Oleh: Prof. Dr. KH. Zainal Abidin, M.Ag.
( Guru Besar sekaligus Pakar Pemikiran Islam Modern UIN Datokarama )
Idul Fitri yang baru saja kita lakukan merupakan simbolisasi dari kesuksesan kita menghidupkan ibadah-ibadah di bulan Ramadhan. Oleh karena itu, pelajaran berharga dari Idul Fitri yang kita rayakan merupakan akumulasi dari pelajaran-pelajaran ibadah puasa, shalat, dan zakat kita di bulan Ramadhan. Selama 720 jam, Ramadhan sebagai suatu madrasah ruhaniah, spiritual training, telah menggembleng kita untuk memahami prinsip kesuksesan hidup yang hakiki dan cara meraih kesuksesan itu.
Setiap ibadah termasuk ibadah puasa, didalamnya terkandung pesan moral bahkan begitu mulianya pesan moral ini, Rasulullah SAW menilai “harga” suatu ibadah itu dinilai dari sejauhmana kita menjalankan pesan moral yang dikandungnya. Apabila ibadah itu tidak meningkatkan akhlaq kita, Nabi SAW mengingatkan bahwa ibadah itu tidak bermakna. Dengan kata lain, kita tidak mengamalkan pesan moral ibadah itu.
Bulan ramadhan adalah bulan untuk mengasah kepekaan sosial, memupuk kesadaran akan kepedulian terhadap sesama, dan berempati terhadap kaum dhu’afa. Setelah merasakan lapar- dahaga sebulan penuh, ramadhan ditutup dengan kewajiban menunaikan zakat fitrah. Ada pesan tegas yang tersirat bahwa diluar sana banyak orang yang saban hari merasakan lapar-dahaga, maka santunilah mereka.
Dalam hadis disebutkan; ”kalian diberi rizki dan ditolong oleh orang-orang miskin di antara kalian”. Nabi mengingatkan, jika kita menikmati fasilitas, keleluasaan, kesenangan, kenikmatan, ingatlah orang miskin. Bila kita memberikan sebahagian kesenangan itu kepada mereka, janganlah dianggap sebagai anugrah, karena memang itu adalah haknya. Sebaliknya, bila kita tidak peduli terhadap derita mereka, apalagi merebut peluang mereka untuk hidup layak, berarti kita telah berbuat zhalim.
Alangkah indahnya dialog dalam Al-Qur’an antara penduduk surga dan penghuni neraka: Apa yang menyebabkan kamu masuk neraka? Jawab mereka; kami tidak pernah shalat dan tidak memberi makan orang miskin”.
Selain anjuran agama untuk membantu kaum dhu’afa dan fakir miskin Islam sangat menganjurkan umatnya untuk membangun kehidupan yang harmoni melalui toleransi sosial dengan memperbaiki hubungan bertetangga. Nabi Saw, memberi teladan tentang hubungan bertetangga antar iman, bahkan begitu istimewanya para tetangga sampai-sampai para sahabat Nabi mengkhawatirkan jangan-jangan para tetangga itu akan mendapatkan warisan dari tetangganya yang meninggal. Nabi bersabda : “Tidak beriman kepadaku kata nabi orang yang tidur dalam keadaan kenyang sementara tetangganya dalam keadaan lapar dan ia mengetahuinya”.
Dari hadis diatas kita dapat memetik pelajaran berharga bahwa dalam bertetangga Nabi tidak pernah memilah dan memilih berdasarkan suku, ras, agama golongan dan seterusnya. Tetangga adalah orang yang pertama kita tuju, tatkala kita membutuhkan bantuan. Bertetangga adalah menjalin hubungan sosial kemasyarakatan dan itu ada prinsip-prinsip universalnya yaitu tolong menolong tanpa pamrih dan tidak saling mengganggu, itu pulalah yang menyebabkan Islam bisa diterima dan tumbuh di tengah- tengah populasi mayoritas non muslim, mereka bisa hidup damai dan saling menolong antar-tetangga, antar suku serta antar iman. Harmoni ini tumbuh dengan semaian iman yang ikhlas dan dibingkai dengan kejujuran, retaknya hubungan bertetangga bisa berakibat fatal.
