
RADAR PALU - Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Palu menyiapkan sejumlah langkah untuk menjaga ketahanan pangan di tengah musim kemarau yang berdampak pada lahan pertanian, khususnya kawasan yang tidak memiliki suplai air.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahana Kota Palu, Lukman, mengatakan salah satu langkah yang dilakukan adalah mendorong petani menyiapkan tempat penampungan air di sekitar area pertanian yang masih memiliki sumber air.
“Musim kemarau ini memang sekarang itu banyak pertanaman di areal-areal kekeringan terutama di tempat yang tidak ada suplai air,” kata Lukman. Rabu, (2/9/2026).
Baca Juga: PAB Morut Capai Rp379,6 Juta hingga Agustus 2026
Menurutnya, petani dapat memanfaatkan berbagai cara sederhana untuk menampung air, seperti menggunakan terpal maupun membuat bak penampungan. Air tersebut digunakan untuk menjaga kelembaban tanaman selama musim kemarau.
“Ketika di suatu tempat ada air kita beri rekomendasi untuk menyiapkan tempat-tempat penampungan. Ada yang petani memanfaatkan terpal, ada yang membuat bak-bak untuk menampung air setidaknya untuk menjaga kelembaban,” ujarnya.
Lukman mengatakan Dinas Pertanian juga terus melakukan pengawalan dan monitoring terhadap sejumlah lokasi pertanian. Dari pemantauan tersebut, beberapa titik pertanaman masih menunjukkan progres yang baik meski berada dalam kondisi kemarau.
Baca Juga: Bupati Buol Temui Investor Jagung di Surabaya, Dorong Peningkatan Produksi dan Investasi Pertanian
Selain pengelolaan air, Dinas Pertanian dan ketahanan pangan Kota Palu mengoptimalkan program Palu Menanam sebagai salah satu upaya menjaga ketersediaan bahan pangan masyarakat.
Program tersebut juga diarahkan untuk memanfaatkan lahan pekarangan rumah sehingga masyarakat dapat menanam dan memenuhi sebagian kebutuhan pangan secara mandiri dengan memanfaatkan air dari rumah.
Lukman menyebut hasil panen dari program tersebut cukup baik. Sebelumnya, dari benih sebanyak 50 kilogram, dapat menghasilkan sekitar 400 kilogram hasil panen.
Baca Juga: Piala Soeratin Jadi Jalan Sulteng Cari Witan Sulaeman Baru
Sementara itu, sejumlah komoditas hortikultura seperti sayuran, tomat dan cabai menjadi tanaman yang rentan terdampak musim kemarau. Cabai menjadi salah satu komoditas yang produksinya berpotensi mengalami penurunan.
“Di musim kemarau ini cabai memang tidak terlalu survive. Produksi dia akan pasti menurun,” ungkap Lukman.
Menurutnya, berkurangnya produksi cabai membuat pasokan ke pasar ikut menurun, sementara kebutuhan masyarakat terhadap cabai tetap tinggi. Kondisi tersebut kemudian dapat menyebabkan harga cabai mengalami kenaikan.
Baca Juga: KI Sulteng Apresiasi Morut Pertahankan Kabupaten Informatif
Untuk menjaga produksi cabai, Dinas Pertanian dan ketahanan pangan kota palu terus mendorong penanaman melalui program Palu Menanam yang dimulai sejak akhir Juni. Tanaman yang ditanam dalam beberapa pekan terakhir diperkirakan mulai memasuki pasar pada Oktober mendatang.
Lukman menambahkan, sejumlah pertanaman juga sempat mengalami serangan penyakit layu akibat kondisi iklim. Meski demikian, produksi tetap berjalan dan beberapa titik seperti Poboya dan Kawatuna terus mendapat pengawalan dari Dinas Pertanian dan ketahanan pangan kota palu.
Ia memastikan upaya antisipasi akan terus dilakukan melalui pendampingan kepada petani, termasuk penyediaan penampungan air sederhana di titik-titik pertanaman. Lukman berharap hujan segera turun sehingga kondisi pertanian kembali normal dan ketahanan pangan Kota Palu tetap terjaga.
Baca Juga: Piala Soeratin U-15 dan U-17 Jadi Jalan Pembinaan Talenta Muda Sulteng
Editor : Annisa Wibdy