Kenapa Antibiotik Tetap Dipakai, Meski Zero Residu Jadi Syarat,  Ancam Keberlanjutan Industri Udang

Muchsin Siradjudin • Dipublikasikan Selasa, 4 Agustus 2026 | 19:38 WIB
Hasanuddin Atjo (FOTO: ISTIMEWA/RADAR PALU)
Hasanuddin Atjo (FOTO: ISTIMEWA/RADAR PALU)

Oleh: Hasanuddin Atjo *)

BUYER Udang Dunia seperti Uni Eropa, Amerika Serikat, Jepang dan China secara ketat menolak udang  terdeteksi mengandung residu antibiotik. 

Amerika Serikat menjadi  pasar terbesar udang asal Indonesia. Pada tahun 2025 hampir 70 %  udang RI dipasarkan ke AS, zekitar 140 ribu ton dengan nilai 1,2 milyar dollar AS.

Food and Drugs Administration (FDA) AS,  menginformasikan sepanjang tahun 2025 terjadi  kasus penolakan  sebanyak 30 kontainer.  Merupakan jumlah terbesar sepanjang sejarah. 

Baca Juga: Kenapa Tambak Udang Modern Supra Intensif Sulit Berkembang, Tapi Masif di China dan Vietnam

Dua bulan pertama tahun 2026 tercatat sekitar 8 kontainer tidak bisa diterima karena terdeteksi antibiotik. Kasus  tahun 2025 hingga 2026 merupakan alarm keras bagi keberlanjutan.

Setidaknya tga macam antibiotik menjadi fokus  Negeri  Paman Sam  tersebut yaitu Nitrofurans,  
karena bersifat karsinogenik (memicu kanker) dan sebagai genotoksik.

Chloramphenicol dan Tetracyclin jenis  berspektrum luas sangat dilarang penggunaannya pada hewan konsumsi termasuk ikan (arti luas) karena akan memicu resistensi antimikroba manusia (superbug).

Baca Juga: Mendorong Daya Saing Industri Udang Melalui Harmonisasi Kewenangan, Equador Bisa Dicontoh

Menjadi pertanyaan kemudian mengapa penggunaan antibiotik masih saja dilakukan. Padahal kasus penolakan udang tersebut  akan merugikan industri udang Nasional  dan menurunkan citra di pasar Global.

Pertama, kasus penyakit udang disebabkan virus seperti WSSV, APHND, dan lain lain umumnya dipicu oleh kehadiran bakteri patogen genus vibrio  spp dan  telah terindetifikasi.

Penelusuran lapangan menberi indikasi pemberian antibiotik itu dimulai dari hatchery hingga proses budidaya  berlangsung. Harapannya agar benih udang di hatchery dan udang di tambak tidak terserang penyakit. 

Baca Juga: Rekayasa Genetik "Menembus Batas", Vaname Mendominasi Pasar Udang Global, Indonesia Diharap Lebih Berperan

Kedua, pemberian antibiotik bisa menekan Feed Conversion Ratio (FCR) melalui efisiensi pemakean pakan yang berbasis mekanisme biologi dasar. Apalagi pakan itu mengambil porsi hingga 60 % dari HPP.

​Secara garis besar penurunan FCR , karena antibiotik  mampu mengubah pemanfaatan energi dan nutrisi dalam usus udang melalui serangkaian mekanisme, yaitu : 

GUT Microbiota Modulation yaitu ​bakteri alami dalam usus udang juga mengonsumsi nutrisi pakan, sehingga terjadi persaingan untuk pertumbuhan.

Baca Juga: Dollar AS Menguat Harga Udang Malah  Merosot,  Ini Alarm Serius   yang  Mesti Disikapi dan Dicari Solusinya

Antibiotik bisa menekan populasi bakteri dalam usus, sehingga nutrisi pakan tidak lagi direbut oleh bakteri dan seluruhnya bisa terserap oleh sel pencernaan udang.

Antibiotik membasmi bakteri patogen oportunistik (seperti beberapa galur Vibrio spp.) yang belum menimbulkan gejala klinis tetapi sudah mengganggu fungsi pencernaan.

Antibiotik dengan dosis rendah mengurangi ketebalan lapisan mukosa maupun dinding usus. Dinding usus yang lebih tipis akan mempermudah absorpsi (penyerapan) asam amino, asam lemak maupun  mikronutrien ke  dalam hemolimfa (darah udang).

Baca Juga: Berhasrat Menjadi Raja Udang Global 2045, Modelling dan Peta Jalan Tambak Rakyat Menjadi Salah Satu Prioritas

Karena massa usus mengecil, maka energi metabolik yang dibutuhkan untuk pemeliharaan jaringan usus (gut maintenance) berkurang, sehingga pakan yang disalurkan untuk pertumbuhan otot/daging.

​Respon imun melawan bakteri membutuhkan energi metabolik sangat besar. Ketika populasi bakteri ditekan oleh antibiotik, sistem imun udang menjadi pasif.

​Energi (ATP) yang seharusnya terbuang untuk respon imun dan respon peradangan (inflamasi) dapat dialihkan penuh untuk pembentukan sel-sel tubuh baru (pertumbuhan bobot).

Baca Juga: Tambak Udang Tradisional Diujung Ketidapastian, Potensi  Terabaikan,  Perlu Intervensi

Dari ulasan tersebu diatas perlu  alternatif pengganti antibiotik  agar  FCR dapat ditekan secara aman dan  berkelanjutan. 

Para  pembudidaya disarankan beralih menggunakan asam organik (asam format dan asam propionat ) guna  menurunkan pH usus dan menekan Vibrio secara selektif.

​Penggunaan jenis probiotik usus (Synbiotics) seperti Bacillus dan Lactobacillus disarankan agar bakteri patogen kalah bersaing 

Melengkspi strategi ini, maka tambahan ​enzim pencernaan (fitase atau protease eksogen ke pakan bisa membantu hidrolisis nutrisi secara langsung.

​Terakhir perlu upaya mitigasi yang berkelanjutan, mengatasi krisis kepercayaan dari  Negara buyer yang terus meningkat dan mulai mengalihkan ke Negara Kmkompetitor seperti Ekuador, India, Vietnam dan India.

Pemerintah bersama asosiasi perudangan (seperti SCI/AP5I) memperketat sistem jaminan mutu antara lain ​Pengetatan sertifikasi CBIB (Cara Budidaya Ikan yang Baik) dan registrasi tambak.

​Penguatan skema pelacak jejak (traceability)  hatchery, pakan, hingga ke pabrik pembekuan.
​Peningkatan frekuensi uji saring (screening test) berbasis PCR dan uji kimia residu saat udang diterima di prosessing.

Faktor yang dinilai tidak kalah pentingnya adalah menjaga iklim investasi tambak udang  agar tetap menarik. Mekanisme perizinan agar lebih sederhana  dan tidak memberatkan.(***)

 

*) Penulis adalah Dewan Pakar Udang Nasional, pemerhati pembangunan dan ekonomi global.

 

Editor : Muchsin Siradjudin
Udang global Tetap dipakai antibiotik ancaman