Peneliti FKIP Untad Hadirkan Alat Peraga Digital Berbasis Kearifan Lokal untuk Pembelajaran STEAM

Wahono. • Dipublikasikan Kamis, 10 September 2026 | 13:26 WIB

 

Sosialisasi alat peraga digital berbasis kearifan lokal kepada kepala sekolah dan guru di Sulawesi Tengah yang dilaksanakan pada Agustus 2026.
Sosialisasi alat peraga digital berbasis kearifan lokal kepada kepala sekolah dan guru di Sulawesi Tengah yang dilaksanakan pada Agustus 2026.

 

RADAR PALU  –  Tim  peneliti  Fakultas Keguruan  dan  Ilmu  Pendidikan  (FKIP) Universitas  Tadulako (Untad) berhasil mengembangkan prototipe alat peraga digital berbasis kearifan lokal yang dirancang  untuk mendukung  pembelajaran  Science,  Technology,  Engineering,  Arts,  and Mathematics (STEAM). 

Inovasi ini merupakan hasil penelitian yang didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui skema penelitian prototipe tahun 2026. Tim peneliti terdiri atas Prof. Dr. Sahrul Saehana, M.Si sebagai ketua, bersama Dr. Darsikin, M.Si dan Miftah, S.Pd., M.Pd.

Penelitian yang telah dilaksanakan sejak awal tahun 2026 tersebut kini menghasilkan prototipe yang telah diuji coba dalam pembelajaran fisika di sejumlah  sekolah  di  Sulawesi  Tengah.  

Baca Juga: SOP Pasang Surut FMIPA  Untad jadi Solusi Praktis Petambak Donggala

Selain  menghasilkan  produk,  penelitian  ini  juga menargetkan luaran berupa blueprint pengembangan serta model hilirisasi produk yang siap dikembangkan lebih lanjut.

Pengembangan alat peraga ini dilatarbelakangi oleh masih dominannya metode pembelajaran konvensional dalam pembelajaran sains, khususnya fisika.

Keterbatasan media dan sarana praktikum  menyebabkan  proses  pembelajaran  sering  berpusat  pada  guru,  sehingga kesempatan  peserta  didik  untuk  melakukan  eksplorasi  dan  pembelajaran  berbasis pengalaman masih relatif terbatas.

Baca Juga: UNTAD, Danau Purba, dan Masa Depan Ilmu Pengetahuan Wallacea

Di sisi lain, kegiatan praktikum yang telah dilaksanakan di sekolah sering menghadapi kendala karena penggunaan alat ukur manual yang memiliki tingkat ketelitian dan presisi yang kurang optimal.

Menjawab  tantangan  tersebut,  tim  peneliti  menghadirkan  alat  peraga  digital  yang memadukan teknologi pengukuran modern dengan unsur kearifan lokal Sulawesi Tengah. Produk ini memanfaatkan bahan-bahan lokal seperti kayu hitam (eboni), kayu lokal, dan rotan sebagai komponen utama.

Pemanfaatan material lokal tidak hanya memberikan nilai estetika, tetapi juga menjadi bagian dari upaya pelestarian budaya dan pemberdayaan potensi daerah. 

Menurut Prof. Dr. Sahrul Saehana, M.Si, alat peraga yang dikembangkan dirancang untuk menghasilkan data pengukuran yang lebih akurat dan presisi dibandingkan metode manual yang umum digunakan di sekolah. 

Selain mendukung pelaksanaan praktikum, alat ini juga dirancang untuk mendorong implementasi pembelajaran berbasis STEAM melalui kegiatan yang menuntut kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan pemecahan masalah.

Baca Juga: Mahasiswa KKN UGM-Untad Diingatkan Tak Lupakan Desa

“Melalui  inovasi  ini,  kami  ingin  menghadirkan  media  pembelajaran  yang  tidak  hanya memanfaatkan  teknologi  digital,  tetapi  juga mengangkat  nilai-nilai  kearifan  lokal  sebagai bagian penting dari proses pendidikan,” ujar Prof. Dr. Sahrul Saehana, M.Si, Kamis (10/9)

Prototipe  yang  dikembangkan  telah  melalui  tahap  pengujian  laboratorium  dan  uji implementasi di sekolah. Hasil pengembangan menunjukkan capaian Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT) level 5, yang menandakan bahwa teknologi telah tervalidasi pada lingkungan yang relevan dan memiliki prospek untuk diterapkan lebih luas pada sektor pendidikan.

Potensi pengguna alat peraga digital ini mencakup berbagai jenjang pendidikan, mulai dari SMP, SMA, SMK hingga perguruan tinggi. Tingginya kebutuhan sarana praktikum yang akurat, mudah digunakan, dan terjangkau menjadi peluang bagi pengembangan lebih lanjut produk tersebut.

Baca Juga: Pakar Geofisika Untad Tegaskan Tambang Bawah Tanah Bukan Pemicu Gempa Tektonik

Selain itu, desain yang portabel membuat alat peraga ini mudah dipindahkan dan digunakan di berbagai lokasi pembelajaran sesuai kebutuhan sekolah. Sebagai bagian dari upaya hilirisasi hasil penelitian, produk ini telah diperkenalkan kepada sejumlah kepala sekolah serta guru sains dan fisika di Kota Palu.

Ke depan, tim peneliti berharap inovasi tersebut dapat dimanfaatkan secara lebih luas untuk meningkatkan kualitas pembelajaran  sains,  memperkuat  penerapan  pendekatan  STEAM,  serta  mendorong pemanfaatan hasil penelitian perguruan tinggi bagi kemajuan pendidikan di Indonesia.

“Pengembangan alat peraga digital berbasis kearifan lokal ini diharapkan menjadi contoh bagaimana  inovasi  pendidikan  dapat  mengintegrasikan  teknologi,  budaya  lokal,  dan kebutuhan pembelajaran abad ke-21 secara harmonis,” tutup tim peneliti.  

Editor : Wahono.
Penelitian FKIP Untad untad Kearifan Lokal sulawesi