Harmoni kehidupan bertetangga adalah modal sosial yang perlu dipupuk dan ditumbuhkembangkan. Kearifan universal bertemu dengan kearifan lokal. Tak ada keberhasilan pembangunan tanpa didukung oleh keharmonisan para pelakunya yang lintas etnis, ras, agama, profesi dan seterusnya.
Karena itu langkah awal terciptanya toleransi sosial adalah dengan memperbaiki hubungan bertetangga, dari hal yang kecil, berbagi makanan dengan niat ikhlas dan kejujuran sikap. Dan itu secara universal dianjurkan oleh ajaran agama-agama dunia. Nabi dan para sahabatnya memberi contoh yang begitu agung dan indah.
Hubungan antar umat beragama berada pada tataran hubungan sosial kemasyarakatan tidak memasuki wilayah akidah karena tiap-tiap agama punya garis batas untuk wilayah akidah ini. Begitu pula dalam Islam ada pembeda dan itu perlu dihormati dengan cara tidak dicampuradukkan yang mengakibatkan disharmaoni. Islam punya perinsip yang jelas, ”lakum dienukum waliyadiyn” bagimu agamamu dan bagiku agamaku. Soal kepercayaan adalah soal masing-masing dan itu akan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan di akhirat kelak, tugas kita adalah berupaya agar harmoni tetap terjaga dan kerukunan dapat ditumbuh kembangkan.
Tugas kita bukanlah untuk membuktikan bahwa agama kita yang paling benar tetapi untuk menunjukan bahwa kita mampu menebar kebajikan kepada sesama makhluk tuhan karena kita adalah umat yang beragama.
Salah satu sifat yang dicontohkan Nabi Muhammad saw. sebagai pengejawantahan dari misi kerahmatan yang diemban oleh beliau adalah sikap toleransi, dan sebagai umat Muhammad, kita adalah penerus pengemban misi tersebut. Sikap saling menghormati dan menghargai sesama warga masyarakat serta tidak saling mencurigai adalah cerminan dari seorang Muslim sejati. Sikap ini pun diteladankan oleh Nabi Muhammad saw, antara lain, misalnya, ketika lewat iringan jenazah seorang Yahudi, Rasulullah berdiri untuk memberi penghormatan.
Salah satu pesan moral yang tersirat dari kisah di atas adalah setiap manusia hendaknya menyadari, kita semua memiliki nilai kemanusiaan (fitrah) yang sama meski berbeda agama, ras, budaya, dan golongan. Di dalam jasmani manusia terdapat ruh Ilahi yang serupa, yang dititipkan untuk menjadi motor kehidupan.
Oleh karena itu, sikap toleransi, saling memahami, menghormati, dan menghargai harus senantiasa dikedepankan Sikap ini mesti menyemangati proses interaksi dan pergaulan antar sesama. Bahkan, ketika ruh tersebut kembali ke pangkuan Tuhan dan yang tertinggal hanya jasad, kadar penghormatan itu tidak boleh surut. Kemuliaannya tetap abadi dan memantulkan sinar keabadian. Inilah yang membuat Rasulullah saw. tetap tegak dan memberi hormat kepada jenazah Yahudi.
Inti dari ajaran Islam setelah beriman kepada Allah, adalah kesempurnaan moral atau akhlak. Rasulullah saw menegaskan dalam sabdanya: ”sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurkan keluhuran akhlak”. Artinya, iman dan akhlak adalah dua hal yang tak terpisahkan. Akhlak mulia adalah manifestasi yang terpancar dari iman yang kokoh.
Sebuah pertanyaan yang mesti menjadi bahan renungan bagi kita bersama: apakah kita sudah benar-benar beriman atau baru sekedar beragama? Karena fakta menunjukkan bahwa banyak orang beragama, tapi kejahatan terus terjadi, korupsi dan fitnah merajalela, etika-moral merosot, hingga pada taraf yang paling ekstrim menghilangkan nyawa orang-orang tak berdosa. Bukankah ini wujud keberagamaan tanpa iman? Mengapa keberagamaan tampil dalam wujud yang menyeramkan? Mengapa keberagamaan seakan kehilangan nafas “iman”. Artimya, beragama dan beriman adalah dua hal yang berbeda.
