Wamenpar Tinjau Tiga Destinasi Wisata di Aceh

Rina Abd Halik • Dipublikasikan Selasa, 15 September 2026 | 15:12 WIB
Foto bersama Wamenpar dalam kunjungan ke tiga destinasi di Aceh. (DOK: Kemenpar).
Foto bersama Wamenpar dalam kunjungan ke tiga destinasi di Aceh. (DOK: Kemenpar).

RADAR PALU – Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Puspa meninjau sejumlah destinasi wisata di Aceh, Minggu (13/9/2026).

Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat langsung pengembangan pariwisata berbasis masyarakat serta potensi wisata sejarah dan edukasi kebencanaan di Aceh.

Tiga destinasi yang dikunjungi yakni Desa Wisata Nusa atau Gampong Nusa di Kabupaten Aceh Besar, Museum Kapal PLTD Apung, serta Museum Tsunami Aceh di Kota Banda Aceh.

Baca Juga: Rapat Paripurna DPRD Sulteng Bahas Perubahan APBD 2026, Delapan Fraksi Sampaikan Pandangan

Ketiga destinasi tersebut menunjukkan kekuatan pariwisata Aceh yang tidak hanya bertumpu pada daya tarik destinasi, tetapi juga keterlibatan masyarakat, kekayaan budaya, sejarah, dan edukasi.

Wamenpar mengawali kunjungannya di Desa Wisata Nusa, Kabupaten Aceh Besar. Desa yang dikelilingi perbukitan dan hamparan persawahan tersebut merupakan salah satu peraih 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021.

Masyarakat Gampong Nusa mengembangkan berbagai pengalaman wisata yang melibatkan warga secara langsung, mulai dari kuliner tradisional, kriya, seni budaya, hingga homestay.

Baca Juga: Pemkot Palu Dorong Penyandang Disabilitas Naik Kelas

Pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga karakter dan kearifan lokal sekaligus menciptakan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Dalam kunjungan tersebut, Wamenpar juga bertemu dengan komunitas asal Malaysia, Jelajah Bakti Terpuji (JEBAT), yang tengah berkunjung ke Gampong Nusa untuk mengenal atraksi dan budaya masyarakat setempat, termasuk tari Ratoh Jaroe.

Wamenpar turut melihat langsung proses pengolahan kuliner tradisional Aceh, Sie Itek atau bebek kari khas Aceh. Kuliner tersebut menggunakan beragam rempah dan dimasak secara tradisional menggunakan beulangong atau kuali tanah liat.

Baca Juga: 22 Ekskavator PETI Bodi Tidak Diamankan di Kantor Polisi, Diduga Berada di Lokasi Pengusaha di Buol

Wamenpar kemudian berdialog dengan pengelola desa. Ia mengapresiasi ketangguhan dan keterlibatan masyarakat dalam membangun serta melestarikan potensi desa, mulai dari kuliner tradisional, kriya, hingga pengelolaan homestay.

Pengelola Desa Wisata Nusa, Nur, mengatakan masyarakat terus menggali dan mengembangkan potensi lokal menjadi berbagai atraksi wisata yang dapat menarik kunjungan sekaligus memberikan manfaat ekonomi secara langsung kepada warga.

“Desa Wisata Nusa adalah contoh konkret bagaimana daya tahan dan keterlibatan masyarakat lokal mampu menciptakan destinasi berkualitas dan berkelanjutan tanpa kehilangan identitas budayanya,” ujar Wamenpar Ni Luh Puspa.

Baca Juga: BRI Unit Pendolo Salurkan Bantuan Sembako untuk Warga Terdampak Karhutla Poso

Menurut Wamenpar, keterlibatan masyarakat menjadi salah satu fondasi penting dalam pengembangan destinasi. Manfaat pariwisata diharapkan tidak berhenti pada peningkatan jumlah kunjungan, tetapi juga mampu memperkuat perekonomian masyarakat sekaligus menjaga budaya dan kearifan lokal.

Dari Gampong Nusa, Wamenpar melanjutkan kunjungan ke dua destinasi sejarah dan edukasi kebencanaan di Kota Banda Aceh, yakni Museum Kapal PLTD Apung dan Museum Tsunami Aceh.

