RADAR PALU - Nama adalah doa, namun seringkali nama juga menjadi beban sejarah. Satya Alief Allende, lahir di Parigi, 20 Juli 2003, menyandang nama yang berat.
"Satya" bermakna kesetiaan/kebenaran, "Alief" simbol ketauhidan (huruf pertama), dan "Allende" (merujuk pada Salvador Allende Presiden Chili yang menjabat sejak November 1970 hingga 11 Septenber 1973.
Ia presiden yang berlatar belakang sosialis pertama yang terpilih secara demokratis dalam Pemilihan Umum yang dilaksanakan secara Demokratis, namun pada akhirnya ia meninggal dalam kudeta yang dipimpin oleh Jenderal Augusto Pinochet yang berbalik melawannya atas dukungan AS. menyiratkan jiwa perlawanan dan keberanian.
Kombinasi nama ini seolah menjadi cetak biru bagi jalan hidupnya yang penuh kelokan tajam: dari turbulensi masa remaja, kedalaman spiritualitas Hafiz, hingga ketegasan seragam cokelat kepolisian.
Berikut adalah bedah analitik terhadap fase-fase krusial kehidupan Satya Alief Allende.
1. Fase Turbulensi:
Energi Dominan yang Tak Terkanalisasi
Masa kecil hingga remaja awal Satya di Parigi (SD Mbaliara) namun saat SMP, iya mengikuti sang ayah melanjutkan sekolah di SMP Negeri 4 Palu, setamat SMP, kembali ke Parigi melanjutkan pendidikan SMAnya di SMAN 1 Parigi) menampilkan gejala klasik dari apa yang dalam psikologi disebut sebagai High-Energy Child with Leadership Traits.
Perilaku "unik"—mulai dari memblokir teman makan dengan mistar sebelum bekalnya datang, menangis saat nilai akademiknya kalah, hingga hobi berkelahi dan mengusili Polisi Lalu Lintas—bukanlah sekadar kenakalan remaja biasa.
Secara analitis, ini adalah manifestasi dari:
• Dominasi Ego: Keinginan untuk mengontrol situasi (kasus mistar) dan tidak mau kalah (kompetisi nilai).
• Resistensi terhadap Otoritas: Keberanian mengusili Polantas menunjukkan ketiadaan rasa takut terhadap simbol kekuasaan, sebuah trait yang paradoksnya sangat dibutuhkan oleh seorang penegak hukum yang berani.
• Energi Surplus: Perkelahian fisik adalah cara primitif menyalurkan energi berlebih yang belum menemukan wadahnya.
Baca Juga: Reformasi Birokrasi di Parigi Moutong: Antara Integritas dan Loyalitas yang Absurd
Pada fase ini, Satya adalah "bahan baku" yang berbahaya. Tanpa intervensi yang tepat, profil psikologis seperti ini bisa berujung pada kriminalitas atau kerusakan sosial.
Pengakuannya kepada sang ayah untuk pindah ke pesantren ("takut bertambah rusak") adalah momen kesadaran diri (self-awareness) yang luar biasa dini dan cerdas.
2. Fase Transmutasi: Pesantren sebagai Kawah Candradimuka
Keputusan masuk ke SMA-IT Qurota Aayun Sigi adalah titik balik (turning point) paling radikal. Di sinilah terjadi "transmutasi energi". Energi liarnya yang dulu digunakan untuk berkelahi, dialihkan sepenuhnya untuk menghafal Al-Qur'an.
Capaian Hafiz 30 Juz dalam 18 bulan adalah bukti statistik kecerdasan (IQ) di atas rata-rata dan daya tahan (endurance) mental yang baja.
• Analisis Transformatif: Pesantren tidak mematikan keberaniannya, tetapi menundukkan egonya. Satya membuktikan bahwa "kenakalan" masa lalunya bukan karena cacat karakter, melainkan karena ketiadaan tantangan yang cukup besar untuk menampung kapasitas otaknya.
Al-Qur'an menjadi tantangan yang menaklukkannya.
3. Dialektika Mimpi: Ayah, Ibu, dan Jalan Tuhan
Konflik narasi terjadi pasca-SMA. Dedi Askary (Ayah) memproyeksikan egonya dan sejarah keluarga (Opa Alif, Purn. Polri) agar Satya masuk AKPOL.
