RADAR PALU - Bulu Saraung, Gunung yang Tak Sekadar Ditinggikan Alam.
Nama Bulu Saraung, atau Gunung Saraung, kembali menjadi perhatian publik setelah kawasan ini disebut dalam pencarian pesawat ATR-500 rute Yogyakarta–Makassar yang sempat hilang kontak dengan petugas pengatur lalu lintas udara (ATC).
Jejak pesawat tersebut akhirnya ditemukan di sekitar wilayah gunung pada Minggu pagi, membuat perhatian masyarakat tertuju pada kawasan yang selama ini lebih dikenal lewat cerita lokal dan jalur pendakian sunyi.
Baca Juga: Sutan Raja Hotel Palu Gandeng NGO Rubalang Gelar Aksi Restorasi Pesisir di Pantai Mamboro
Namun jauh sebelum peristiwa itu, Bulu Saraung telah lama hadir dalam ingatan kolektif masyarakat Makassar dan Gowa sebagai gunung yang tidak hanya menjulang secara fisik, tetapi juga sarat makna sejarah dan spiritual.
Di balik hamparan hijau dan kontur berbukit di perbatasan Makassar dan Gowa, Bulu Saraung berdiri sebagai lanskap alam yang menyimpan lapisan cerita.
Bagi warga sekitar, gunung ini bukan sekadar titik geografis, melainkan ruang sunyi—tempat perenungan, laku spiritual, dan pertemuan manusia dengan nilai-nilai leluhur.
Baca Juga: Penampakan Serpihan Pesawat di Wilayah Sulsel, Operasi Pencarian Terus Diperluas
Jejak Spiritualitas Raja Gowa
Nama I Sultan Alauddin, Raja Gowa ke-14 sekaligus raja pertama Kerajaan Gowa yang memeluk Islam, kerap disebut dalam cerita turun-temurun yang melekat pada gunung ini.
Konon, sebelum dan selama masa transisi besar kerajaan menuju Islam, Sultan Alauddin melakukan tapa atau meditasi di Bulu Saraung.
Gunung ini dipercaya menjadi tempat mencari petunjuk batin-ruang hening untuk memantapkan kepemimpinan dan kebijaksanaan. Karena itu, hingga kini Bulu Saraung dipandang sebagai simbol penting dalam perjalanan spiritual dan sejarah masyarakat Gowa.
Dalam bahasa Makassar, “Bulu” berarti gunung, sementara “Saraung” dimaknai sebagai sarung atau penutup. Secara simbolik, Bulu Saraung dipercaya sebagai “penutup” atau pelindung wilayah Gowa.
Mitos lokal menyebutkan, gunung ini menyimpan energi leluhur dan rahasia alam. Ada kepercayaan bahwa siapa pun yang datang dengan niat buruk atau sikap angkuh bisa mengalami kebingungan arah, seolah alam menolak kehadirannya.
Meski tak tertulis, sejumlah pantangan masih dijaga masyarakat sekitar. Menjaga tutur kata, tidak bersikap sombong, serta menghormati titik-titik tertentu yang dianggap sakral menjadi bagian dari etika lokal.
Bagi warga, pantangan ini bukan bentuk ketakutan, melainkan cara menjaga harmoni antara manusia dan alam.
Baca Juga: Pesawat ATR 42 PK-THT Hilang Kontak, KKP dan IAT Sampaikan Klarifikasi
Di sisi lain, Bulu Saraung juga dikenal di kalangan pencinta alam. Jalur pendakiannya tergolong ramah bagi pendaki pemula hingga menengah, dengan lintasan tanah dan hutan yang relatif masih alami.
Pendaki disarankan memulai perjalanan sejak pagi hari dan membawa perlengkapan dasar seperti sepatu trekking, air minum, serta jas hujan.
Saat cuaca cerah, panorama dari puncak menyuguhkan pemandangan Makassar dan wilayah sekitarnya yang terbentang luas.
Baca Juga: Mengenal ATR 42-500 PK THT, Pesawat IAT yang Hilang Kontak di Rute Jogja-Makassar
Potensi Sumber Daya Alam, Sejarah, dan Kesadaran Baru
Secara ekologis, Gunung Bulu Saraung memiliki peran penting sebagai kawasan penyangga lingkungan. Letaknya yang sekitar 20 kilometer di barat daya Bandara Sultan Hasanuddin menjadikannya kawasan strategis, sekaligus rentan terhadap tekanan pembangunan perkotaan.
Tutupan hutan di kawasan ini berfungsi menjaga keseimbangan ekosistem, terutama dalam mengatur tata air dan mencegah erosi tanah. Vegetasi alaminya menjadi daerah resapan air hujan yang mendukung ketersediaan air tanah bagi permukiman sekitar, khususnya saat musim kemarau.
Keanekaragaman hayati di lereng Bulu Saraung juga menjadi potensi penting. Berbagai jenis tanaman lokal, pepohonan keras, hingga tumbuhan obat tradisional masih dimanfaatkan masyarakat secara terbatas untuk kebutuhan rumah tangga.
Baca Juga: Mengenal ATR 42-500, Pesawat Buatan Eropa yang Hilang Kontak di Sulsel
Selain itu, bentang alam Bulu Saraung memiliki peluang dikembangkan sebagai wisata alam berbasis konservasi.
Aktivitas pendakian ringan, pengamatan alam, dan wisata edukasi lingkungan dinilai dapat dikembangkan tanpa mengorbankan keseimbangan ekosistem.
Dari sisi geologis, kontur perbukitan Bulu Saraung membantu menahan limpasan air hujan dan mengurangi risiko banjir di dataran rendah Makassar dan Gowa.
Bulu Saraung mengajarkan satu hal penting: bahwa alam tidak hanya untuk ditaklukkan, tetapi juga untuk dipahami. Gunung ini menjadi pengingat bahwa sejarah, mitos, dan lingkungan hidup kerap menyatu dalam kesadaran kolektif masyarakat Sulawesi Selatan.
Baca Juga: Wujud Negara Hadir, Jasa Raharja Salurkan Santunan Rp3,22 Triliun Sepanjang 2025
Di tengah geliat wisata alam dan pembangunan kota, Bulu Saraung menawarkan pengalaman yang lebih dari sekadar pendakian—ia mengajak setiap pengunjung untuk berjalan lebih pelan, mendengar lebih dalam, dan menghormati yang tak selalu terlihat. ***
Editor : Mugni Supardi