UNTAD, Danau Purba, dan Masa Depan Ilmu Pengetahuan Wallacea

Mugni Supardi • Dipublikasikan Kamis, 27 Agustus 2026 | 18:02 WIB
Fadly Y. Tantu
Dr. Ir. Fadly Y. Tantu, M.Si.

Oleh: Dr. Ir. Fadly Y. Tantu, M.Si.

Ada sebuah paradoks yang sering luput dari perhatian. Ketika dunia berlomba mencari jawaban atas krisis air, perubahan iklim, hilangnya biodiversitas, dan meningkatnya ancaman bencana alam, perhatian justru lebih banyak tertuju pada pusat-pusat teknologi modern. Padahal, sebagian jawaban atas persoalan tersebut tersimpan di bentang alam yang telah berusia jutaan tahun. Salah satunya berada di Sulawesi

Di kawasan Wallacea, dua danau purba, Danau Poso dan Danau Matano, menyimpan lebih dari sekadar air. Keduanya menyimpan sejarah bumi, sejarah kehidupan, dan sejarah manusia. Danau-danau itu adalah perpustakaan alam yang ditulis oleh waktu selama jutaan tahun. Ketika dunia mulai memberikan perhatian besar pada keberlanjutan sumber daya air tawar melalui peringatan World Lake Day 2026 bertema Healthy Lakes, Saving Generations, danau-danau purba Sulawesi memperoleh relevansi yang semakin kuat. Danau tidak lagi dipahami sekadar sebagai badan air, melainkan sebagai sistem kehidupan yang menopang masa depan umat manusia. 

Bagi Universitas Tadulako (UNTAD), momentum tersebut bukan sekadar agenda internasional. Ia merupakan panggilan akademik. Sebab UNTAD berada tepat di pusat sebuah laboratorium alam dunia yang dibentuk oleh tiga garis kebumian strategis yang sangat langka. Ketiga garis tersebut tidak hanya membentuk wajah Sulawesi Tengah, tetapi juga membentuk arah dan identitas pengembangan ilmu pengetahuan di Universitas Tadulako. 

Garis pertama adalah garis khatulistiwa. Sulawesi Tengah berada sangat dekat dengan jalur ekuator, wilayah yang menerima limpahan energi matahari sepanjang tahun. Di kawasan inilah energi alam diekspresikan dalam bentuk produktivitas hayati yang tinggi, kesuburan ekosistem tropis, dan siklus kehidupan yang berlangsung tanpa henti. Hutan hujan, sungai, dan danau berkembang dalam kondisi yang memungkinkan terbentuknya keragaman hayati yang luar biasa. Garis khatulistiwa pada hakikatnya adalah garis kehidupan yang memperlihatkan bagaimana energi matahari membangun fondasi kesuburan bumi. Di sinilah ilmu pengetahuan tentang produktivitas ekosistem, pangan, sumber daya hayati, dan perubahan iklim menemukan laboratorium alaminya. 

Garis kedua adalah Sesar Palu-Koro. Jika garis khatulistiwa mengekspresikan energi kehidupan, maka Sesar Palu-Koro mengekspresikan energi bumi yang terus bergerak. Sesar raksasa yang membelah Sulawesi ini menjadi salah satu laboratorium tektonik paling menarik di dunia. Pegunungan, lembah, cekungan, dan sejumlah danau purba terbentuk dari dinamika geologi yang berlangsung selama jutaan tahun. Di sini bumi memperlihatkan bahwa perubahan adalah keniscayaan. Gempa bumi, deformasi kerak bumi, dan pembentukan bentang alam menjadi sumber pengetahuan yang sangat berharga bagi pengembangan ilmu kebumian, mitigasi bencana, dan pembangunan berkelanjutan. 

Sementara itu garis ketiga adalah Garis Wallacea, sebuah garis biogeografi yang telah mengubah cara dunia memahami evolusi kehidupan. Wallacea merupakan ruang pertemuan dan sekaligus pemisah antara fauna Asia dan Australia. Dari proses evolusi yang berlangsung sangat panjang lahirlah kekayaan biodiversitas yang unik, termasuk berbagai spesies endemik yang tidak ditemukan di tempat lain di bumi. Garis Wallacea bukan sekadar batas geografis, melainkan batas evolusi yang menjadikan Sulawesi sebagai salah satu pusat biodiversitas dunia. 

Bagi UNTAD, perjumpaan ketiga garis inilah yang membentuk fondasi ilmu pengetahuan masa depan. Garis khatulistiwa melahirkan kesuburan dan produktivitas kehidupan. Garis Sesar Palu-Koro menghadirkan dinamika geologi yang membentuk wajah bumi. Garis Wallacea melahirkan biodiversitas yang menjadi kekayaan evolusi dunia. Ketiganya bertemu di Sulawesi Tengah dan menjadi sumber inspirasi lahirnya berbagai agenda riset strategis Universitas Tadulako. 

