Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Stunting Turun, Obesitas Menyerang! Seruan untuk Pemkot Palu agar Benahi Pasar Jajanan Era Gawai

Mugni Supardi • Selasa, 9 Juni 2026 | 22:54 WIB
Ilustrasi AI
Ilustrasi AI

Oleh : Nur Maulidayani Aulia,S.KM 

Kita patut bangga kepada Kota Palu karena berhasil menurunkan angka stunting yang membuktikan bahwa ketika pemerintah daerah bergerak dengan serius maka hasilnya akan nyata.

Namun justru di saat kita merayakan keberhasilan melawan kekurangan gizi, ada ancaman lain yang datang diam-diam dari arah yang berlawanan.

Anak-anak kita hari ini tumbuh dalam dua dunia sekaligus yaitu dunia fisik yang kita jaga dengan posyandu, puskesmas, program gizi dan dunia digital yang belum memiliki satupun penjagaan kesehatan di dalamnya.

Apa yang terjadi?

Krisis kesehatan terselubung kini tengah mengintai masa depan generasi muda Indonesia. Berdasarkan potret Survei Kesehatan Indonesia (SKI), fenomena obesitas bukan lagi sekadar isu domestik keluarga, melainkan sudah menjadi ancaman nasional.

Bayangkan, satu dari lima anak usia sekolah dan satu dari tujuh remaja di negeri ini kini tumbuh dengan berat badan berlebih. Total kasus yang terjadi pun kian mencemaskan dimana hampir seperempat dari total populasi remaja di Indonesia saat ini masuk dalam kategori obesitas. Lonjakan ini menjadi krisis yang harus segera ditangani terkait lingkungan pangan anak-anak.

Riset UNICEF bersama Kementerian Kesehatan RI yang dipublikasikan pada Juli 2025 menemukan bahwa dari 295 konten iklan makanan dan minuman yang beredar di platform digital Indonesia, sekitar 85% mempromosikan produk yang menurut standar WHO tidak sesuai dikonsumsi anak-anak.

Produk-produk tinggi gula, garam, dan lemak itu dipromosikan melalui TikTok, Instagram, dan platform lainnya dengan strategi yang sangat canggih melalui karakter kartun yang menggemaskan, selebriti muda yang diidolakan, dan hadiah-hadiah menarik.

Masalahnya, anak-anak tidak menyadari bahwa setiap konten yang mereka tonton dan setiap video yang membuat mereka tertawa bisa jadi adalah iklan yang sedang membentuk selera dan kebiasaan makan mereka.

Ditambah lagi, platform pesan antar makanan kini hadir dengan kemudahan yang hanya dengan beberapa ketukan jari, anak usia sekolah pun bisa memesan makanan cepat saji kapan saja termasuk tengah malam.

Tidak ada yang memeriksa apakah yang memesan adalah seorang anak. Tidak ada yang menimbang apakah pilihan itu baik untuk kesehatannya.

Siapakah yang bertanggung Jawab?

Kita tidak sedang menyalahkan orang tua, tidak menyalahkan industri, dan tidak menghukum anak-anak atas pilihan yang mereka buat sendiri. Tetapi yang kita bicarakan adalah tanggung jawab pemerintah daerah untuk menciptakan lingkungan yang memudahkan pilihan sehat, bukan sebaliknya.

Pemerintah Kota Palu memiliki perangkat daerah yang lengkap. Dinas Kesehatan bisa memimpin surveilans dan edukasi gizi. Dinas Pendidikan bisa mengintegrasikan literasi pangan digital dalam kurikulum sekolah.

Dinas Komunikasi dan Informatika bisa mendorong kesadaran terhadap regulasi nasional yang ada tentang iklan pangan pada platform digital.

Serta Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak bisa memastikan hak anak atas lingkungan tumbuh yang sehat termasuk di ruang digital yang benar-benar terlindungi. Semua perangkat ini sudah ada, hanya saja yang belum ada adalah meja bersama untuk membicarakan masalah ini secara terpadu.

Apa yang harus dilakukan?

Pemerintah pusat sebenarnya telah memberi sinyal yang sangat jelas dengan regulasi nasional tentang perlindungan anak di ruang digital untuk terus diperkuat.

UNICEF dan Kementerian Kesehatan RI secara resmi telah mengangkat isu pemasaran makanan tidak sehat kepada anak sebagai prioritas kebijakan nasional.

Ini adalah momentum terbaik bagi Pemerintah Kota Palu untuk menjadi salah satu daerah pelopor yang tidak hanya menunggu instruksi dari pusat, tetapi bergerak lebih awal dengan inisiatif lokal yang terukur.

Langkah yang bisa dimulai tidak harus besar. Beberapa yang perlu dilakukan, yaitu:

Melakukan pemetaan sederhana tentang pola konsumsi pangan dan penggunaan platform digital pada anak usia sekolah di Kota Palu, sebagai dasar kebijakan berbasis data.

Membangun program literasi pangan digital yang terintegrasi di sekolah-sekolah bukan sebagai mata pelajaran tambahan yang memberatkan melainkan sebagai bagian dari pendidikan kecakapan hidup yang relevan dengan perkembangan zaman.

Mendorong forum lintas Organisasi Pemerintah Daerah yang mempertemukan Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, Dinas Kominfo, dan DP3A untuk menyusun rencana aksi bersama dalam menciptakan lingkungan pangan yang lebih sehat bagi generasi muda Kota Palu.

Penutup

Anak-anak yang hari ini mengalami obesitas, kelak akan menghadapi risiko diabetes, hipertensi, dan penyakit jantung di usia produktif mereka. Biaya yang akan ditanggung baik oleh keluarga, rumah sakit, maupun anggaran daerah akan jauh lebih besar dari biaya pencegahan yang bisa kita mulai hari ini.

Kota Palu telah membuktikan bahwa ia mampu bergerak melawan tantangan kesehatan yang besar seperti Stunting berhasil ditekan dan Pengelolaan sampah diakui yang secara nasional, sekarang saatnya menambah satu lagi halaman prestasi menjadi kota yang serius melindungi generasi mudanya dari jebakan lingkungan pangan digital yang tidak sehat.

*) Penulis adalah Mahasiswa Magister  Kesehatan Masyarakat Universitas Gadjah Mada

Editor : Mugni Supardi
#stunting palu #obesitas anak #obesitas remaja #literasi pangan digital #kota palu