Kenapa Tambak Udang Modern Supra Intensif Sulit Berkembang, Tapi Masif di China dan Vietnam

Muchsin Siradjudin • Dipublikasikan Minggu, 2 Agustus 2026 | 12:36 WIB
Hasanuddin Atjo (FOTO: ISTIMEWA/RADAR PALU)
Hasanuddin Atjo (FOTO: ISTIMEWA/RADAR PALU)

Oleh: Hasanuddin Atjo *)

SEKITAR 12 tahun lalu, bertempat di  Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan, satu teknologi budidaya  udang modern-supra intensif di Launching  Prof. Rhokmin Dahuri, Ketua  Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI).

Teknologi karya Hasanuddin Atjo itu, dicobakan di tambak  beton seluas 1.000 meter persegi dan kedalaman air mencapai  2,5 meter.  Padat tebar 1.000 ekor per meter persegi. Setelah 120 hari mampu merproduksi udang  vaname sebanyak 15,2  ton atau 152 ton/ha.

Temuan teknologi tersebut  jadi harapan baru melipatgandakan produksi udang Indonesia. Dan sangat disayangkan  cara baru tersebut replikasinya berjalan lamban. Padahal merupakan kesempatan yang berharga.

Baca Juga: Mendorong Daya Saing Industri Udang Melalui Harmonisasi Kewenangan, Equador Bisa Dicontoh

Sebaliknya China dan Vietnam dalam lima tahun terakhir secara masif telah mengembangkan teknologi  semacam ini sebagai mesin produksi baru  memenuhi permintaan dalam Negeri dan ekspor yang terus meningkat.

Kedua Negara itu  mendorong   industri manufaktur penunjang  penerapan teknologi padat tebar tinggi itu. Kemudian berdampak  pada peningkatan produktifitas  sekaligus instrumen  penyerapan tenaga kerja

Industri manufaktur itu  dimulai  pabrik konstruksi kolam bundar yang knock down,  alat sterilisasi air berbasis listrik, pressure filter, pabrik kincir, root blower dan berbagai jenis pompa. Bahkan mereka juga mengembangkan reaktor oksigen untuk budidaya super padat.

Baca Juga: Berhasrat Menjadi Raja Udang Global 2045, Modelling dan Peta Jalan Tambak Rakyat Menjadi Salah Satu Prioritas

Integrasi AI dan IoT  melengkapi teknologi ini . Pemantauan  pH, Oksigen terlarut, Suhu  serta Salinitas dilakuksm secara real-time. Ketika konsentrasi Oksigen terlarut  dibawah baku mutu, maka secara otomatis  motor penggerak kincir/blower akan bekerja.

Autofeeder berbasis kecerdasan buatan (AI) membantu efisiensi penggunaan pakan, sehingga FCR ( Feed Convertion Ratio) bisa ditekan yang berdampak pada turunnya HPP, mengingat 60 % HPP dipengaruhi pakan.

Mereka juga melaksanakan biosecurity super ketat. Mulai konstruks indoor yang murah, instalasi pengolahan air baku (IPAB), pemantauan kesehatan udang  dan instalasi pengolahan air limbah (IPAL).

Baca Juga: Tambak Udang Tradisional Diujung Ketidapastian, Potensi  Terabaikan,  Perlu Intervensi

Sebagai Negara yang berbasis  Kepulauan, dengan garis pantai mendekati 100 ribu km  beriklim tropis  Indonesia sudah tentu tidak boleh tertinggal dari China dan Vietnam. Harus manfaatkan keunggulannya.

Indonesia sebaiknya mengambil  inspirasi dari cara kedua Negara tersebut  mengembangkan industri  udag mereka. Industri manufaktur sebagai penunjang tentunya  menjadi salah satu pendorong utama.

Industri breeding, pembenihan udang yang memproduksi benur sehat  tetap menjadi  salah satu perhatian, karena masih menjadi salah satu masalah krusial yang perlu ditindaklanjuti.

Baca Juga: Industri Udang Nasional Masih Tertinggal, Perlu Revitalisasi Tambak Intensif, dan Tambak Tradisional ke "New Shrimp"

Peta jalan  atau roadmap perlu dibuat untuk mengakomodir kebutuhan industri manufaktur dan infustri breeding. Sekaligus mempersiapkan SDM didominasi  oleh gen-Alfa maupun gen-Z . Skema pembiayaan khusus jadi salah satu kunci.(***)

 

*) Penulis adalah Dewan Pakar Udang Nasional.

Editor : Muchsin Siradjudin
Udang global Hasanuddin Atjo Budidaya teknologi