Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Berhasrat Menjadi Raja Udang Global 2045, Modelling dan Peta Jalan Tambak Rakyat Menjadi Salah Satu Prioritas

Muchsin Siradjudin • Kamis, 28 Mei 2026 | 13:22 WIB
H. Hasanuddin Atjo (FOTO: ISTIMEWA/RADAR PALU)
H. Hasanuddin Atjo (FOTO: ISTIMEWA/RADAR PALU)

Oleh: Hasanuddin Atjo *)

PRESIDEN Prabowo  berhasrat merajai industri udang Global  pada akhir tahun 2045.  Hal ini terungkap disela Panen Raya udang jenis vaname di tambak Modelling Teknologi Inntensif  BUBK atau Budidaya Udang Berbasis Kawasan,  Kebumen milik KKP RI ( 23 /05/26), 

Hasrat Presiden Prabowo itu dinilai  inovatif  dan realistis, mengingat garis pantai serta  lklim tropis  yang mendukung untuk  pencapaian tersebut.
Mencapainya, tidak bisa lagi menggunakan pola budidaya tradisional yang fragmentaris (terpisah-pisah).

​Transformasi tambak rakyat menjadi model kluster (cluster model) merupakan pengungkit utama.  Pola ini  tidak sekedar pegelompokkan lahan, tetapi juga melakukan korporatisasi tambak rakyat agar memiliki daya saing  yang bisa setara dengan tambak  skala besar.

Baca Juga: FRESH 2026: Anwar Hafid Ungkap Kontraksi Fiskal Sulteng, Andalkan Pertanian dan Perikanan Dongkrak Ekonomi

Sejumlah pertimbangan  yang mendasari mengapa tambak rakyat itu perlu diklustetisasi  melalui perencanaan jangka pendek dan menengah serta jangka panjang, dilengkapi peta jalan sebagai jembatan menuju tujuan akhir.

Pertama, Kontribusi produksi udang dari petambak rakyat terhadap Nasional  pada tahun (2025) hanya sekitar 20 persen (100.000 ton) . Selebihnya sekitar 400.000 ton adalah produksi tambak semi  intensif,  intensif, dan  supra intensif yang  umumnya  berasal dari kelompok  pengusaha.

Padahal hampir 85 persen ( sekitar 360.000 ha) areal  tambak di Indonesia merupakan tambak rakyat.  Dan usaha ini sejak lama  jadi tulang  punggung ekonomi keluarga. Karena itu  dipandang  strategis segera dibuat modellingnya sebagai pilot project (rolemodel) agar kelompok ini bisa berdaya.

Baca Juga: FRESH 2026: Anwar Hafid Ungkap Kontraksi Fiskal Sulteng, Andalkan Pertanian dan Perikanan Dongkrak Ekonomi

Ini, berbeda dengan Equador bahwa kinerja produksi  udang mereka didominasi  tambak  rakyat. Menerapkan  teknologi tradisional dan semi intensif,  berbasis kluster dan dikelola  oleh manajemen Korporate. 

Tahun 2025, ekspor mereka sebesar 1,4 juta ton dengan nilai  sebesar US$ 7,47 milyar, meningkat 14 kali dibanding 25 tahun lalu. Padahal garis pantainya hanya sepanjang 2.247 km. 

Tiga perubahan teknis yang mendasar dilakukan  Equador yaitu pembaharuan  konsep breedingndan hatcherynya,  menggunakan nursery atau karantina benur sebelum dibesarkan di tambak serta  manajemen pengelolaan air. 

Baca Juga: Refleksi Program Perikanan Berkelanjutan di Banggai Kepulauan, Dari Perubahan Perilaku hingga Kemandirian Perempuan

Indonesia pada tahun yang sama  ekpornya tidak lebih dari 200 ribu ton dengan nilai devisa US$ 1,63 milyar. Meski bergaris pantai hampir 40 kali (mendekati  100.000 km). Ini merupakan realita yang bisa menjadi motivasi.

​Kedua, penyakit merupakan persoalan utama menghadang para petambak.  Tambak yang menerapkan teknologi intensif saja tidak luput dari ancaman. Apalagi tambak rakyat yang hanya menerapkan teknologi sederhana, ala kadarnya dengan segala keterbatasan.