Sementara Satya, yang sedang mabuk agama, memilih jalur asketis (gaya hidup atau paham yang mempraktikkan disiplin diri ketat dan penolakan kenikmatan duniawi (materi, nafsu) untuk mencapai tujuan spiritual atau kesempurnaan diri, dengan cara latihan rohani seperti puasa, uzlah, dan kesederhanaan, yang ditemukan di berbagai agama seperti Kristen, Islam (zuhud, tasawuf), dan lainnya ) STIBA Makassar dan mimpi ke Madinah.
Di sini terlihat peran Rahmawaty Karandja (Ibu) sebagai katup penyeimbang. Restu ibu menjadi tiket Satya menuju STIBA, sementara sang ayah harus menelan pil pahit realitas bahwa anaknya memilih jalan ulama, bukan umara.
Namun, drama sesungguhnya terjadi pada fenomena "pulang kampung". Keputusan Satya untuk berhenti dari STIBA dan tiba-tiba ingin tes AKPOL ("Tiba masa tiba akal") menunjukan dua hal:
1. Insting Pemburu: Satya menyadari bahwa "medan perang" sesungguhnya baginya mungkin bukan di mimbar dakwah verbal, melainkan di lapangan penegakan hukum.
2. Kekuatan Spiritual (Istikharah): Satya tidak mengambil keputusan berdasarkan logika pragmatis semata, melainkan sandaran transendental. Kalimat "Kaka sudah sholat istikharah" menjadi senjata pamungkas yang melumpuhkan keraguan logis ayahnya.
3. Manifestasi Nazar:
Konspirasi Semesta
Narasi tentang nazar Dedi Askary (seekor kambing jantan saat kelahiran Satya untuk niat masuk AKPOL) memberikan dimensi spiritual yang mistis namun nyata.
Secara analitik, keberhasilan Satya menembus AKPOL—meski tanpa persiapan fisik "gila-gilaan" ala sang ayah anak-anak lain yang berniat mengikuti seleksi disekolah kedinasan—bisa dibaca sebagai pertemuan antara:
• Modalitas Intelektual:
Kecerdasan menghafal Qur'an memudahkan proses akademik seleksi.
• Modalitas Karakter:
Mental petarung jalanan yang sudah dijinakkan agama membentuk kepribadian yang tangguh dan tenang.
• Faktor X (Nazar): Doa orang tua yang "mengunci" takdir anaknya sejak lahir.
Relasi dengan Komjen Pol. Marthinus Hukom (Kepala BNN/eks Kadensus 88) menambah validitas bahwa Satya memang memiliki "darah" di lingkungan ini. Lingkungan membentuknya, genetika mendukungnya, dan spiritualitas memantapkannya.
Kesimpulan:
Lahirnya Polisi Berjiwa Santri
Ipda. Pol. Satya Alief Allende, S.Tr.I.K bukan produk instan. Ia adalah hasil sintesis dari kontradiksi-kontradiksi yang berhasil didamaikan:
• Antara premanisme masa kecil dan kesalehan Hafiz.
• Antara ambisi duniawi (Polri) dan orientasi ukhrawi (STIBA).
• Antara keinginan Ayah dan doa Ibu.
Indonesia tidak kekurangan polisi pintar, tetapi Indonesia seringkali kekurangan polisi yang memiliki "rem" moral (fear of God).
Latar belakang Hafiz Qur'an yang dimiliki Satya diharapkan menjadi internal control system yang paling canggih dalam kariernya ke depan.
Dedi Askary dan Rahmawati Karandja boleh bangga bukan hanya karena anaknya menjadi perwira, tetapi karena anaknya berhasil menaklukkan dirinya sendiri sebelum menaklukkan tes masuk kepolisian.
Sejarah baru telah dimulai: Sang "pengacau" cilik itu kini menjadi penjaga ketertiban negara.
Selamat betugas sang perwira muda, berdinas di Kepolisian adalah jalan Tuhan bagimu, karenanya adalah satu keharusan untuk melewati jalan Tuhan itu. (*)
Penulis: DEDI ASKARY
Editor : Talib