Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Ribuan Petani Desak Polisi Tangkap Feri Amsari, Picu Polemik Swasembada

Talib • Sabtu, 18 April 2026 | 13:36 WIB
Ribuan petani membentangkan spanduk tuntutan di jalanan Jakarta, meluapkan kekecewaan atas polemik pernyataan swasembada beras.(Istimewa)
Ribuan petani membentangkan spanduk tuntutan di jalanan Jakarta, meluapkan kekecewaan atas polemik pernyataan swasembada beras.(Istimewa)

 RADAR PALU - Ribuan petani turun ke jalan di Jakarta, Jumat (17/4/2026), menuntut polisi segera menangkap Feri Amsari usai pernyataannya soal swasembada beras memicu kemarahan. 

Aksi Petani Memanas 

Aksi digelar dengan orasi dan spanduk bernada keras. Salah satunya bertuliskan: “Pak Polisi, Segera Tangkap Feri Amsari. Kami Petani Kecewa.” 

Ada juga spanduk lain yang menyebut Feri sebagai “pemecah-belah bangsa” dan mendesak penangkapan segera. 

Baca Juga: Prabowo ke Ketua DPRD: Kita Semua Patriot, Harus Cinta Rakyat

Pernyataan Feri yang menyebut swasembada beras sebagai “data palsu” dan menuding Presiden berbohong jadi pemicu utama. 

Dilaporkan ke Polisi 

Tak hanya aksi massa, laporan resmi juga dilayangkan ke Polda Metro Jaya di hari yang sama. 

Baca Juga: Banjir Rob Terjang Buol, 150 Warga Mengungsi

Laporan dibuat oleh Minta Ito Simamora, pengacara asal Jakarta Selatan, atas dugaan penyebaran berita bohong. 

Ia melaporkan pernyataan Feri dalam acara di Jakarta pada 16 Maret 2026 yang menyebut capaian swasembada sebagai kebohongan publik. 

Viral di Media Sosial 

Pernyataan tersebut menyebar luas di media sosial, termasuk dari akun pribadi Feri dan beberapa platform lainnya. 

Pelapor merasa dirugikan dan meminta aparat menindaklanjuti laporan untuk proses penyelidikan. 

Laporan diterima oleh petugas SPKT Polda Metro Jaya. 

Baca Juga: Akhiri Penantian 25 Tahun, Coventry City Promosi ke Premier League

Bantahan Pemerintah 

Polemik ini juga mendapat respons dari pemerintah. 

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan data swasembada tidak dibuat sepihak. 

“Data produksi gabah berdasarkan data resmi, bukan buatan Kementan,” ujarnya dalam rapat dengan DPR. 

Ia menyebut data tersebut berasal dari lembaga kredibel seperti BPS, FAO, dan USDA. 

Polemik ini menyorot sensitifnya isu pangan di tengah masyarakat. 

Bagi petani, klaim soal swasembada bukan sekadar data—tapi menyangkut harga, produksi, dan keberlangsungan hidup mereka.***

Editor : Muhammad Awaludin
#Feri Amsari #petani deno #polda metro jaya #swasembada beras #Andi Amran Sulaiman