Oleh: Hasanuddin Atjo *)
SEKITAR 12 tahun lalu, bertempat di Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan, satu teknologi budidaya udang modern-supra intensif di Launching Prof. Rhokmin Dahuri, Ketua Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI).
Teknologi karya Hasanuddin Atjo itu, dicobakan di tambak beton seluas 1.000 meter persegi dan kedalaman air mencapai 2,5 meter. Padat tebar 1.000 ekor per meter persegi. Setelah 120 hari mampu merproduksi udang vaname sebanyak 15,2 ton atau 152 ton/ha.
Temuan teknologi tersebut jadi harapan baru melipatgandakan produksi udang Indonesia. Dan sangat disayangkan cara baru tersebut replikasinya berjalan lamban. Padahal merupakan kesempatan yang berharga.
Baca Juga: Mendorong Daya Saing Industri Udang Melalui Harmonisasi Kewenangan, Equador Bisa Dicontoh
Sebaliknya China dan Vietnam dalam lima tahun terakhir secara masif telah mengembangkan teknologi semacam ini sebagai mesin produksi baru memenuhi permintaan dalam Negeri dan ekspor yang terus meningkat.
Kedua Negara itu mendorong industri manufaktur penunjang penerapan teknologi padat tebar tinggi itu. Kemudian berdampak pada peningkatan produktifitas sekaligus instrumen penyerapan tenaga kerja
Industri manufaktur itu dimulai pabrik konstruksi kolam bundar yang knock down, alat sterilisasi air berbasis listrik, pressure filter, pabrik kincir, root blower dan berbagai jenis pompa. Bahkan mereka juga mengembangkan reaktor oksigen untuk budidaya super padat.
Integrasi AI dan IoT melengkapi teknologi ini . Pemantauan pH, Oksigen terlarut, Suhu serta Salinitas dilakuksm secara real-time. Ketika konsentrasi Oksigen terlarut dibawah baku mutu, maka secara otomatis motor penggerak kincir/blower akan bekerja.
Autofeeder berbasis kecerdasan buatan (AI) membantu efisiensi penggunaan pakan, sehingga FCR ( Feed Convertion Ratio) bisa ditekan yang berdampak pada turunnya HPP, mengingat 60 % HPP dipengaruhi pakan.
Mereka juga melaksanakan biosecurity super ketat. Mulai konstruks indoor yang murah, instalasi pengolahan air baku (IPAB), pemantauan kesehatan udang dan instalasi pengolahan air limbah (IPAL).
Baca Juga: Tambak Udang Tradisional Diujung Ketidapastian, Potensi Terabaikan, Perlu Intervensi
Sebagai Negara yang berbasis Kepulauan, dengan garis pantai mendekati 100 ribu km beriklim tropis Indonesia sudah tentu tidak boleh tertinggal dari China dan Vietnam. Harus manfaatkan keunggulannya.
Indonesia sebaiknya mengambil inspirasi dari cara kedua Negara tersebut mengembangkan industri udag mereka. Industri manufaktur sebagai penunjang tentunya menjadi salah satu pendorong utama.
Industri breeding, pembenihan udang yang memproduksi benur sehat tetap menjadi salah satu perhatian, karena masih menjadi salah satu masalah krusial yang perlu ditindaklanjuti.
Peta jalan atau roadmap perlu dibuat untuk mengakomodir kebutuhan industri manufaktur dan infustri breeding. Sekaligus mempersiapkan SDM didominasi oleh gen-Alfa maupun gen-Z . Skema pembiayaan khusus jadi salah satu kunci.(***)
*) Penulis adalah Dewan Pakar Udang Nasional.
Editor : Muchsin Siradjudin