Oleh: Hasanuddin Atjo *)
NEO Energi Parimo Industrial Estate (NEPIE) merupakan kawasan industri hijau (green industrial estate), berlokasi di Desa Siniu dan Tawera, Parigi Moutong (Parimo), Provinsi Sulawesi Tengah.
Proyek dengan luas kawasan 2500 ha resmi ditetapkan oleh Pemerintah pusat sebagai satu diantara Proyek Strategis Nasional (PSN) sejak Oktober 2024. Diharapkan segera diimplenentasikan.
PSN-NEPIE dirancang fokus sebagai pusat hilirisasi nikel, khususnya untuk memproduksi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), sebagai bahan baku utama produksi baterai untuk kendaraan dan motor listrik lainnya.
PSN ini, sengaja dirancang menggunakan energi hijau (minim polusi), memanfaatkan pembangjkit Listrik tenaga air (PLTA) Banggaipa, menjawab tuntutan global terkait SDGs (Sustainable Develovment Goals)
Banggaipa terketak di wilayah Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi dengan potensi energi sebesar 312 MW (megawatt) dan langsung dipergunakan untuk mensuplai PSN - NEPIE sebesar 145 MW.
Kehadiran PSN-NEPIE serta PLTA Banggaipa diharap bisa berimbas dan memicu sektor lain berkembang, seperti industri pangan, transportasi dan parawisata.
Kawasan Pangan Nusantara (KPN) Talaga, Kabupaten Donggala (selat Makassar) sekitar 1.400 hektare, yang pernah disiapkan oleh Gubernur Rusdi Mastura idealnya dirancang menjadi pusat hilirisasi pangan atau semacam KEK Pangan.
Rencana pembangunan jalan bebas hambatan Kasimbar (teluk Tomini) dengan Tambu (selat Makassar), menjadi logik disegerakan nenunjang tujuan akses baterai dan komoditi pangan bahkan pariwisata.
Bahan baku baterai Lithum asal Morowali dan Morowali utara akan ideall bila diangkut mengintegrasikan tol darat dan laut. Dari teluk Tolo, bahan baku memakai tol darat ke teluk Tomini sisi timur (Poso atau Tojo Unauna) dan selanjutnya menuju ke teluk Tomini pada sisi barat, NEPIA (Parigi Moutong).
Dengan skenario seperti itu, maka akan berdampak pada perumbuhan ekonomi inklusif (merata pada semua wilyah), dan bisa menekan disparitas pertumbuhan ekononi karena pengaruh industri pengelohan dan penggalian ( Morowali, Morowali Utara dan Banggai).
Terbangunnya aksesbilitas yang baik dan nyaman akan memberi dampak sektor lain seperti seperti UMKM, jasa akomodasi dan trabsportasi pada senua wilayah. Kesemuanya akan menyerap tenaga kerja sekaligus bisa mengurangi kemiskinan.
Selanjutnya rencana ini harus dilengkapi dengan satu kajian lingjungan komprehensif dan inplementatif. Utamanya pada projek strategis di Kabupaten Parimo, Sigi, Donggala, serta Morowali dan Morut.
Gubernur Anwar Hafid pada awal tahun 2026, membentuk tim Percepatan Pembangunan Prioritas Sulawesi Tengah dan diberi rperan untuk membantu percepatan realisasi program 9 BERANI yang terlihat mulai memberi manfaat, meski tidak luput dari hambatan dan akan jadi bahan koreksi.
Tim ini bersama Bappeda dan OPD yang terkait, atas arahan Gubernur Anwar Hafid akan menyusun satu feasibiliti studi dan rencana aksi atas dampak dua projek strategis (Neo Energi Parimo dan PLTA, Sigi), termasuk target capaian Blue Ekonomi maupun Green Ekonomi Sulteng. SEMOGA
*) Penulis adalah pakar udang Indonesia, pengamat dan pemerhati pertanian, ekonomi dan pembangunan.
Editor : Muchsin Siradjudin