Orang yang “beragama” adalah orang yang rajin ibadah ritual, terkadang penampilannya terlihat (sengaja diperlihatkan), menampilkan simbol-simbol agama. Sementara, orang beriman adalah, orang yang “percaya dan bertindak” sejalan dengan nilai- nilai iman.
Ketika orang-orang Arab Badui menyatakan bahwa mereka adalah orang beriman, Allah swt membantahnya, sebagaimana diilustrasikan dalam Q.S. al- Hujurat ayat 14:
“Orang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah: “Kamu belum beriman, tapi katakanlah ‘kami telah tunduk (ber- Islam/beragama)’, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
Ada perbedaan antara orang “beragama” dengan orang beriman, antara lain:
Orang “beragama” adalah orang yang percaya bahwa Tuhan itu “Ada”. Sedangkan orang beriman adalah orang yang percaya bahwa Tuhan itu “Hadir”. Orang melakukan perbuatan jahat, karena berpikir bahwa Tuhan itu ada, tapi dia tidak merasakan kehadiran-Nya. Orang beriman merasakan kehadiran Tuhan di manapun dia berada”.
Orang “beragama” selalu merasa paling suci dan paling Sedangkan orang beriman selalu melihat semua orang adalah setara, semua punya kelebihan dan kekurangan.
Orang “beragama” adalah orang yang mudah melihat perbedaan, dan sensitif dengan Sedangkan, orang beriman adalah orang yang mudah melihat persamaan, mau menerima perbedaan, dan mau mendengarkan orang lain.
Orang “beragama” selalu mementingkan simbol-simbol agama dan ritual agama semata. Sebaliknya, orang beriman adalah orang yang menyembunyikan ibadahnya dari orang lain, dan mempraktekkan imannya dimanapun dan kapanpun.
Orang “beragama” adalah orang yang baik dalam urusan ibadah ritual semata, sedangkan orang beriman adalah orang yang baik dalam semua urusan, karena menganggap semua urusan sebagai ibadah.
Tapi harus dicatat, kriteria di atas hendaknya tidak digunakan dalam menilai orang lain, tetapi digunakan untuk menilai diri masing-masing: apakah kita termasuk orang “beragama” atau orang beriman.
Tidak dapat disangkal, ditolak, apalagi dinafikan bahwa kebhinekaan dalam segala hal di dunia ini adalah fakta yang tak terbantahkan. Bahkan, merupakan sunnatullah dan bagian dari tanda-tanda Kemahakuasaan Tuhan. Dia-lah yang betul-betul Esa, dan selain-Nya mengandung kebhinekaan.
Bentuk kebhinekaan yang terlihat sangat jelas dan terkait langsung dengan manusia di muka bumi ini adalah kebhinekaan dalam pikiran, budaya, bahasa, ras, etnis, suku, bangsa, warna kulit, adat istiadat, agama, kecenderungan politik, dan sebagainya. Kebhinekaan tersebut merupakan bagian dari dinamika manusia sekaligus faktor-faktor yang mengandung ambivalensi pada dirinya. Di satu sisi, kebhinekaan itu bisa menimbulkan konflik dan permusuhan. Akan tetapi di sisi lain, kebhinekaan tersebut justru bisa membawa kepada harmoni, persaudaraan, dan integrasi.
Setiap upaya mengeliminasi kebhinekaan itu menimbulkan permasalahan besar. Upaya seperti itu, di samping menentang sunnatullah, juga bertentangan dengan fitrah manusia dan tidak sejalan dengan prinsip universal, yakni bahwa persatuan dan kesatuan harus dibangun dalam kebhinekaan.
Fanatisme kelompok, betapapun suci dan luhur landasannya cenderung membekukan kemampuan berpikir dan berwawasan. Apalagi mengatasnamakan keluhuran nilai-nilai agama untuk mendapatkan legitimasi. Semua agama selalu menekankan semangat kasih sayang, toleransi, dan hormat- menghormati. Kekerasan, apapun dalih dan bentuknya tidak pernah mendapatkan pembenaran, dan karenanya merupakan musuh bersama. Allah swt. berfirman di dalam QS. al-Syuuraa, 15:
“Maka karena itu serulah (mereka kepada agama itu) dan tetaplah sebagaimana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka dan katakanlah: “Aku beriman kepada semua Kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan supaya berlaku adil di antara kamu. Allah-lah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu. Tidak ada pertengkaran antara kami dan kamu, Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nyalah kembali (kita)”.
