Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

"Orang Miskin Tidak Bicara" , Berada Diantara  Data Valid,  dan Kepekaan 

Muchsin Siradjudin • Selasa, 28 April 2026 | 10:52 WIB
H. Hasanuddin Atjo (FOTO: ISTIMEWA/RADAR PALU).
H. Hasanuddin Atjo (FOTO: ISTIMEWA/RADAR PALU).

Oleh: Hasanuddin Atjo *)

MUSRENBANG RKPD  Provinsi Sulawesi Tengah tahun 2026  dihelat di Hotel De Syah  Palu, dibuka Gubernur Anwar Hafid   27/4/2026. 

Hadir dalam agenda tersebut sejumlah anggota DPRD dan DPD Dapil Sulawesi Tengah,  Forkompinda, Bupati-Walikota, OPD  Provinsi, Kab./Kota),  dan tamu undagan. 

Jumlah orang miskin jadi salah satu sorotan. Data BPS 2026 menunjukkan Penduduk Miskin Maret 2026  sebesar 10,52 persen. Angka ini hanya turun sebesar  0,40% dibandingkan periode Maret 2025.

Baca Juga: Transformasi Posyandu di Sigi: Dari Layanan Kesehatan Jadi Garda Depan Lawan Stunting dan Kemiskinan

​Berdasarkan  jumlah,  sekitar 345,38 ribu orang, hanya  berkurang sekitar 10,81 ribu jiwa dari periode sebelumnya, dengan ​kesenjangan wilayah
di ​Perkotaan sebesar  6,40 persen, ​dan Perdesaan 12,66 persen.

Seorang  dikatakan miskin di Sulawesi Tengah tahun 2026 apabila daya beli terhadap makanan dan minuman/bulan/kapita berada dibawah angka Rp664.691 dan disebut garis kemiskinan.

Garis ini akan dinamis,  sangat dipengaruhi angka inflasi yang diukur setiap bulan. Inflasi meningkat maka dipastikan garis kemiskinan meningkat. Karenanya inflasi menjadi salah satu variabel prioritas dijaga.

Baca Juga: PHI Nilai Strategi Pengentasan Kemiskinan Sulteng Belum Komprehensif

Satu tantangan datang  dari Gubernur Anwar  Hafid bahwa Pemerintah Provinsi Sulteng  berkeinginan menurunkan kemiskinan pada akhir 2029 sebesar 4 - 5 persen.  "Rasa malu" melatari keinginan ini, karena negeri kaya  arang miskinnya banyak. Bahkan di atas angka Nasional.

Target ini  tentu tidak mudah. Membutuhkan persamaan persepsi  dengan  Kab. dan Kota. Baik executive maupun legislative.  Provinsi tidak bisa lagi bekerja sendiri. Karena itu filosofi " Kereta Kuda" menjadi prinsip dalam perencanaan dan implementasi.

Komitmen menurukan angka itu harus dibangun dengan data yang sama. Kepekaan jadi kritikal poin yang perlu dikedepankan. Inilah yang jadi soal selama ini. Ditambah lagi kondisi fiskal yang menurun.

Baca Juga: Tekan Kemiskinan Ekstrem, Cikasda Sulteng Libatkan 168 Warga Lewat Program Padat Karya

"Orang miskin itu tidak banyak bicara", mereka  banyak diam, kata Anwar Hafid.  Karena itu pemimpin di daerah (Kepada Desa hingga Gubernur) mesti lebih  sensitif terhadap nasib dan  keberadaan  mereka.

Mereka  tidak lagi  butuh janji, mereka butuh eksekusi. Dijanji dengan 1 kg emas tahun ini dan 1 kg beras  hari ini, maka yang akan dipilih adalah 1 kg beras. Artinya makan menjadi kebutuhan super mendesak.

Data valid telah tersedia yang disebut  DTSEN  (Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional). Sudah  sangat rinci by name by adress, diengkapi dengan foto individu/keluarga serta kondisi rumah  dan pekerjaan.

Baca Juga: Akselerasi Perekonomian Sulteng Diprediksi Terus Berlanjut Hingga 2024

Mereka dibahagi menjadi 10 Desil, yaitu pengelompokan berdasar pendapatan dari yang  paling rendah hingga paling tinggi dalam 1 Desa dengan  kriteria baku.

Desil 1 nerupakan 10 persen pertama di satu Desa yang berpendapatan paling rendah,  disebut kemiskinan ekstrem. Demikian seterusnya hingga dengan  Desil 10.

Terakhir bahwa pengentasan harus menggunakan satu data  yang telah tersedia. Namun data  hanya angka. Semua berpulang kepada kepekaan, kepedulian  dan Komitmen.(***)

Editor : Muchsin Siradjudin
#Jumlah orang miskin #Kesenjangan wilayah perkotaan #Musrenbang #sulawesi tengah