RADAR PALU – Tim peneliti Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Tadulako (Untad) berhasil mengembangkan prototipe alat peraga digital berbasis kearifan lokal yang dirancang untuk mendukung pembelajaran Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics (STEAM).
Inovasi ini merupakan hasil penelitian yang didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui skema penelitian prototipe tahun 2026. Tim peneliti terdiri atas Prof. Dr. Sahrul Saehana, M.Si sebagai ketua, bersama Dr. Darsikin, M.Si dan Miftah, S.Pd., M.Pd.
Penelitian yang telah dilaksanakan sejak awal tahun 2026 tersebut kini menghasilkan prototipe yang telah diuji coba dalam pembelajaran fisika di sejumlah sekolah di Sulawesi Tengah.
Baca Juga: SOP Pasang Surut FMIPA Untad jadi Solusi Praktis Petambak Donggala
Selain menghasilkan produk, penelitian ini juga menargetkan luaran berupa blueprint pengembangan serta model hilirisasi produk yang siap dikembangkan lebih lanjut.
Pengembangan alat peraga ini dilatarbelakangi oleh masih dominannya metode pembelajaran konvensional dalam pembelajaran sains, khususnya fisika.
Keterbatasan media dan sarana praktikum menyebabkan proses pembelajaran sering berpusat pada guru, sehingga kesempatan peserta didik untuk melakukan eksplorasi dan pembelajaran berbasis pengalaman masih relatif terbatas.
Baca Juga: UNTAD, Danau Purba, dan Masa Depan Ilmu Pengetahuan Wallacea
Di sisi lain, kegiatan praktikum yang telah dilaksanakan di sekolah sering menghadapi kendala karena penggunaan alat ukur manual yang memiliki tingkat ketelitian dan presisi yang kurang optimal.
Menjawab tantangan tersebut, tim peneliti menghadirkan alat peraga digital yang memadukan teknologi pengukuran modern dengan unsur kearifan lokal Sulawesi Tengah. Produk ini memanfaatkan bahan-bahan lokal seperti kayu hitam (eboni), kayu lokal, dan rotan sebagai komponen utama.
Pemanfaatan material lokal tidak hanya memberikan nilai estetika, tetapi juga menjadi bagian dari upaya pelestarian budaya dan pemberdayaan potensi daerah.
Menurut Prof. Dr. Sahrul Saehana, M.Si, alat peraga yang dikembangkan dirancang untuk menghasilkan data pengukuran yang lebih akurat dan presisi dibandingkan metode manual yang umum digunakan di sekolah.
Selain mendukung pelaksanaan praktikum, alat ini juga dirancang untuk mendorong implementasi pembelajaran berbasis STEAM melalui kegiatan yang menuntut kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan pemecahan masalah.
Baca Juga: Mahasiswa KKN UGM-Untad Diingatkan Tak Lupakan Desa
“Melalui inovasi ini, kami ingin menghadirkan media pembelajaran yang tidak hanya memanfaatkan teknologi digital, tetapi juga mengangkat nilai-nilai kearifan lokal sebagai bagian penting dari proses pendidikan,” ujar Prof. Dr. Sahrul Saehana, M.Si, Kamis (10/9)
Prototipe yang dikembangkan telah melalui tahap pengujian laboratorium dan uji implementasi di sekolah. Hasil pengembangan menunjukkan capaian Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT) level 5, yang menandakan bahwa teknologi telah tervalidasi pada lingkungan yang relevan dan memiliki prospek untuk diterapkan lebih luas pada sektor pendidikan.
Potensi pengguna alat peraga digital ini mencakup berbagai jenjang pendidikan, mulai dari SMP, SMA, SMK hingga perguruan tinggi. Tingginya kebutuhan sarana praktikum yang akurat, mudah digunakan, dan terjangkau menjadi peluang bagi pengembangan lebih lanjut produk tersebut.
Baca Juga: Pakar Geofisika Untad Tegaskan Tambang Bawah Tanah Bukan Pemicu Gempa Tektonik
Selain itu, desain yang portabel membuat alat peraga ini mudah dipindahkan dan digunakan di berbagai lokasi pembelajaran sesuai kebutuhan sekolah. Sebagai bagian dari upaya hilirisasi hasil penelitian, produk ini telah diperkenalkan kepada sejumlah kepala sekolah serta guru sains dan fisika di Kota Palu.
Ke depan, tim peneliti berharap inovasi tersebut dapat dimanfaatkan secara lebih luas untuk meningkatkan kualitas pembelajaran sains, memperkuat penerapan pendekatan STEAM, serta mendorong pemanfaatan hasil penelitian perguruan tinggi bagi kemajuan pendidikan di Indonesia.
“Pengembangan alat peraga digital berbasis kearifan lokal ini diharapkan menjadi contoh bagaimana inovasi pendidikan dapat mengintegrasikan teknologi, budaya lokal, dan kebutuhan pembelajaran abad ke-21 secara harmonis,” tutup tim peneliti.
Editor : Wahono.