Oleh: SIGIT WIBOWO AM,SH
(Staf Kantor Satuan Polisi Pamong Praja Sulteng)
Disclaimer: Tulisan ini merupakan opini reflektif penulis yang bertujuan menggambarkan kegelisahan sosial dan kondisi kemanusiaan masyarakat pascabencana dan tekanan ekonomi. Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menyudutkan pihak tertentu, melainkan sebagai ajakan untuk introspeksi bersama, memperkuat empati, solidaritas, dan semangat gotong royong di tengah situasi yang penuh tantangan.
Di tanah yang berdiri di atas patahan bumi, warga Sulawesi Tengah khususnya masyarakat Pasigala barangkali telah terlalu akrab dengan kata “ujian”. Alam pernah mengguncang rumah-rumah mereka, laut pernah menelan harapan, dan tanah pernah bergerak melahap kehidupan. Namun, sejarah menunjukkan satu hal penting, masyarakat Sulawesi Tengah tidak pernah benar-benar menyerah.
Gempa bumi, tsunami, dan likuefaksi tahun 2018 bukan hanya menghancurkan bangunan fisik. Ia mematahkan banyak rencana hidup. Ada keluarga yang kehilangan rumah, pekerjaan, bahkan orang-orang tercinta dalam hitungan menit. Kota Palu, Sigi, Donggala Dan Sekitarnya berubah menjadi ruang duka yang panjang. Di tengah reruntuhan, masyarakat Pasigala belajar menerima kenyataan pahit bahwa hidup bisa berubah hanya dalam satu malam.
Baca Juga: Puting Beliung Poso Rusak 4 Rumah, Warga Terdampak
Tetapi manusia selalu memiliki naluri untuk bangkit.
Pelan-pelan masyarakat mulai menata ulang kehidupan. Ada yang membuka kembali kios kecilnya. Ada yang kembali ke sawah. Anak-anak kembali ke sekolah meski dengan fasilitas seadanya. Pemerintah dan masyarakat bergotong royong membangun hunian tetap, memperbaiki jalan, dan menghidupkan kembali denyut ekonomi yang sempat lumpuh.
Saat harapan itu mulai tumbuh, ujian berikutnya datang tanpa suara: pandemi Covid-19 yang mulai masuk ke Indonesia pada awal tahun 2020.
Baca Juga: Jaringan Telkomsel di Napu Terganggu, Kabel Fiber Optik Dipotong dan Infrastruktur Dicuri
Virus itu tidak mengguncang bumi, tetapi mengguncang dapur banyak keluarga. Aktivitas ekonomi melambat, usaha kecil tumbang, harga kebutuhan naik, dan banyak orang kehilangan pekerjaan. Warga yang baru pulih dari trauma bencana alam kembali dipaksa bertahan dalam ketidakpastian. Di banyak sudut Sulawesi Tengah, masyarakat hidup dalam dua beban sekaligus: menyembuhkan luka lama sambil menghadapi ancaman baru.
Pandemi mengubah banyak hal. Jalan-jalan yang dahulu ramai mendadak sepi. Sekolah ditutup. Aktivitas ibadah dibatasi. Banyak orang kehilangan orang tua, sahabat, atau rekan kerja (Akibat Covid 19) tanpa sempat mengucapkan perpisahan terakhir. Sebagian keluarga yang baru mulai bangkit pascabencana kembali jatuh dalam lingkaran kesulitan ekonomi.
Kini, ketika beberapa tahun pandemi mulai berlalu, ujian lain perlahan datang dari arah yang berbeda: tekanan ekonomi global.
Tanggal 15 Mei 2026 menjadi penanda kegelisahan baru. Nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah terus mengalami tekanan dan berada di kisaran Rp17.613 per dolar AS. Batas psikologis Rp18.000 terasa semakin dekat. Bagi sebagian orang, angka itu mungkin hanya deretan statistik ekonomi. Namun bagi rakyat kecil, itu bisa berarti harga sembako yang naik, biaya sekolah anak yang semakin berat, dan kekhawatiran tentang hari esok yang kembali menghantui.
Baca Juga: Jaringan Telkomsel Napu Sering Hilang, DPRD Sulteng Angkat Suara
Di warung-warung kecil, percakapan mulai dipenuhi keluhan tentang harga kebutuhan pokok. Di pasar, ibu-ibu mulai menghitung ulang belanja mereka. Di rumah-rumah sederhana, banyak kepala keluarga diam-diam memikirkan bagaimana caranya tetap terlihat kuat di depan anak-anak mereka.
Namun refleksi ini bukan untuk saling menyalahkan.
Bukan untuk menunjuk siapa yang paling benar atau siapa yang paling bertanggung jawab atas keadaan. Sebab dalam situasi seperti ini, semua lapisan masyarakat sesungguhnya sedang diuji dengan cara masing-masing. Rakyat kecil diuji kesabarannya. Pemimpin diuji kebijaksanaannya. Aparatur diuji integritas dan empatinya. Kaum muda diuji kepeduliannya. Bahkan mereka yang berkecukupan diuji rasa kemanusiaannya.
Mungkin inilah saatnya kita semua melakukan introspeksi diri.
Sebab kadang sebuah bangsa tidak runtuh karena gempa atau krisis ekonomi, tetapi karena hilangnya rasa saling memahami. Terlalu banyak kebisingan, terlalu sedikit kepedulian. Terlalu mudah menghakimi, terlalu sulit mendengar kesusahan orang lain.
Padahal masyarakat Pasigala sudah mengajarkan banyak hal tentang arti bertahan hidup. Mereka yang pernah kehilangan rumah justru tahu cara berbagi tempat berteduh. Mereka yang pernah berada di titik paling bawah justru lebih mudah memahami penderitaan sesama.
Di tengah situasi ekonomi yang tidak mudah, masyarakat sesungguhnya tidak selalu meminta kehidupan mewah. Mereka hanya ingin harga kebutuhan tetap terjangkau, pekerjaan tetap ada, anak-anak bisa sekolah dengan tenang, dan masa depan tidak terasa terlalu menakutkan.
Karena itu, krisis hari ini seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat rasa kebersamaan. Bahwa pemerintah tidak bisa berjalan sendiri. Bahwa masyarakat juga tidak bisa hanya berharap tanpa ikut menjaga persatuan, etika sosial, dan semangat gotong royong.
Warga Pasigala telah membuktikan bahwa mereka mampu bangkit dari gempa, tsunami, likuefaksi, dan pandemi. Tetapi manusia, sekuat apa pun, tetap memiliki batas kelelahan. Maka di tengah ancaman ekonomi global dan melemahnya rupiah, satu hal yang paling dibutuhkan bukan sekadar angka pertumbuhan ekonomi, melainkan hadirnya rasa saling menguatkan.
Sebab pada akhirnya, di atas tanah patahan ini, yang membuat masyarakat tetap bertahan bukan hanya bangunan yang berdiri kembali, tetapi hati manusia yang memilih untuk tidak saling meninggalkan.***
Editor : Muhammad Awaludin