RADAR PALU – Piala Dunia 2026 resmi bergulir sejak Jumat, 12 Juni 2026. Turnamen sepak bola terbesar di dunia yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko itu langsung menyedot perhatian miliaran pasang mata di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Di Kota Palu dan berbagai daerah di Sulawesi Tengah, perbincangan mengenai tim favorit hingga calon juara dunia mulai ramai menghiasi media sosial, warung kopi, hingga komunitas pecinta sepak bola. Sebagian menjagokan Brasil, Argentina, Prancis, Spanyol, maupun Inggris sebagai penguasa baru sepak bola dunia.
Namun di tengah banyaknya prediksi tersebut, muncul satu nama yang kembali menjadi sorotan. Ia bukan mantan pelatih, pemain bintang, maupun analis sepak bola profesional. Sosok itu adalah Joachim Klement, seorang ekonom dan ahli matematika asal Jerman yang dikenal memiliki rekam jejak mengesankan dalam memprediksi juara Piala Dunia.
Baca Juga: Kedai Kopi Bertumbuh Pesat, Menyeduh Harum Ekonomi di Lingkar IMIP
Dilansir dari Jawa Pos, Klement berhasil mencuri perhatian publik sepak bola dunia setelah model statistik yang dikembangkannya mampu menebak juara dalam tiga edisi Piala Dunia secara beruntun.
Pada Piala Dunia 2014, ia memprediksi Jerman akan mengangkat trofi dan prediksi itu terbukti benar. Empat tahun kemudian, ia kembali tepat ketika menjagokan Prancis sebagai juara dunia 2018. Sementara pada Piala Dunia 2022 di Qatar, Klement juga berhasil menebak Argentina sebagai kampiun.
Catatan tersebut membuat prediksinya untuk Piala Dunia 2026 mendapat perhatian luas. Terlebih, turnamen kini telah memasuki fase pertandingan dan berbagai negara unggulan mulai menunjukkan kekuatannya.
Baca Juga: Run for Nature IMIP 2026, Gagas Penanaman Pohon, Menjaga Ruang Hijau
Berbeda dengan kebanyakan analis sepak bola, Klement menggunakan pendekatan berbasis data ekonomi dan demografi. Dalam model perhitungannya, ia tidak hanya melihat kualitas pemain atau performa tim nasional semata.
Beberapa indikator yang menjadi dasar analisisnya meliputi Produk Domestik Bruto (GDP) per kapita, jumlah penduduk, suhu rata-rata negara, hingga peringkat FIFA.
Menurut Klement, negara yang memiliki tingkat kesejahteraan tinggi biasanya mampu membangun sistem pembinaan sepak bola yang lebih baik. Mulai dari infrastruktur olahraga, akademi usia dini, hingga kualitas kompetisi domestik yang mendukung lahirnya pemain-pemain berkualitas.
Sementara faktor populasi dianggap penting karena semakin besar jumlah penduduk suatu negara, semakin besar pula peluang menemukan talenta terbaik. Faktor iklim juga dimasukkan dalam model karena dinilai memengaruhi perkembangan fisik dan kemampuan adaptasi pemain.
Meski demikian, Klement mengakui sepak bola tidak bisa sepenuhnya dijelaskan melalui angka statistik. Karena itu, ia juga memasukkan unsur keberuntungan ke dalam model matematikanya.
Faktor seperti cedera pemain, keputusan wasit, kartu merah, hingga drama adu penalti dinilai dapat mengubah hasil pertandingan secara drastis dan sulit diprediksi secara sempurna.
Dari hasil simulasi yang dilakukan menjelang turnamen, Klement memprediksi Belanda akan menjadi juara Piala Dunia 2026. Bahkan, tim berjuluk Oranje tersebut disebut bakal mengalahkan Portugal pada laga final.
Prediksi itu cukup menarik karena Belanda selama ini dikenal sebagai salah satu negara dengan tradisi sepak bola kuat, tetapi belum pernah merasakan gelar juara dunia.
Dalam sejarahnya, Belanda tiga kali menembus final Piala Dunia, yakni pada 1974, 1978, dan 2010. Namun ketiganya berakhir dengan kegagalan sehingga muncul istilah "kutukan final" yang kerap melekat pada tim Oranje.
Kini, dengan kombinasi pemain muda dan berpengalaman yang mereka miliki, peluang Belanda untuk mengakhiri penantian panjang tersebut kembali terbuka.
Meski demikian, jalan menuju trofi tentu tidak mudah. Negara-negara besar seperti Argentina, Brasil, Prancis, Spanyol, Inggris, hingga Portugal tetap menjadi ancaman serius dalam perburuan gelar juara dunia.
Karena itu, prediksi Joachim Klement masih akan terus diuji sepanjang turnamen berlangsung. Jika kembali terbukti akurat, maka ekonom asal Jerman tersebut akan mencatatkan rekor luar biasa dengan empat prediksi juara Piala Dunia yang tepat secara beruntun.
Bagi pecinta sepak bola, termasuk masyarakat Kota Palu dan Sulawesi Tengah, prediksi tersebut menjadi salah satu cerita menarik yang mewarnai perhelatan Piala Dunia 2026 yang kini telah resmi dimulai.***
Editor : Muhammad Awaludin