SOP Pasang Surut FMIPA  Untad jadi Solusi Praktis Petambak Donggala

Taswin • Dipublikasikan Jumat, 28 Agustus 2026 | 14:54 WIB
.
HASILKAN SOLUSI : Tim dosen dan mahasiswa dari Universitas Tadulako (Untad) secara resmi memulai program pendampingan intensif ke petambak tradisional di Desa Lembasada, Kecamatan Banawa Selatan, Kabupaten Donggala. FOTO: ISTIMEWA

RADAR PALU – Kelompok petambak tradisional di Desa Lembasada, Kecamatan Banawa Selatan, Kabupaten Donggala kini memiliki panduan ilmiah baru untuk mendongkrak hasil panen mereka. 

Sejak, Kamis (27/8) tim dosen dan mahasiswa dari Universitas Tadulako (Untad) secara resmi memulai program pendampingan intensif selama tiga hari (27–29 Agustus 2026) untuk menerapkan sistem tata kelola air tambak yang adaptif dan berbasis alam.

Program bertajuk “Diseminasi dan Implementasi Model Pengelolaan Kualitas Air Berbasis Pasang Surut untuk peningkatan Produktivitas Tambak pada Kelompok Petambak di Kabupaten Donggala” ini merupakan bagian dari hilirisasi hasil penelitian ilmiah Untad. 

Baca Juga: Pemerintah Kecamatan Dampelas Gelar Salat Istisqa 29 Agustus di Tengah Kemarau dan Karhutla
 
Ketua Tim Pengabdian Untad, Pasjan Satrimafitrah, S.Si., M.Si., Ph.D., menjelaskan bahwa lokasi tambak yang terhubung langsung dengan ekosistem mangrove di wilayah Donggala memiliki karakteristik dinamika air yang sangat dinamis. 

Namun, petambak sering kali melakukan pengambilan air (water intake) tanpa memperhitungkan siklus harian air laut, sehingga rentan memasukkan air berkualitas buruk ke dalam tambak.

"Melalui integrasi sensor real-time kualitas air (WQMS) dan pemodelan hidrodinamika 3D yang telah kami uji, kami merumuskan panduan praktis agar petambak tahu kapan waktu terbaik membuka pintu air tambak mereka.

Membuka pintu air tambak pada waktu yang salah bukan hanya menurunkan kadar oksigen, tetapi juga berisiko tinggi mengalirkan racun nitrit ke kolam budidaya,” jelas Dr. Pasjan salah satu perwakilan tim pengabdian.

Baca Juga: Polisi Beberkan Kronologi Insiden di Alfamidi Tombolotutu, Anggota Propam Polda Sulteng Terlibat

Selain Dr. Pasjan, tim pengabdian ini juga diperkuat oleh pakarlintas disiplin Untad, yaitu Mohammad Iqbal, S.Si., M.Sc. (pakar Biologi) dan Nov Irmawati Inda, S.Si., M.Si., Ph.D. (pakar Kimia), serta melibatkan mahasiswa aktif S1 dan S2 Kimia FMIPA Untad (Aulia Sahrani, Miranda Laodo, Andi MuhQadafy, dan Abdi Saputra Wijayanto Peluru) sebagai bentuk pembelajaran lapangan yang aplikatif.
 
Penelitian tim Untad yang dipublikasikan pada jurnal ilmiah Nature Environment and Pollution Technology (2026) menunjukkan bahwa parameter kualitas air seperti OksigenTerlarut (DO), pH, salinitas, dan nitrit di estuari mangrove berfluktuasi secara konsisten mengikuti ritme pasang surut harian ganda (semidiurnal).

Hasil pemantauan menunjukkan kadar Oksigen Terlarut (DO) berada pada titik tertinggi dan paling optimal (mencapai 5,6–7,8 mg/L) saat air surut. Hal ini disebabkan oleh dominasi pasokanair tawar dari hulu yang lebih sejuk serta turbulensi aliran sungaiyang memperkaya oksigen secara alami.
Sebaliknya, petambak sangat diimbau untuk mewaspadai jendela kritis pasca-surut (post-ebb). 

Baca Juga: Terekam CCTV! Juru Parkir Kejar Pria Diduga Polisi dengan Parang, Berujung Penembakan

Beberapa jam setelah air mencapai titik surut terendah (~30 cm), pergerakan arus balikakan mengaduk sedimen lumpur organik di dasar estuari. Proses resuspensi ini memicu lonjakan kadar nitrit berbahaya (berkisarantara 0,015 hingga 0,035 mg/L) ke dalam kolom air. 

Zat kimiaini sangat beracun bagi udang dan ikan jika sampai masuk kedalam ekosistem tambak.
 
Tim Pengabdian Universitas Tadulako merumuskan panduan standar operasional prosedur (SOP) sederhana bagi petambak di Desa Lembasada. Panduan ini disusun untuk membantu petambak menjaga kualitas air tambak dan memastikan air yang masuk berada dalam kondisi aman bagi biota budidaya.

Baca Juga: Safri Tegaskan Penegakan Hukum Kasus Reklamasi Watusampu Tak Boleh Tebang Pilih

1. Pantau — Tunggu Surut Terendah
Petambak dianjurkan mengamati siklus pasang surut air laut. Pengambilan air sebaiknya dilakukan ketika air di muara mencapai fase surut terendah, dengan ketinggian sekitar 30 sentimeter di atas sensor dasar.

2. Verifikasi — Pastikan Parameter Aman
Saat kondisi surut terendah, kualitas air berada pada kondisi yang direkomendasikan. Parameter yang perlu diperhatikan antara lain kadar oksigen terlarut atau Dissolved Oxygen (DO) di atas 6 mg/L serta pH yang relatif stabil di kisaran 8,2.

3. Ambil Air — Nyalakan Pompa atau Buka Pintu Air
Setelah parameter air dinilai aman, pengambilan air dapat dilakukan saat fase surut (low tide). Waktu ini dinilai dapat membantu memaksimalkan proses aerasi alami di dalam tambak.

Baca Juga: Ada Korban Ketiga di Insiden Penembakan di Jln. Tombolotutu, Kena Peluru Nyasar di Bagian Leher

4. Tutup Air — Hindari Pengambilan Saat Arus Balik Pasang
Pengambilan air perlu dihentikan beberapa jam setelah fase surut berakhir. Petambak dianjurkan tidak mengambil air ketika arus balik pasang mulai naik.


Kondisi tersebut perlu dihindari karena sedimen dasar estuari yang teraduk saat arus kembali naik berpotensi membawa senyawa berbahaya, termasuk nitrit, yang dapat mengganggu kehidupan biota budidaya.

Dengan mengikuti tahapan tersebut, petambak diharapkan dapat lebih mudah menentukan waktu yang tepat untuk memasukkan air ke tambak sekaligus menjaga kualitas lingkungan budidaya.***

Editor : MOH FATHAHILA
UniversitasTadulako PetambakDonggala DesaLembasada TambakTradisional PasangSurut