Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Gunung Bulusaraung, Lokasi Jatuhnya Pesawat ATR 42-500 dari Sisi Geografis dan Topografi

Muhammad Awaludin • Minggu, 18 Januari 2026 | 12:37 WIB
gunung Bulusaraung
gunung Bulusaraung

RADAR PALU – Gunung Bulusaraung menjadi sorotan nasional setelah tim SAR menemukan serpihan pesawat ATR 42-500 di kawasan pegunungan tersebut. Lokasi penemuan berada di medan ekstrem dengan topografi terjal, sehingga proses evakuasi dan pencarian lanjutan menghadapi tantangan besar (dikutip dari Radar Palu–Jawa Pos, 2026).

Dikutip dari bantimurungbulusaraung.id, Gunung Bulusaraung secara administratif terletak di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) serta berbatasan langsung dengan Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Kawasan ini merupakan bagian dari Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, sebagaimana tercatat dalam data resmi Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung di bawah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Berdasarkan data geografis Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, Gunung Bulusaraung berada sekitar 50 kilometer di utara Kota Makassar. Gunung ini masuk dalam gugusan Pegunungan Maros–Pangkep, sistem pegunungan yang memanjang dari wilayah pesisir barat hingga pedalaman Sulawesi Selatan, dengan kontur wilayah yang didominasi perbukitan curam dan lembah sempit. 

Dari sisi topografi, Gunung Bulusaraung memiliki ketinggian sekitar 1.353 meter di atas permukaan laut (mdpl). Lereng gunung didominasi kemiringan curam hingga sangat curam, dengan banyak tebing vertikal, punggungan tajam, serta jalur alami yang sulit dijangkau tanpa peralatan khusus (dikutip dari data topografi Balai TN Bantimurung Bulusaraung).

Gunung Bulusaraung merupakan bagian dari kawasan karst Maros–Pangkep, yang secara ilmiah diakui sebagai salah satu kawasan karst terluas dan terpenting di Indonesia. Kawasan ini terbentuk dari batuan gamping yang mengalami proses pelarutan selama jutaan tahun, menghasilkan bentang alam khas berupa gua, jurang, dolina, dan menara-menara batu kapur (dikutip dari UNESCO Tentative List Karst Maros–Pangkep).

Menurut kajian geomorfologi karst Maros–Pangkep, karakter batuan kapur di kawasan ini bersifat keras namun rapuh di bagian tertentu, dengan banyak celah dan rongga. Kondisi tersebut menyebabkan medan menjadi tidak stabil dan berisiko tinggi bagi aktivitas lapangan (dikutip dari publikasi ilmiah geomorfologi karst Maros–Pangkep). 

Selain faktor batuan, kawasan Gunung Bulusaraung juga memiliki tutupan hutan pegunungan yang relatif rapat. Vegetasi lebat ini membatasi jarak pandang dari udara maupun darat, sehingga proses pencarian serpihan pesawat tidak dapat dilakukan secara cepat dan harus melalui penyisiran manual oleh tim SAR (dikutip dari laporan lapangan SAR dan Balai TN Bantimurung Bulusaraung).

Dari aspek hidrologi, wilayah karst Bulusaraung dikenal memiliki sistem aliran air bawah tanah yang kompleks. Air hujan cepat meresap ke dalam rekahan batu kapur dan mengalir melalui gua-gua bawah tanah, sehingga aliran air permukaan sangat terbatas namun menyisakan banyak rongga alami di bawah tanah (dikutip dari penelitian hidrogeologi karst Maros–Pangkep).

Kombinasi topografi terjal, batuan kapur keras, vegetasi rapat, serta akses yang terbatas inilah yang menyebabkan proses evakuasi pesawat ATR di Gunung Bulusaraung berlangsung lambat dan penuh risiko. Tim SAR harus menggunakan metode vertical rescue dan peralatan khusus untuk menjangkau titik-titik temuan di lereng gunung (dikutip dari Radar Palu–Jawa Pos dan laporan Basarnas).

Di luar peristiwa kecelakaan, Gunung Bulusaraung memiliki nilai ilmiah dan konservasi tinggi. Kawasan karst Maros–Pangkep telah masuk dalam daftar tentatif warisan dunia UNESCO karena keunikan geologi, geomorfologi, dan keanekaragaman hayatinya (dikutip dari UNESCO Tentative List Karst Maros–Pangkep).***

Editor : Muhammad Awaludin
#Radar Palu #Evakuasi SAR #Gunung Bulusaraung #Sulawesi Selatan #Pesawat ATR 42 500 #Karst Maros Pangkep