Ayat ini seiring-sejalan dengan firman Allah lainnya, yakni di dalam QS. Al-Maidah, 48:
Kedua ayat tersebut merupakan pedoman yang sangat konsepsional tentang bagaimana berinteraksi dengan sesama Muslim; dengan sesama manusia yang berlainan etnis dan agama. Dengan demikian, sesungguhnya ajaran mengenai kerukunan antar umat yang beragama bukanlah hal yang baru. Keragaman, di samping diakui secara tegas oleh Islam sebagai bagian dari sunnatullah yang tidak bisa didistorsi, juga harus diterima dan dihormati sebagai anugerah besar dari Tuhan. Dunia yang beragam adalah dunia yang indah. Masyarakat yang beragam adalah masyarakat yang dinamis dan kreatif karena selalu termotivasi untuk berlomba dan bersaing untuk meraih kehidupan yang lebih baik (ber-fastabiq al-khayraat).
Persaingan-persaingan seperti inilah yang sebenarnya merupakan pangkal dari munculnya berbagai konflik kalau manusia tidak memiliki kesadaran yang dalam mengenai nikmat keragaman. Kesadaran dimaksud adalah bahwa setiap orang atau kelompok mestinya menyadari bahwa orang atau kelompok memiliki hak yang sama untuk menikmati kehidupan secara bebas dan damai, dan juga berhak atas penghormatan, pengakuan, kesempatan bekerja, dan berekspresi; kebebasan untuk menganut agama dan keyakinan, dan sebagainya.
Pada sisi lain, kesatuan umat Islam tidak berarti dileburnya segala perbedaan atau ditolaknya segala ciri dan sifat yang dimiliki oleh individu, kelompok, asal, keturunan atau bangsa. Kesatuan tidak mesti harus seragam, tetapi terwujudnya harmoni dalam keragaman.
Di Madinah Rasulullah menggagas suatu konstitusi modern secara bersama untuk melindungi semua warga Madinah dari prilaku bar-bar yang anti kedamaian. Orang Islam, Nasrani dan Yahudi semuanya dilindungi oleh Islam agar tidak mendapatkan perlakuan keras dari siapapun juga dan atas nama apapun juga yang tidak sesuai dengan konstitusi. Piagam Madinah adalah konstitusi modern pertama di dunia yang dipraktekkan langsung oleh Rasulullah untuk menghormati perbedaan dan menghargai perdamaian.
Ibnu Katsir dalam bukunya Al-bidayah wa An-Nihayah bahwa umat islam dan nasrani pernah melaksanakan ibadah mereka dalam satu gedung. Kedua umat masuk ke gedung itu dari satu pintu yang sama kemudian penganut agama kristen melakukan kebaktian dengan mengarah ke Barat dan umat Islam ke arah Ka’bah. Ini berlangsung selama 70 tahun dan baru berpisah dengan kesepakatan kedua pihak, dan sejak itu gedung tersebut menjadi masjid dan kini dikenal dengan Masjid Al-Umawy di Damaskus yang dibangun khusus sebagai masjid oleh Al- Walid bin Abdul Malik yang ketika itu menjadi penguasa dinasti bani umayyah. Apa yang terjadi ini sejalan atau senada dengan izin nabi saw. bagi delegasi najran melaksanakan kebaktian mereka di masjid nabi saw. di Madinah.
Keadaan serupa terjadi di Hamesh, satu kota diwilayah suriah. Di sana ada kuil yang dibagun pada masa Romawi, Kuil Matahari, dan merupakan salah satu kuil yang sangat diagungkan oleh orang-orang Romawi pada masa itu. Kuil ini kemudian dijadikan sebagian dari bangunannya sebagai tempat kebaktian ketika agama kristen menyebar di sana, lalu dalam perjalanan sejarah ketika islam tersebar, maka bagian dari lain kuil itu, dijadikan masjid oleh umat islam.
