RADAR PALU - Ketegangan geopolitik di Selat Hormuz kembali menunjukkan dampaknya terhadap rantai distribusi energi global. Dua kapal milik PT Pertamina International Shipping (PIS), Pertamina Pride dan Gamsunoro, hingga kini masih tertahan di kawasan Teluk Arab dan belum dapat melintasi jalur strategis tersebut.
Situasi ini menjadi gambaran nyata bagaimana eskalasi keamanan di salah satu choke point energi dunia dapat langsung memengaruhi operasional pelayaran, termasuk armada Indonesia.
Pjs Corporate Secretary PIS, Vega Pita, menyatakan bahwa perusahaan terus memantau perkembangan yang berlangsung sangat dinamis di kawasan tersebut.
“Kedua kapal PIS yaitu Pertamina Pride dan Gamsunoro saat ini masih berada di Teluk Arab dan belum dapat melintasi Selat Hormuz. PIS terus memonitor secara saksama perkembangan situasi yang sangat dinamis di Selat Hormuz,” ujar Vega dalam keterangannya yang dikonfirmasi di Jakarta, Minggu.
Di tengah ketidakpastian tersebut, PIS memilih langkah hati-hati dengan memperkuat koordinasi lintas pihak demi memastikan keselamatan pelayaran.
“Kami terus melakukan koordinasi intensif dengan berbagai pihak terkait, termasuk kementerian dan otoritas berwenang, sambil tetap menyiapkan perencanaan pelayaran (passage plan) yang aman,” katanya.
Perusahaan menegaskan bahwa keselamatan awak kapal dan keamanan muatan tetap menjadi prioritas utama di atas kepentingan operasional lainnya.
Baca Juga: Masuk Hari ke Empat, Retret Ketua DPRD Fokus pada Penguatan Visi Asta Cita
“Prioritas utama perusahaan adalah keselamatan seluruh awak kapal, keamanan kapal, serta muatannya,” tambahnya.
PIS juga berharap ketegangan segera mereda agar jalur pelayaran kembali normal dan distribusi energi tidak terganggu lebih lama.
“Kami berharap kondisi di jalur tersebut segera membaik dan kondusif agar kapal Pertamina Pride serta Gamsunoro dapat segera melanjutkan pelayaran dengan aman,” ucapnya.
Baca Juga: Masuk Hari ke Empat, Retret Ketua DPRD Fokus pada Penguatan Visi Asta Cita
Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan bahwa Selat Hormuz kini berada di bawah kendali penuh angkatan bersenjata Iran.
Pernyataan itu berkaitan dengan situasi yang masih dipengaruhi ketegangan dengan Amerika Serikat, termasuk isu blokade terhadap pelabuhan Iran.
Dalam pernyataannya yang dikutip kantor berita Tasnim, IRGC menegaskan pengawasan ketat akan terus diberlakukan hingga kebebasan pelayaran menuju dan dari Iran dipulihkan sepenuhnya.
“Kendali atas Selat Hormuz telah kembali ke kondisi sebelumnya, dan jalur perairan strategis itu kini berada di bawah pengelolaan dan kendali ketat angkatan bersenjata,” demikian pernyataan komando gabungan IRGC.
Dengan kondisi ini, Selat Hormuz kembali menjadi titik rawan yang tidak hanya berdampak pada stabilitas kawasan, tetapi juga berpotensi memicu gangguan pasokan energi global sebuah risiko yang kini mulai dirasakan langsung oleh pelayaran Indonesia. (*)
Editor : Agung Sumandjaya