Oleh: Hasanuddin Atjo *)
NEO Energi Parimo Industrial Estate (NEPIE), adalah Projek Strategis Nasional (PSN) telah ditetapkan Pemerintah Pusat, sejak Oktober tahun 2024. Saat ini menginjak tahun ke tiga, dan diharapkan projek ini segera diimplementasikan.
Industri memproduksi baterai penggerak motor berbahan baku nikel itu, berada di Kecamatan Siniu, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo) sekitar 100 km dari arah Kota Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng).
Kini telah menjadi perhatian dan diharapkan mampu mentriger masuknya investasi baru pada sektor lain.
PSN ini dirancang berbeda dari yang lain, karena akan menggunakan green energi sebesar 145 MW (mega watt) dari PLTA yang akan dibangun di Banggaipa, Kulawi, Kabupaten Sigi dengan berkapasitas 312 MW.
Kehadiran dua PSN ini menjadi berkah bagi Pemerintah dan masyarakat Sulawesi Tengah, karena akan memicu laju dan pemerataan pertumbuhan di daerah yang kaya SDA, namun angka kemiskinan tergolong masih tinggi, sekitar 10,52 persen per bulan September 2025.
Kehadiran PSN ini, tidak serta merta akan memicu laju dan distribusi pertumbuhan pada 17 sektor pada 13 wilayah di kabupaten/kota dengan total penduduk akhir tahun 2025 mencapai 3.156.100 jiwa.
Kesemuanya berpulang pada kreatifiras daerah bagaimana merancang kebijakan agar sektor ekonomi lainnya ikut bergerak, yang kemudian mengurangi kemiskinan dan menciptakan lapangan kerja.
Pengalaman PSN Sebelumnya, PT. IMIP di Morowali dan Dongi Sinoro di Banggai pada satu sisi mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang luar biasa hingga mencapai angka dua digit.
Namun pada sisi lain, hadirnya dua PSN tersebut belum bisa memberi dampak pada sektor strategis lainnya seperti Agro-Maritim dan Parawisata yang notabenenya akan menyerap banyak tenaga kerja.
Berdasarkan rencana strategis (renstra) pembangunan sektor ekonomi Provinsi Sulawesi Tengah periode tahun (2024-2029), dibagi menjadi empat klaster utama yaitu (1). Klaster Agropolitan, fokus pengembangan pertanian tanaman pangan (padi dan jagung), perkebunan (kakao, kelapa), dan hortikultura.
Sebagai wilayah utama Kabupaten Parigi Moutong, Sigi, Poso, dan Donggala, dengan target peningkatan nilai tambah produk pertanian melalui perbaikan produktifitas pasca panen dan hilirisasi.
(2). Klaster Pertambangan dan Energi, fokus terhadap pengelolaan sumber daya mineral yang masif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, seperti pengolahan nikel, bijih besi, dan energi terbarukan.
Wilayah utama kluster ini, Kabupaten Morowali dan Morowali Utara (Morut) dengan target melanjutkan program hilirisasi industri agar tidak mengekspor lagi bahan baku, dan lebih pada industri berbasis green energy.
(3). Klaster Pariwisata, fokus akan mengembangkan potensi wisata alam dan budaya yang bertaraf internasional, seperti wisata bahari, ekowisata, dan situs megalitikum.
Kabupaten yang menjadi lokus utama adalah Tojo Unauna (Kepulauan Togean), serta Kabupaten Poso (Lembah Bada, situs Megalitikum).
Efek domino yang diharapkan menarik investasi di sektor perhotelan dan jasa, serta meningkatkan konektivitas transportasi udara dan laut.
(4). Klaster Kelautan dan Perikanan. Memanfaatkan keunggulan komparatif dari panjang garis pantai serta 4 WPP RI (wilayah pengelolaan perikanan) selat Makassar,
Mengambil keuntungan dari garis pantai yang panjang dan kekayaan laut di Teluk Tomini, Teluk Tolo, Selat Makassar, dan laut Sulawesi. Dengan basis komoditi udang vaname, tuna cakalang, rumput laut, dan industri prosesing ikan.
Harapannya akan menjadikan Sulawesi Tengah salah satu pusat ekspor produk kelautan dan perikanan di wilayah timur Indonesia, yang selama ini bertumpu pada Jawa Timur dan Sulawesi Selatan.
Kehadiran PSN NEPIE-Parimo dan PLTA Banggaipa-Sigi dinilai bisa mentriger tumbuh dan berkembangnya empat kluster ekonomi yang termuat dalam renstra periode 2024-2029.
Gubernur Anwar Hafid yang pada saat ini didampingi oleh tim percepatan perioritas pembangunan Sulteng, bersama Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) sementara mendiskusikan bagaimana rancangannya agar kehadiran dua PSN itu dapat mentriger berkembangnya sektor-sektor strategis lainnya.
Baca Juga: Anggaran Bus Trans Palu Rp8,5 Miliar Disepakati DPRD, Muncul Rp10,9 Miliar Hanya untuk Enam Bulan
Terakhir, bahwa kepedulian dan dukungan semua pihak sangat diharapkan, agar pelaksanaan dua PSN ini tidak menghadapi kendala "diciptakan" dikarenakan oleh adanya kepentingan tertentu. SEMOGA.
*) Penulis adalah Dewan Pakar Udang Vaname, ahli pertanian, pengamat ekonomi dan sosial.
Editor : Muchsin Siradjudin