RADAR PALU – Pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai potensi perlombaan senjata nuklir di kawasan Timur Tengah mendapat tanggapan resmi dari Kedutaan Besar Iran di Indonesia. Melalui akun resmi di media sosial X, Iran menegaskan negaranya tidak pernah mengejar kepemilikan senjata nuklir dan tidak memiliki rencana untuk mengembangkannya.
Respons tersebut muncul setelah Prabowo menyampaikan kekhawatiran bahwa meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dapat memicu negara-negara di kawasan berlomba mengembangkan kemampuan nuklir sebagai langkah pertahanan.
Dalam pernyataan resminya, Kedubes Iran menegaskan bahwa program nuklir yang dijalankan Republik Islam Iran sepenuhnya ditujukan untuk kepentingan damai dan sesuai dengan ketentuan hukum internasional.
Baca Juga: Heboh! Semburan Api dari Pipa Air di Sarumana Viral, Warga Khawatir Ada Kandungan Gas
Melansir laporan JawaPos.com, Iran menyebut seluruh aktivitas nuklirnya berlandaskan Perjanjian Non-Proliferasi Senjata Nuklir (NPT), yang memberikan hak kepada setiap negara anggota untuk memanfaatkan energi nuklir bagi kebutuhan sipil.
Selain itu, Iran menyatakan seluruh program nuklirnya berada di bawah pengawasan Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Menurut mereka, pengawasan tersebut merupakan salah satu sistem inspeksi paling ketat di dunia sehingga tidak diarahkan untuk pengembangan senjata nuklir.
Dalam penjelasan yang diunggah, Iran juga menekankan bahwa senjata pemusnah massal tidak memiliki tempat dalam doktrin pertahanannya. Negara itu menyebut fatwa pemimpin tertinggi Iran mengharamkan kepemilikan senjata nuklir.
Baca Juga: Pantau SPBU di Makassar, Pertamina Pastikan Pasokan Biosolar Terjaga
Iran menambahkan teknologi nuklir yang dikembangkan difokuskan untuk sektor energi, kesehatan, dan penelitian ilmiah.
Sebagai penutup, Kedubes Iran kembali menegaskan posisi negaranya bahwa mereka tidak pernah mengejar kepemilikan senjata nuklir dan tidak akan melakukannya di masa mendatang.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pandangannya mengenai situasi geopolitik dunia saat menghadiri pertemuan bersama pengurus Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia dari 38 provinsi di Istana Negara, Jakarta, Jumat (31/7).
Dalam kesempatan itu, Prabowo menilai eskalasi konflik di Timur Tengah berpotensi memunculkan efek domino berupa perlombaan senjata nuklir di kawasan.
Ia mencontohkan kekhawatiran yang berkembang secara internasional terkait isu kepemilikan senjata nuklir oleh Iran. Menurut Prabowo, apabila satu negara dianggap memiliki kemampuan tersebut, negara-negara lain di kawasan bisa terdorong melakukan langkah serupa demi menjaga keseimbangan kekuatan.
Prabowo menyebut kemungkinan negara seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar hingga Mesir terdorong mengembangkan kemampuan nuklir apabila situasi keamanan regional terus memburuk.
Baca Juga: Semester I 2026, Layanan AHU Kemenkum Sulteng Tumbuh Positif
Siaran Langsung Sempat Jadi Sorotan
Pidato Presiden Prabowo juga menjadi perhatian publik setelah siaran langsung acara mendadak terputus saat pembahasan memasuki isu nuklir.
Tayangan yang sebelumnya disiarkan secara langsung tiba-tiba beralih ke iklan sebelum akhirnya dihentikan. Peristiwa itu memunculkan beragam spekulasi di media sosial, meski hingga kini belum ada penjelasan resmi mengenai penyebab terputusnya siaran tersebut.
Baca Juga: Viral Truk Melintang di Jalan Amblas Watuawu Poso, Warga: Hampir Setiap Hari Terjadi
Di tengah berbagai respons yang muncul, pernyataan Kedubes Iran menjadi penegasan resmi posisi negara itu mengenai program nuklirnya, sekaligus menjawab sorotan yang berkembang setelah pidato Presiden Prabowo.***
Editor : Muhammad AwaludinSumber : jawapos.com