RADAR PALU – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau 2026 di Indonesia akan berlangsung lebih kering dan lebih panjang dari kondisi normal. Bahkan, lebih dari separuh zona musim diperkirakan mengalami kemarau yang lebih panjang dari biasanya.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (4/3/2026), mengungkapkan sebanyak 57,2 persen dari sekitar 400 zona musim yang dianalisis diprediksi mengalami musim kemarau lebih panjang dari normal.
“Sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan mengalami musim kemarau yang lebih panjang dari biasanya,” ujarnya dalam keterangan resmi.
Sementara itu, Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan bahwa secara umum kemarau 2026 diprediksi bersifat bawah normal atau lebih kering.
Dari total 699 zona musim di Indonesia:
451 zona musim (64,5%) diprediksi mengalami kemarau bawah normal (lebih kering)
245 zona musim (35%) berada dalam kondisi normal
BMKG juga memperkirakan musim kemarau tahun depan akan datang lebih awal di sebagian besar wilayah Indonesia.
Potensi Kekeringan dan Karhutla
Dengan kondisi lebih kering dan durasi lebih panjang, risiko kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dinilai meningkat, terutama di wilayah rawan.
BMKG menekankan pentingnya langkah mitigasi sejak dini sebagai bagian dari climate risk management dan early action.
“Informasi ini diharapkan menjadi dasar perencanaan lintas sektor agar risiko akibat anomali iklim dapat dikurangi,” tegasnya.
BMKG meminta kementerian, lembaga, pemerintah daerah hingga masyarakat mulai menyiapkan langkah antisipasi menghadapi musim kemarau 2026.***
Editor : Muhammad Awaludin