RADAR PALU - Perombakan terjadi di lingkar dalam Istana. Presiden Prabowo Subianto resmi menggeser posisi strategis: M. Qodari kini memegang kendali komunikasi pemerintah.
Pelantikan itu digelar di Istana Negara, Jakarta, Senin (27/4). Qodari dipercaya menjadi Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom), menggantikan Anggara Raka Prabowo.
Langkah ini sekaligus mengakhiri masa jabatan Qodari sebagai Kepala Staf Kepresidenan (KSP). Kursi yang ditinggalkannya langsung diisi sosok militer senior, Dudung Abdurachman.
Baca Juga: Isu Reshuffle Menguat, Nama Dudung hingga Qodari Masuk Bursa Kursi Strategis
Pergantian ini tertuang dalam Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 51 P Tahun 2026 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Menteri dan Wakil Menteri Negara Kabinet Merah Putih periode 2024–2029.
Rotasi ini bukan sekadar pergantian jabatan. Ini sinyal kuat bahwa sektor komunikasi pemerintah akan diperkuat di tengah dinamika politik dan publik yang makin cepat.
Dari Pengamat ke Lingkar Inti Kekuasaan
Nama Muhammad Qodari bukan orang baru di panggung politik nasional. Pria kelahiran Palembang, 15 Oktober 1973 ini dikenal sebagai analis yang lama membaca arah politik Indonesia.
Ia menamatkan pendidikan sarjana di Universitas Indonesia dengan fokus Psikologi Sosial. Karier akademiknya berlanjut ke University of Essex, Inggris, dengan spesialisasi political behavior.
Baca Juga: Presiden Prabowo Ditelepon PM Australia, Ekspor Urea 250 Ribu Ton Dipuji
Tak berhenti di situ, Qodari meraih gelar doktor Ilmu Politik dari Universitas Gadjah Mada pada 2016 dengan predikat sangat memuaskan.
Sebelum masuk pemerintahan, Qodari dikenal luas sebagai pendiri Indo Barometer—lembaga survei yang kerap jadi rujukan peta elektoral nasional.
Peran Baru: Mengendalikan Narasi Pemerintah
Penunjukan Qodari sebagai Kepala Bakom dinilai strategis. Posisi ini menjadi kunci dalam membangun komunikasi publik pemerintah, terutama di era arus informasi yang serba cepat.
Selama menjabat sebagai KSP sejak 17 September 2025, Qodari berada di pusat koordinasi isu-isu strategis pemerintahan. Kini, perannya bergeser—dari pengelola kebijakan menjadi arsitek narasi publik.
Baca Juga: Sidak Prabowo: Gudang Bulog Penuh, Stok Beras RI Melimpah
Di sisi lain, masuknya Dudung Abdurachman ke posisi KSP juga memberi warna berbeda. Latar belakang militer diperkirakan akan memperkuat koordinasi dan stabilitas internal pemerintahan.
Sinyal Konsolidasi di Kabinet
Perombakan ini dipandang sebagai bagian dari konsolidasi Kabinet Merah Putih. Presiden Prabowo tampak mulai menata ulang posisi-posisi kunci menjelang fase pemerintahan berikutnya.
Qodari di Bakom diharapkan mampu menjembatani komunikasi antara pemerintah dan masyarakat. Tantangannya tidak ringan—mulai dari isu ekonomi, sosial, hingga politik yang sensitif.
Dengan pengalaman sebagai pengamat dan insider pemerintahan, Qodari berada di posisi unik: memahami cara kerja kekuasaan sekaligus membaca persepsi publik.
Kini, sorotan tertuju pada bagaimana ia memainkan peran barunya. Apakah mampu meredam gejolak opini publik, atau justru menghadapi tekanan baru di lini terdepan komunikasi pemerintah?***
Editor : Muhammad Awaludin