Ibu Terbaring Sakit Diserahkan ke Griya Lansia Malang, Anak Setuju Tak Bertemu Lagi

Muhammad Awaludin • Dipublikasikan Rabu, 16 September 2026 | 14:26 WIB
Seorang ibu lanjut usia terbaring sakit saat proses penyerahan pengasuhan kepada Griya Lansia Malang. (Instagram @ariefcamra)
Seorang ibu lanjut usia terbaring sakit saat proses penyerahan pengasuhan kepada Griya Lansia Malang. (Instagram @ariefcamra)

 

RADAR PALU – Seorang ibu lanjut usia yang sedang terbaring sakit harus menjalani masa tuanya jauh dari anak setelah pengasuhannya diserahkan ke Griya Lansia Malang.

Keputusan itu tetap diambil meski sang anak telah mengetahui satu konsekuensi berat: setelah proses serah terima dilakukan, kesempatan untuk bertemu kembali dengan ibunya tidak lagi diberikan.

Momen tersebut direkam Arief Camra, kreator digital sekaligus relawan Sahabat Yatim Dhuafa Indonesia, saat berada di wilayah Kedunggalar, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, Selasa (15/9/2026).

Baca Juga: Terbakar Karhutla, Siswa SMA 1 Pamona Selatan Belajar di Kelas Darurat

Dalam video yang diunggah melalui akun Instagram @ariefcamra, terlihat seorang perempuan lanjut usia terbaring di atas tempat tidur.

Kondisinya membuat proses penyerahan pengasuhan itu menjadi sorotan.

Arief menjelaskan, Griya Lansia Malang bukan tempat penitipan orang tua biasa. Tempat tersebut diperuntukkan bagi lansia terlantar yang membutuhkan pengasuhan.

Baca Juga: Cegah Lonjakan HIV/AIDS, KPAK Banggai Gandeng Organisasi Lintas Sektor

Karena itu, keluarga yang menyerahkan lansia harus memahami bahwa proses tersebut merupakan serah terima pengasuhan, bukan sekadar menitipkan orang tua untuk sementara.

Konsekuensinya pun disampaikan kepada pihak anak sebelum keputusan diambil.

Arief meminta anak tersebut memastikan kembali apakah dirinya benar-benar siap dengan keputusan tersebut.

Bahkan, dalam video itu disampaikan bahwa apabila sang ibu meninggal dunia, pihak keluarga disebut tidak akan mendapatkan kabar.

Kesempatan untuk membatalkan keputusan masih diberikan.

Namun, setelah konsekuensi tersebut dijelaskan, pihak anak tetap menyatakan setuju untuk meneruskan proses serah terima. 

Baca Juga: Komisi III DPRD Sulteng Rampungkan Ranperda Penggunaan Jalan untuk Angkutan Tambang dan Perkebunan

Dokumen kesepakatan kemudian disiapkan untuk ditandatangani.

Di titik itu, pilihan untuk tetap membawa sang ibu ke Griya Lansia Malang menjadi keputusan yang harus dijalani keluarga.

Video tersebut kemudian menyita perhatian karena memperlihatkan langsung proses ketika seorang anak menyerahkan pengasuhan ibunya yang sedang sakit kepada pihak lain.

Baca Juga: Dokumen Pengadaan Diduga Dipalsukan, PT Donggi Senoro Tekor Rp3,3 Miliar

Yang membuat kisah ini semakin mengundang keprihatinan, sang anak telah mengetahui bahwa keputusan tersebut berarti dirinya tidak lagi memiliki kesempatan untuk bertemu dengan ibunya.

Meski demikian, alasan keluarga mengambil keputusan tersebut belum dijelaskan secara rinci dalam video.

Karena itu, kisah tersebut juga membuka persoalan yang lebih luas tentang kondisi lansia yang membutuhkan pengasuhan ketika keluarga tidak lagi menjadi pihak yang merawat secara langsung.

Di balik proses administrasi dan penandatanganan dokumen, ada seorang ibu yang sedang terbaring sakit dan harus memulai kehidupan berikutnya bersama pengasuh di Griya Lansia Malang.

Sementara itu, keputusan sang anak untuk tetap melanjutkan proses menjadi bagian paling menyentuh dari kisah tersebut.*** 

Editor : Muhammad Awaludin
Sumber : Instagram @ariefcamra
Griya Lansia Malang Ngawi Arief Camra lansia jawa timur