RADAR PALU - Ombak besar dan perahu rusak terkena kayu mengubah perjalanan pulang menjadi perjuangan hidup dan mati.
Selama 13 hari, 15 Warga Negara Asing (WNA) asal Filipina terombang-ambing di tengah laut, bertahan dengan sisa tenaga, seteguk air hujan, dan sepotong biskuit yang dibagi rata.
Begitulah sepenggal cerita dari Banjir, salah seorang WNA asal Filipina yang berhasil selamatkan dari perairan Kabupaten Buol dan kini tengah menjalani masa karantina di Kantor Imigrasi Kelas I TPI Palu.
Baca Juga: Imigrasi Palu Siapkan Detensi dan Logistik, 15 WNA Filipina Pilih Konsumsi Ubi Ketimbang Nasi
Mereka diketahui merupakan warga Filipina yang bekerja di wilayah Sampurna dan Sabah, Malaysia.
Kepada Jawa Pos Radar Palu, Banjir mengatakan awalnya sebanyak 17 orang itu berlayar menggunakan perahu untuk pulang ke Filipina.
Biasanya, perjalanan laut tersebut hanya memakan waktu sekitar lima jam. Namun kali ini, takdir berkata lain.
Baca Juga: Penambang Emas di Poboya Tewas Jatuh dari Tebing, Polisi Telusuri Aktivitas Tambang
“Kena kayu di bawah perahu kami. Di situlah kami ta bale (Terbalik),” tutur Banjir
Usai kembali membalikkan perahunya, dua orang di antara mereka berinisiatif untuk berenang ke daratan untuk meminta pertolongan.
Selama hampir dua pekan, mereka bertahan di atas perahu tanpa atap. Terik matahari membakar kulit, membuat wajah mereka melepuh. Untuk makan, mereka hanya memiliki satu bungkus biskuit yang dibagi rata.
Baca Juga: Danau Banano Sebagai Potensi Strategis Penopang Ekosistem Sekaligus Penggerak Ekonomi
“Untuk makan, ada satu bungkus biskuit. Saya tidak makan, biar mereka saja. Jadi dibagi,” katanya.
“Minum kalau hujan. Kalau tidak hujan, kami tidak minum. Kalau sangat haus, terpaksa minum air asin,” tambah Banjir.
Dari 15 orang yang terombang-ambing di laut, satu orang laki-laki dewasa yakni Banjir, enam perempuan dewasa, enam anak perempuan, dan dua anak laki-laki.
Baca Juga: Family Gathering Partai Keadilan Sejahtera, Apa Sih Urgensinya?
“Dalam 13 hari terombang-ambing, aku hanya minum empat kali dan hampir tidak makan sama sekali. Ikut kenyang kalau budak-budak (Anak kecil) ini kenyang,” ungkap Banjir
Sementara itu adik Banjir, Nisa mengaku sudah sering melakukan perjalanan ke Malaysia untuk menemani suaminya bekerja serta kerabat-kerabatnya yang bekerja di resto.
“Anak saya empat, semua saya gendong,” katanya.
Baca Juga: Gubernur Sulteng Klarifikasi Polemik Pencabutan Sanksi Tambang
Harapan akhirnya datang ketika perahu nelayan melintas dan menemukan mereka dalam kondisi lemah. Tangis pecah sembari minta pertolongan pecah di tengah laut.
“Saya sangat berterima kasih kepada nelayan yang menemukan kami,” ucapnya penuh haru.
Akibat kejadian itu, seluruh dokumen kewarganegaraan para korban hilang tersapu air laut.
Baca Juga: Ketua Komisi III DPRD Sigi Desak DLH Uji Air Sungai Diduga Tercemar Tambang Ilegal Dongi-Dongi
Saat ini, mereka telah berada di bawah penanganan Kantor Imigrasi Kelas I TPI Palu untuk menjalani karantina, pemulihan, serta proses verifikasi kewarganegaraan sebelum dipulangkan ke Filipina. (*)
Editor : Taswin