RADAR PALU - Sebuah video yang diunggah ulang akun Instagram feedgramindo mendadak ramai diperbincangkan. Video itu awalnya dibagikan oleh kepala sekolah di Manggarai, Nusa Tenggara Timur.
Isinya sederhana. Seorang siswa kelas 1 SD berdiri di kelas dengan sepatu rusak di kakinya. Namun justru dari kesederhanaan itu, perhatian publik mengalir.
Dalam video tersebut, terlihat Marselinus Beke, siswa SD Inpres Golo Lambo, tetap masuk sekolah meski bagian depan sepatunya sudah terbuka hingga jari kakinya tampak jelas.
Rekaman itu pertama kali dibagikan oleh kepala sekolahnya, Tomi Jemehan. Video kemudian diposting ulang oleh akun feedgramindo dan menyebar luas.
Dalam keterangan unggahan disebutkan, kondisi sepatu itu bukan karena kelalaian. Keluarga Marselinus disebut hidup dalam keterbatasan ekonomi.
Ibunya dikabarkan sering sakit dengan kadar hemoglobin rendah, sehingga tidak bisa bekerja berat. Kondisi tersebut berdampak pada pemenuhan kebutuhan harian keluarga.
Meski begitu, Marselinus tetap berangkat sekolah seperti biasa. Dalam video, ia bahkan tampak tersenyum ke arah kamera.
Kepala sekolah kemudian mengambil inisiatif membelikan sepatu dan kaus kaki baru untuk siswanya tersebut. Langkah itu mendapat respons positif dari warganet.
Kolom komentar di akun feedgramindo dipenuhi ungkapan haru.
“Kagum dg semangatmu Nak,” tulis salah satu akun.
“Miris negara kaya sprti ini,” komentar lainnya.
Ada pula yang menyinggung peran pemerintah serta menanyakan kemungkinan donasi untuk membantu.
Video tersebut kembali mengangkat potret keseharian sebagian anak di daerah yang masih menghadapi keterbatasan perlengkapan sekolah.
Di tengah berbagai respons itu, satu hal yang paling banyak disorot adalah semangat sang siswa yang tetap datang belajar meski dalam kondisi sederhana.
Pemerintah melalui sejumlah program bantuan pendidikan berupaya mendorong akses sekolah yang lebih merata, termasuk melalui Program Indonesia Pintar. Namun di sejumlah daerah, tantangan ekonomi keluarga masih berpengaruh terhadap kesiapan perlengkapan sekolah anak.***
Editor : Muhammad Awaludin