadap sekolah. Kita kumpul dana sendiri, cor di (halaman) depan,” ungkapnya.
Dia juga membeli tanaman untuk sekolah meski sebagiannya hasil donasi alumni dan orang tua murid. Dengan adanya tanaman hias, bangunan sekolah sebelumnya bagus namun tak terawat, menjadi enak dipandang mata.
Demi perbaikan, Widi tidak ragu merogoh dana dari kantong sendiri demi percepatan pembenahan sekolah. AC, lima buah kursi kayu, dan satu meja di ruang kepala sekolah merupakan furniture yang dibawanya dari rumah. Begitupun kulkas yang berada di kantor guru.
“Saya dua tahun di sini, memang benar-benar dituntut untuk gimana, saya mau apakan sekolah ini?” ujar Widi.
Kata dia, selama masa jabatannya fokus Widi masih pada kenyamanan untuk perbaikan sarana dan prasarana. Sehingga sekolah belum mampu mengejar prestasi seperti sekolah populer lainnya.
Padahal kata dia, SDN 1 Palu merupakan sekolah pertama yang ada di kota Palu. Dia berharap tidak dimutasi karena baginya, SDN 1 Palu adalah rumah kedua.
“Banyak pejabat yang lahir dari sini. Tapi, kok, tidak ada perhatian gitu? Saya kadang, saya orang baru yang masuk itu kayak, kasihan sekolah ini. Kenapa nda sefavorit sekolah SMPN 1 dan SMAN 1,” ucapnya.(cr1)
Editor : Nur Soima Ulfa