Penyakit bisa hadir pada saat budidaya berlangsung melalui dua mekanisme,  yaitu melalui mekanisme transmisi vertikal dan horisontal. Secara vertikal umumnya disebabkan oleh benur  yang  tidak sehat.

Baca Juga: Pengguna Jasa Karantina Ikan Wajib Lampirkan Dokumen Lengkap untuk Ekspor Produk Perikanan

Benur tidak sehat lemungkinan disebabkan oleh  induk udang (broodstock) yang bersoal, atau pakan induk  polychaeta yang  mengandung patogen (tangkapan alam), atau SOP hatchery  diluar standarisasi ataupun integrasi ketiganya.

Secara horsontal antara lain melalui simber air yang telah kaya oleh pathogen, sistem budidaya yang tidak sesuai, sanitasi dan higuenis  yang kurang.  Kedua peyebab ini  (vertikal dan horisontal) disebut dengan biosecurity.

Dengan klustetisasi maka penerapan biosecurity bisa dilakukan lebih terkontrol dan tetkendali, sehingga mitigasi kehadiran penyakit dalam sistem budidaya bisa lebih awal diketahui dan dicegah.

Ketiga, memberikan tambahan manfaat  dalam  setiap rantai nilai. Ongkos logistik dari input produksi (benur, pakan serta  lainnya) bisa lebih murah.  Hal yang sama juga terjadi pada saat panen . Selain itu udang akan lebih  berkualitas  dan posisi tawar semakin kuat.

Berkaitan dengan keinginan menjadi pemain utama global 2045, maka tiga kluster usaha  menjadi penopang  produksi, yaitu kluster tambak rakyat,  kluster tambak pengusaha ,  dan  kluster tambak milenial. 

Ketiga kluster tambak tersebut memiliki karakteristik teknologi yang berbeda. Kluster tambak rakyat dibatasi pada teknologi tradisional plus dan  maKsimal semi intensif . Kluster tembak pengusaha lebih  fokus pada penerapan teknologi semi dan  intensif.

Kluster milenial diserahi tugas menerapkan teknologi intensif dan supra intensif.  Kemudian integrasi dengan teknologi IoT 
(Intelegent of Thingking) agar terukur, efisien  berdaya saing menjadi rana kluster ini. 

Dari tiga kluster, maka kluster tambak rakyat yang paling kompleks.  Persoalan sosial sering muncul antara lain perbedaan visi dan karakter, kemampuan dana, dan status lahan ( sedang dikontrakan).

Praktik klasterisasi  tambak rakyat  pernah dilakukan di Kabupaten Barru, Pinrang,  Polmas (Sulawesi Selatan) pada awal tahun 2000-an. Hasilnya  signifikan menigkat dari 100 - 200 kg /ha/musim tanam menjadi 400 - 700 kg/ha/musim tanam yang saat itu  menabur udang windu 

Tiga  poin penting dari praktik klasterisasasi itu antara lain dipastikan benur yang akan ditabur benar benar sehat, menggunakan benur hasil nursery.  Tidak kalah penting adalah persamaan visi terkait konsep klustetisasi.

Pengalaman Sulawesi Selatan,  Equador menerapkan kluster tambak rakyat bisa menjadi pembelajaran berharga dalam menyusun  modelling tambak rakyat yang berbasis kluster. Negara  mesti hadir untuk ini.

Sebagai Negara Kepulauan beriklim  tropis dan betgaris pantai terpanjang kedua, ditambah hasrat Presiden Prabowo Subianto akan menjadi raja udang global 2045 merupakan kekuatan yang dahsyat.

Dibutuhkan peta jalan yang benar benar terukur dan bisa diimplementasikan sebagai pedoman. Tidak lagi sekedar dokumen perencanaan yang bagus  pada chasingnya. Sangat berharap peta jalan itu berfungsi seperti Google maps atau Waze.(***)

 

*) Penulis Dewan Pakar Udang Vaname Nasional, pengamat ekonomi dan pembangunan.

Editor : Muchsin Siradjudin
#Udang global #Budidaya tradisional #Pengelompokan lahan #Memiliki daya saing