Oleh: Hasanuddin Atjo *)
PRESIDEN Prabowo berhasrat merajai industri udang Global pada akhir tahun 2045. Hal ini terungkap disela Panen Raya udang jenis vaname di tambak Modelling Teknologi Inntensif BUBK atau Budidaya Udang Berbasis Kawasan, Kebumen milik KKP RI ( 23 /05/26),
Hasrat Presiden Prabowo itu dinilai inovatif dan realistis, mengingat garis pantai serta lklim tropis yang mendukung untuk pencapaian tersebut.
Mencapainya, tidak bisa lagi menggunakan pola budidaya tradisional yang fragmentaris (terpisah-pisah).
Transformasi tambak rakyat menjadi model kluster (cluster model) merupakan pengungkit utama. Pola ini tidak sekedar pegelompokkan lahan, tetapi juga melakukan korporatisasi tambak rakyat agar memiliki daya saing yang bisa setara dengan tambak skala besar.
Sejumlah pertimbangan yang mendasari mengapa tambak rakyat itu perlu diklustetisasi melalui perencanaan jangka pendek dan menengah serta jangka panjang, dilengkapi peta jalan sebagai jembatan menuju tujuan akhir.
Pertama, Kontribusi produksi udang dari petambak rakyat terhadap Nasional pada tahun (2025) hanya sekitar 20 persen (100.000 ton) . Selebihnya sekitar 400.000 ton adalah produksi tambak semi intensif, intensif, dan supra intensif yang umumnya berasal dari kelompok pengusaha.
Padahal hampir 85 persen ( sekitar 360.000 ha) areal tambak di Indonesia merupakan tambak rakyat. Dan usaha ini sejak lama jadi tulang punggung ekonomi keluarga. Karena itu dipandang strategis segera dibuat modellingnya sebagai pilot project (rolemodel) agar kelompok ini bisa berdaya.
Ini, berbeda dengan Equador bahwa kinerja produksi udang mereka didominasi tambak rakyat. Menerapkan teknologi tradisional dan semi intensif, berbasis kluster dan dikelola oleh manajemen Korporate.
Tahun 2025, ekspor mereka sebesar 1,4 juta ton dengan nilai sebesar US$ 7,47 milyar, meningkat 14 kali dibanding 25 tahun lalu. Padahal garis pantainya hanya sepanjang 2.247 km.
Tiga perubahan teknis yang mendasar dilakukan Equador yaitu pembaharuan konsep breedingndan hatcherynya, menggunakan nursery atau karantina benur sebelum dibesarkan di tambak serta manajemen pengelolaan air.
Indonesia pada tahun yang sama ekpornya tidak lebih dari 200 ribu ton dengan nilai devisa US$ 1,63 milyar. Meski bergaris pantai hampir 40 kali (mendekati 100.000 km). Ini merupakan realita yang bisa menjadi motivasi.
Kedua, penyakit merupakan persoalan utama menghadang para petambak. Tambak yang menerapkan teknologi intensif saja tidak luput dari ancaman. Apalagi tambak rakyat yang hanya menerapkan teknologi sederhana, ala kadarnya dengan segala keterbatasan.
Penyakit bisa hadir pada saat budidaya berlangsung melalui dua mekanisme, yaitu melalui mekanisme transmisi vertikal dan horisontal. Secara vertikal umumnya disebabkan oleh benur yang tidak sehat.
Baca Juga: Pengguna Jasa Karantina Ikan Wajib Lampirkan Dokumen Lengkap untuk Ekspor Produk Perikanan
Benur tidak sehat lemungkinan disebabkan oleh induk udang (broodstock) yang bersoal, atau pakan induk polychaeta yang mengandung patogen (tangkapan alam), atau SOP hatchery diluar standarisasi ataupun integrasi ketiganya.
Secara horsontal antara lain melalui simber air yang telah kaya oleh pathogen, sistem budidaya yang tidak sesuai, sanitasi dan higuenis yang kurang. Kedua peyebab ini (vertikal dan horisontal) disebut dengan biosecurity.
Dengan klustetisasi maka penerapan biosecurity bisa dilakukan lebih terkontrol dan tetkendali, sehingga mitigasi kehadiran penyakit dalam sistem budidaya bisa lebih awal diketahui dan dicegah.
Ketiga, memberikan tambahan manfaat dalam setiap rantai nilai. Ongkos logistik dari input produksi (benur, pakan serta lainnya) bisa lebih murah. Hal yang sama juga terjadi pada saat panen . Selain itu udang akan lebih berkualitas dan posisi tawar semakin kuat.
Berkaitan dengan keinginan menjadi pemain utama global 2045, maka tiga kluster usaha menjadi penopang produksi, yaitu kluster tambak rakyat, kluster tambak pengusaha , dan kluster tambak milenial.
Ketiga kluster tambak tersebut memiliki karakteristik teknologi yang berbeda. Kluster tambak rakyat dibatasi pada teknologi tradisional plus dan maKsimal semi intensif . Kluster tembak pengusaha lebih fokus pada penerapan teknologi semi dan intensif.
Kluster milenial diserahi tugas menerapkan teknologi intensif dan supra intensif. Kemudian integrasi dengan teknologi IoT
(Intelegent of Thingking) agar terukur, efisien berdaya saing menjadi rana kluster ini.
Dari tiga kluster, maka kluster tambak rakyat yang paling kompleks. Persoalan sosial sering muncul antara lain perbedaan visi dan karakter, kemampuan dana, dan status lahan ( sedang dikontrakan).
Praktik klasterisasi tambak rakyat pernah dilakukan di Kabupaten Barru, Pinrang, Polmas (Sulawesi Selatan) pada awal tahun 2000-an. Hasilnya signifikan menigkat dari 100 - 200 kg /ha/musim tanam menjadi 400 - 700 kg/ha/musim tanam yang saat itu menabur udang windu
Tiga poin penting dari praktik klasterisasasi itu antara lain dipastikan benur yang akan ditabur benar benar sehat, menggunakan benur hasil nursery. Tidak kalah penting adalah persamaan visi terkait konsep klustetisasi.
Pengalaman Sulawesi Selatan, Equador menerapkan kluster tambak rakyat bisa menjadi pembelajaran berharga dalam menyusun modelling tambak rakyat yang berbasis kluster. Negara mesti hadir untuk ini.
Sebagai Negara Kepulauan beriklim tropis dan betgaris pantai terpanjang kedua, ditambah hasrat Presiden Prabowo Subianto akan menjadi raja udang global 2045 merupakan kekuatan yang dahsyat.
Dibutuhkan peta jalan yang benar benar terukur dan bisa diimplementasikan sebagai pedoman. Tidak lagi sekedar dokumen perencanaan yang bagus pada chasingnya. Sangat berharap peta jalan itu berfungsi seperti Google maps atau Waze.(***)
*) Penulis Dewan Pakar Udang Vaname Nasional, pengamat ekonomi dan pembangunan.
Editor : Muchsin Siradjudin