RADAR PALU– Pemerintah mengambil langkah cepat menyusul dugaan keracunan massal yang menimpa ratusan penerima Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Semarang. Badan Gizi Nasional (BGN) memutuskan menghentikan sementara operasional dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang memasok makanan ke lokasi kejadian.
Keputusan itu disampaikan Kepala BGN, Sudaryono, saat meninjau langsung kondisi para korban di sejumlah rumah sakit di Semarang, Sabtu (1/8/2026). Selain memastikan pelayanan medis berjalan baik, kunjungan tersebut juga menjadi bagian dari evaluasi awal atas insiden yang menjadi perhatian publik.
Melansir laporan JawaPos.com, Sudaryono mengunjungi RS Permata Medika, RS Bhakti Tamtama, dan RS Pantiwilasa Citarum yang merawat para korban.
Menurut dia, penghentian sementara operasional dapur SPPG dilakukan sebagai langkah antisipatif sembari menunggu hasil investigasi menyeluruh.
Baca Juga: Pertamax Turun Lagi, Ini Daftar Harga BBM Pertamina Terbaru per 1 Agustus 2026
BGN, kata Sudaryono, tidak ingin mengambil kesimpulan sebelum seluruh proses pemeriksaan selesai. Tim investigasi masih bekerja mengumpulkan fakta dan menelusuri kemungkinan penyebab kejadian tersebut.
"Tim investigasi masih bekerja untuk mendalami kasus ini. Kami ingin memastikan penyebabnya berdasarkan hasil pemeriksaan yang komprehensif," ujar Sudaryono.
Ia menegaskan, apabila investigasi membuktikan adanya kelalaian dalam penyelenggaraan layanan makan bergizi, BGN akan memberikan sanksi sesuai ketentuan.
Baca Juga: Revitalisasi Pasar Inpres, Wujudkan Kawasan Yang Lebih Tertata
"Kalau nanti terbukti ada kelalaian, kami akan melakukan suspend terhadap SPPG yang terkait sambil menunggu hasil evaluasi dan tindak lanjut sesuai ketentuan yang berlaku," tegasnya.
Data Dinas Kesehatan Kota Semarang menunjukkan jumlah korban dugaan keracunan mencapai 707 orang.
Rinciannya, sebanyak 693 siswa dan 14 guru diduga mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan Program Makan Bergizi Gratis yang dibagikan pada Jumat (31/7/2026).
Keluhan yang paling banyak dialami korban berupa pusing, mual, hingga muntah. Sebagian harus menjalani perawatan di rumah sakit, sedangkan lainnya mendapatkan penanganan medis sesuai tingkat keparahan gejala.
Hingga Sabtu malam, penyebab pasti dugaan keracunan belum dapat dipastikan. Pemerintah masih menunggu hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan yang dikonsumsi para korban.
Baca Juga: LPS Gencarkan Literasi Keuangan di Palu, Edukasi Masyarakat hingga Pelajar Lewat Beragam Kegiatan
Hasil pemeriksaan tersebut akan menjadi dasar untuk menentukan sumber masalah sekaligus langkah perbaikan dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis.
Insiden di Semarang menjadi evaluasi penting dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis yang saat ini dijalankan pemerintah di berbagai daerah.
Program tersebut bertujuan meningkatkan pemenuhan gizi peserta didik. Karena itu, aspek keamanan pangan, proses pengolahan makanan, distribusi, hingga pengawasan kualitas menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan agar manfaat program tetap dirasakan tanpa mengorbankan keselamatan penerimanya.
Baca Juga: Unik! Momen Yudisium, Mahasiswa Sulap Kertas Revisi Skripsi Jadi Buket Bunga
Pemerintah memastikan penanganan terhadap para korban tetap menjadi prioritas, sembari menuntaskan investigasi untuk mengungkap penyebab insiden tersebut dan mencegah kejadian serupa terulang di kemudian hari.***
Editor : Muhammad AwaludinSumber : jawapos.com