RADAR PALU – Karakteristik gempa bumi di Laut Maluku yang didominasi mekanisme sesar naik (thrust fault) tidak lepas dari dinamika tektonik yang kompleks di kawasan tersebut.
Pakar kegempaan, Dr. Daryono, menjelaskan bahwa wilayah Laut Maluku merupakan zona unik dengan sistem subduksi ganda (double subduction system), di mana satu lempeng tersubduksi ke dua arah berbeda.
“Lempeng Laut Maluku tersubduksi ke arah barat di bawah Busur Sangihe, dan ke arah timur di bawah Busur Halmahera. Ini menyebabkan akumulasi tegangan kompresi yang sangat kuat,” jelasnya.
Baca Juga: BMKG: Hujan Ekstrem Ancam Wilayah Selatan Sulteng Awal April
Kondisi tersebut memicu terjadinya gempa dengan mekanisme sesar naik, yakni pergerakan batuan akibat tekanan horizontal yang mendorong satu blok naik relatif terhadap blok lainnya.
Secara geofisika, fenomena ini tercermin dari hasil analisis moment tensor yang menunjukkan dominasi gaya kompresi dengan orientasi horizontal, serta geometri penunjaman lempeng yang kompleks.
Selain itu, interaksi antar dua sistem subduksi yang saling berhadapan atau arc-arc collision turut memperkuat deformasi kerak bumi di kawasan tersebut.
Baca Juga: Harga Jual Turun, NTP Maret 2026 Sulteng Cuma 94,10
Daryono menegaskan, gempa dengan mekanisme thrust fault di Laut Maluku memiliki potensi bahaya tinggi karena dapat memicu deformasi vertikal dasar laut.
“Jika terjadi pada kedalaman dangkal dan disertai pergeseran besar, kondisi ini berpotensi memicu tsunami,” ujarnya.
Oleh karena itu, pemahaman terhadap mekanisme gempa di kawasan ini dinilai penting sebagai dasar mitigasi bencana, khususnya di wilayah Indonesia timur yang dikenal memiliki aktivitas seismik tinggi.(*)
Editor : Mugni Supardi