Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Kementan Siaga El Nino 2026, Ribuan Hektare Sawah di Gunungkidul Dipastikan Aman

Talib • Sabtu, 9 Mei 2026 | 16:24 WIB
Hamparan padi musim tanam kedua di Gunungkidul dipantau intensif untuk menghadapi potensi kemarau panjang akibat El Nino 2026.( Kementan)
Hamparan padi musim tanam kedua di Gunungkidul dipantau intensif untuk menghadapi potensi kemarau panjang akibat El Nino 2026.( Kementan)

 

RADAR PALU– Kementerian Pertanian bersama pemerintah daerah mulai memperkuat langkah mitigasi menghadapi potensi kemarau panjang akibat fenomena El Nino yang diperkirakan berlangsung hingga Oktober 2026. 

Langkah antisipasi dilakukan untuk memastikan produksi pangan nasional tetap terjaga, khususnya di wilayah sentra padi tadah hujan yang rawan terdampak kekeringan. 

Salah satu fokus pengawasan dilakukan di Kabupaten Gunungkidul melalui monitoring intensif pertanaman padi musim tanam kedua (MT2). 

Baca Juga: Reny Lamadjido Soroti Krisis Dokter Spesialis di Kepulauan Sulteng

Meski memasuki musim kemarau, ribuan hektare sawah di wilayah Semin dan Ngawen dipastikan masih dalam kondisi aman dan siap memasuki masa panen. 

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul bersama jajaran penyuluh pertanian terus melakukan pemantauan kondisi tanaman dan ketersediaan air guna memastikan produksi tetap optimal di tengah ancaman perubahan iklim. 

Di wilayah Kapanewon Semin, luas pertanaman padi MT2 tercatat mencapai 2.924 hektare. 

Baca Juga: Kepsek SDN Inpres 2 Talise: Perpustakaan Itu Jantungnya Sekolah!

Tanaman yang ditanam sejak Februari hingga Maret 2026 itu dipastikan masih memiliki ketersediaan air yang cukup hingga masa panen. 

Panen raya diperkirakan mulai berlangsung pada pekan ketiga Mei 2026. 

Penyuluh Pertanian Lapangan BPP Semin, Rumini mengatakan petani mulai beradaptasi menghadapi ancaman kemarau dengan menggunakan varietas padi umur pendek atau genjah. 

Menurutnya, varietas tersebut lebih tahan terhadap keterbatasan air dibanding jenis padi biasa. 

“Saat ini hamparan padi di Semin sudah mulai menguning dan siap dipanen dalam waktu dekat. Petani juga mulai banyak menggunakan varietas genjah seperti Pajajaran, M70D, dan Trisakti sehingga lebih siap menghadapi musim kering,” ujarnya, Jumat (8/5/2026). 

Optimisme serupa juga terlihat di wilayah Ngawen yang menjadi salah satu sentra produksi padi terbesar di Gunungkidul. 

Baca Juga: Nyentrik! Kepsek di Palu Ini Ternyata Penulis Buku Solo Ber-ISBN

Ketua Tim Produksi Tanaman Pangan DPP Gunungkidul, Danang Sutopo menyebut luas pertanaman padi MT2 di wilayah tersebut mencapai 8.756 hektare. 

Ia memperkirakan masa panen akan berlangsung mulai akhir Mei hingga awal Juni 2026. 

“Kami berharap air tetap mencukupi hingga masa panen berakhir, didukung dengan penggunaan varietas umur pendek yang lebih tahan terhadap keterbatasan air,” katanya. 

Baca Juga: Jaksa Agung ST Burhanuddin Kunjungi Kejari Sigi, Perkuat Penegakan Hukum Berintegritas di Sulawesi Tengah

Langkah mitigasi yang dilakukan pemerintah daerah bersama penyuluh dan petani dinilai sejalan dengan strategi nasional Kementan dalam menghadapi dampak perubahan iklim. 

Pemerintah terus memperkuat pengawalan pertanaman, pengelolaan sumber air, penggunaan varietas adaptif, hingga monitoring lapangan secara berkala. 

Dalam kesempatan terpisah, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan pemerintah telah menginstruksikan percepatan langkah antisipasi kekeringan di berbagai daerah. 

“Kami sudah instruksikan seluruh jajaran untuk mempercepat langkah antisipasi kekeringan, mulai dari rehabilitasi irigasi, optimasi pompanisasi, hingga penyediaan sumur dangkal dan sumur dalam di daerah rawan kekeringan,” ujar Amran. 

Menurutnya, pengelolaan air menjadi faktor utama dalam menjaga stabilitas produksi pangan nasional di tengah ancaman iklim ekstrem. 

Amran juga meminta pemerintah daerah memperkuat pemetaan wilayah rawan kekeringan agar langkah mitigasi dapat dilakukan lebih cepat. 

“Kita tidak boleh menunggu sampai terdampak. Mitigasi harus dilakukan lebih awal supaya produksi tetap aman dan petani tidak mengalami kerugian saat kemarau panjang,” pungkasnya.***

Editor : Muhammad Awaludin
#gunung kidul #kementerian pertanian #Produksi Padi #Ketahanan pangan #El Nino 2026