Di Museum Kapal PLTD Apung, Wamenpar melihat jejak sejarah bencana tsunami 2004 sekaligus ketangguhan masyarakat Aceh dalam bangkit dari salah satu bencana terbesar yang pernah melanda Indonesia.

Baca Juga: Reny Lamadjido Ungkap Kebiasaan Sederhana yang Bikin Anak Suka Membaca

Kapal PLTD Apung menjadi salah satu saksi peristiwa tsunami Aceh 2004. Sebelum tsunami terjadi, kapal tersebut berada di Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh.

Gelombang tsunami setinggi sekitar sembilan meter kemudian menyeret kapal sepanjang 63 meter dengan berat sekitar 2.600 ton tersebut hingga sekitar lima kilometer ke daratan.

Kapal yang kini berada di tengah permukiman tersebut kemudian dikembangkan menjadi museum sekaligus ruang pembelajaran mengenai bencana tsunami.

Baca Juga: 5.167 Penerima Bansos di Palu Terindikasi Judi Online

Kunjungan kemudian dilanjutkan ke Museum Tsunami Aceh untuk meninjau fasilitas pelayanan wisatawan serta pengelolaan museum sebagai pusat edukasi kebencanaan.

Di Museum Tsunami Aceh, pengunjung diajak memahami peristiwa tsunami melalui sejumlah ruang yang dirancang untuk menghadirkan pengalaman reflektif sekaligus edukatif.

Rangkaian tersebut antara lain “space of fear” atau lorong tsunami yang menggambarkan suasana ketika tsunami datang serta “space of sorrow” atau sumur doa yang memuat sekitar 3.600 nama korban pada dindingnya.

Baca Juga: Silaturahmi Radar Palu-Kejari Palu, Perkuat Komunikasi dan Edukasi Hukum

Pancaran cahaya pada bagian atas ruang menjadi simbol hubungan spiritual dan doa kepada Tuhan.

Museum juga memiliki Jembatan Perdamaian yang dihiasi bendera berbagai negara yang memberikan bantuan kepada Aceh setelah tsunami sebagai simbol solidaritas, kebangkitan, dan perdamaian.

Selain itu, terdapat “space of memory” atau ruang kenangan yang menyimpan dokumentasi foto serta monitor interaktif yang menyajikan informasi ilmiah mengenai bencana tsunami.

Baca Juga: Reny Lamadjido Ungkap Kebiasaan Sederhana yang Bikin Anak Suka Membaca

“Wisata berbasis edukasi di Museum Kapal PLTD Apung dan Museum Tsunami Aceh ini begitu penting sebagai ruang untuk melakukan kontemplasi sekaligus membangun pemahaman pengunjung mengenai peristiwa bencana alam dan langkah-langkah mitigasinya,” kata Wamenpar.

Wamenpar menilai kekuatan sejarah tersebut dapat menjadi bagian penting dalam pengembangan pariwisata Aceh.

Menurutnya, destinasi tidak hanya menjadi tempat yang dikunjungi wisatawan, tetapi juga ruang pembelajaran mengenai kebencanaan, ketangguhan masyarakat, solidaritas, dan proses kebangkitan Aceh.

Baca Juga: Imelda Dorong Dunia Usaha Buka Ruang Kerja bagi Penyandang Disabilitas di Palu

Wamenpar juga menyampaikan dukungan Kementerian Pariwisata terhadap pengembangan pariwisata di Provinsi Aceh melalui penguatan kolaborasi dengan pemerintah daerah, masyarakat, pengelola destinasi, dan berbagai pemangku kepentingan.

“Setelah berkeliling ke tiga destinasi dan melihat langsung potensinya, saya melihat pariwisata Aceh memiliki kekuatan yang sangat besar. Dengan semangat kolaborasi bersama berbagai pihak, kita berharap dapat meningkatkan kunjungan wisatawan, mengembangkan pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan, sekaligus menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat,” ujar Wamenpar.

Turut mendampingi Wamenpar dalam kunjungan tersebut Plt. Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kementerian Pariwisata Reza Pahlevi.***

Editor : Rina Abd Halik
Kemenpar RI Wamenpar Destinasi Pariwisata edukasi kebencanaan