Keberdampingan umat islam dan kristen menggunakan satu bangunan untuk tujuan ibadah/kebaktian berlanjut selama dua abad, bahkan sementara pakar berpendapat bahwa penganut agama majusi pun menggunakan bagian yang tadinya merupakan kuil itu, sebagai tempat ibadah mereka. Demikian tiga agama berdampingan dalam menggunakan satu bangunan.
Nabi bersabda, ”المعاملة ألدين” Agama interaksi harmonis. Semakin baik interaksi seseorang, semakin baik keberagamaannya. Dalam konteks kemasyarakatan, tidak mungkin suatu masyarakat dapat maju dan berkembang tanpa jaminan harmonis antar anggotanya, jalinan yang menyebabkan mereka bekerjasama, semakin banyak manfaat yang mereka raih.
Sebaliknya masyarakat akan runtuh dan mencapai ajalnya ketika hubungan mereka tercabik, karena ketercabikan menguras tenaga dan pikiran, bukan saja mereka tidak dapat melangkah bersama tetapi tidak dapat melangkah maju sama sekali.
Seorang yang beriman harus selalu merasa bersama orang lain ia harus memiliki kesadaran sosial. Nabi saw bersabda ”hendaklah kamu selalu bersama, karena serigala hanya menerkam domba yang sendirian”. Keakuan seorang muslim harus lebur secara konseptual bersama aku-aku lainnya sehingga ketika muslim menjadi seperti yang digambarkan oleh Nabi saw, seperti jasad, bila ada satu yang sakit yang lain juga merasakannya.
Ajaran-ajaran tersebut di atas, bukan hanya diajarkan oleh Islam, tetapi juga merupakan ajaran agama yang ada di dunia. Olehnya itu, jika setiap pemeluk agama masing- masing menjalankan ajaran agamanya dengan baik, benar, dan utuh, pasti akan melahirkan sikap toleran, saling menghormati hak-hak orang lain, tolong-menolong sesama manusia, dan menghargai kebebasan beragama. Inilah yang disebut oleh pakar agama dengan sebutan ”mewujudkan tata dunia baru agama-agama” yaitu agama yang datang bukan untuk peperangan atau permusuhan, tetapi perdamaian dan kemaslahatan serta kesejahteraan umat manusia.
Pesan persaudaraan kemanusiaan ini telah dikumandang- kan oleh Rasulullah saw dalam khutbah wada’ (perpisahan) tatkala wukuf di Arafah:
“Wahai manusia, tidak ada perbedaan antara orang Arab dengan bukan Arab, orang putih dengan orang hitam, kecuali takwanya. Manusia adalah anak cucu Adam, dan Adam (diciptakan) dari tanah”.
Biarlah ada perbedaan keyakinan. Biarlah masing-masing memiliki cara berdoa sendiri-sendiri. Biarlah Tuhan disebut dengan bermacam-macam nama. Biarlah Tuhan dilukiskan dengan bermacam-macam bentuk. Biarlah kemuliaan Tuhan dinyanyikan dalam semua bahasa dan dalam keanekaragaman lagu. Biarlah semua tumbuh dengan subur karena yang kita cari sesungguhnya adalah rahmat Tuhan.
Mari kita renungkan, hayati dan amalkan pesan Rasulullah sebagai berikut:
“Janganlah kamu berdengki-dengkian, bermusuh-musuhan dan bertolak belakang, tetapi jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara”
Bahagiakanlah dirimu dengan membahagian orang lain, karena kebahagiaan itu ibarat Suluh yang nyalanya akan semakin terang ketika membagikan apinya kepada orang lain.
Hidup ini Indah apabilah kita Bahagia, namun akan lebih Indah lagi ketika orang lain Bahagia karena kita.
Akhirnya, semoga bangsa dan negara serta seluruh rakyat Indonesia dalam keadaan damai, tenteram dan sejahtera dalam kasih dan lindungan Allah swt., sehingga terwujud toleransi dan solidaritas antar sesama anak bangsa, yang menjadi modal utama dalam membangun suasana yang harmonis untuk menyongsong hari esok yang lebih baik.*
Editor : Wahono.