Pandangan tersebut kemudian berkembang menjadi konsep yang lebih luas, yaitu integrasi geodiversitas, biodiversitas, dan culturediversitas sebagai fondasi pembangunan ilmu pengetahuan. Geodiversitas menjelaskan bagaimana bumi bekerja. Biodiversitas menjelaskan bagaimana kehidupan berkembang. Culturediversitas menjelaskan bagaimana manusia belajar hidup berdampingan dengan alam. Ketiga unsur tersebut tidak berdiri sendiri, tetapi saling berinteraksi membentuk sistem kehidupan yang utuh. 

Kesadaran itu mendorong UNTAD memperkuat kelembagaan risetnya. Salah satu langkah strategis adalah pembangunan Nalodo Research Center yang digagas untuk memperkuat posisi Universitas Tadulako sebagai pusat unggulan penelitian kebumian, kegempaan, dan kebencanaan di kawasan Wallacea. Pusat riset ini tidak hanya bertujuan memahami risiko bencana, tetapi juga membaca dinamika bumi yang telah membentuk sejarah alam Sulawesi. 

Dalam bidang biodiversitas, UNTAD telah lama mengembangkan Herbarium Celebense, yang telah dikenal dalam komunitas ilmiah herbarium dunia. Lebih dari 5.000 spesimen tumbuhan tersimpan di dalamnya, sebagian besar berasal dari kawasan Wallacea. Setiap koleksi merupakan dokumen sejarah kehidupan yang menyimpan informasi berharga mengenai evolusi dan perubahan lingkungan kawasan tropis. 

Penguatan juga dilakukan melalui Museum Zoologicum Celebense yang diarahkan menjadi pusat dokumentasi biodiversitas Sulawesi dan Wallacea. Di tempat ini tersimpan berbagai kisah evolusi yang direpresentasikan oleh fauna endemik Sulawesi, termasuk koleksi dari danau-danau purba yang menjadi fokus penelitian dalam beberapa tahun terakhir. 

Dalam konteks itulah Danau Poso memperoleh makna yang jauh lebih besar daripada sekadar cadangan air tawar. Danau ini adalah cerminan pertemuan ketiga garis kebumian tersebut. Ia terbentuk oleh dinamika geologi, diperkaya oleh biodiversitas hasil evolusi panjang Wallacea, dan dijaga oleh masyarakat yang mewarisi berbagai nilai budaya serta kearifan lokal. Danau Poso mengajarkan bahwa bumi, kehidupan, dan manusia sesungguhnya tidak dapat dipisahkan. 

Karena itulah masa depan ilmu pengetahuan tidak lagi cukup dibangun melalui pendekatan yang terfragmentasi. Tantangan abad ke-21 menuntut sintesis pengetahuan yang mampu menghubungkan kebumian, kehidupan, dan peradaban manusia. Krisis iklim, ketahanan air, konservasi biodiversitas, hingga mitigasi bencana hanya dapat dijawab melalui pendekatan yang holistik. 

Di sinilah UNTAD melihat perannya. Bukan hanya sebagai institusi pendidikan tinggi, melainkan sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan Wallacea yang berakar pada kekuatan tiga garis kebumian strategis, garis khatulistiwa, garis Sesar Palu-Koro, dan garis Wallacea. Ketiga garis tersebut bukan sekadar identitas geografis Sulawesi Tengah, melainkan sumber pengetahuan dunia yang dapat memberi kontribusi nyata bagi terwujudnya tujuan pembangunan berkelanjutan. 

Dan mungkin, ketika dunia terus mencari arah baru bagi keberlanjutan peradaban manusia, jawabannya tidak selalu lahir dari gedung-gedung pencakar langit atau pusat teknologi global. Bisa jadi jawabannya sedang tumbuh di tepian Danau Poso, di laboratorium Herbarium Celebense, di ruang koleksi Museum Zoologicum Celebense, dan di pusat-pusat riset yang berkembang di Universitas Tadulako. Di sanalah masa depan ilmu pengetahuan Wallacea sedang ditulis. Dari Untad kami mengucapkan Selamat Hari Danau Dunia 2026.***

*) Penulis adalah Kepala UPA Sumber Daya Hayati Sulawesi Universitas Tadulako, Dosen Program Studi Sumber Daya Akuatik Fakultas Peternakan dan Perikanan Universitas Tadulako dan Pengajar Mata Kuliah Manajemen Ekosistem Danau Purba 

Editor : Mugni Supardi
Danau Matano Wallacea World Lake Day 2026 danau poso Universitas Tadulako