Program EMPOWER Tutup Fase, Save the Children Dorong Praktik Baik Tetap Berlanjut

Wahono. • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 11:26 WIB
Perwakilan Save the Children Indonesia menyerahkan piagam apresiasi kepada mitra sebagai bentuk penghargaan atas dukungan dan kolaborasi dalam pelaksanaan Program EMPOWER, pada Lokakarya Pembelajaran Program EMPOWER di Palu, Kamis (20/8/2026). Foto : Wahono
Perwakilan Save the Children Indonesia menyerahkan piagam apresiasi kepada mitra sebagai bentuk penghargaan atas dukungan dan kolaborasi dalam pelaksanaan Program EMPOWER, pada Lokakarya Pembelajaran Program EMPOWER di Palu, Kamis (20/8/2026). Foto : Wahono

 

RADAR PALU – Save the Children Indonesia bersama Cargill menggelar Workshop Pembelajaran Program EMPOWER bertajuk “Membangun Masa Depan Kakao Berkelanjutan: Sinergi Lintas Sektor untuk Perlindungan Anak dan Pemberdayaan Komunitas di Sulawesi” di Hotel Best Western Palu, Kamis (20/8/2026).

 

Workshop tersebut menjadi ruang berbagi pengalaman dan pembelajaran setelah Program EMPOWER berjalan sejak 2021 di empat kabupaten, yakni Poso di Sulawesi Tengah serta Bone, Soppeng dan Wajo di Sulawesi Selatan.

 

Kegiatan itu menghadirkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah, organisasi masyarakat sipil hingga pelaku rantai pasok kakao. Pembahasan utama diarahkan pada bagaimana membangun ekosistem perlindungan anak sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi keluarga petani.

 

Baca Juga: Dari Lomba Mewarnai hingga Kwartet, Anak Desa Oncone Belajar Jaga Lingkungan

 

Senior Manager Agriculture Portfolio Lead Save the Children Indonesia, Ihwana Mustafa, mengatakan program tersebut telah memasuki tahun terakhir setelah berjalan selama enam tahun dalam dua fase dukungan Cargill.

 

Menurutnya, EMPOWER tidak hanya berbicara mengenai peningkatan produktivitas kakao, tetapi juga memastikan komoditas tersebut dihasilkan melalui rantai pasok yang bertanggung jawab terhadap aspek sosial dan lingkungan.

 

“Masyarakat dunia sekarang ingin mengonsumsi kakao yang dihasilkan oleh orang-orang yang bertanggung jawab terhadap lingkungan dan sosialnya. Mereka tidak mau mengonsumsi kakao yang dihasilkan anak-anak dengan harus meninggalkan sekolah,” ujar Ihwana.

 

Ia menjelaskan, salah satu capaian program terlihat dari penguatan Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM). Selama program berlangsung, sebanyak 745 isu perlindungan anak berhasil ditangani, mulai dari anak putus sekolah, persoalan akta kelahiran, pekerja anak hingga akses perlindungan sosial.

 

Selain itu, EMPOWER telah menjangkau lebih dari 14 ribu petani dan lebih dari 20 ribu anggota masyarakat. Sebanyak 53 kelompok Village Savings and Loan Association (VSLA) juga terbentuk dengan lebih dari 700 anggota.

 

Baca Juga: Ipda Andi Yusnar, Polisi Polresta Palu yang Dirikan TPQ Gratis untuk Anak-Anak

 

Dari kelompok tersebut, tercatat tabungan masyarakat mencapai sekitar Rp2,4 miliar. Dana tersebut kemudian dipinjam kembali untuk kebutuhan produktif, terutama pertanian, pendidikan, kesehatan dan kebutuhan rumah tangga.

 

Ihwana menyebut program juga mendorong peningkatan pendapatan rumah tangga. Berdasarkan studi yang dilakukan, rata-rata pendapatan keluarga penerima manfaat meningkat dari sekitar Rp1,6 juta menjadi Rp3,4 juta per bulan.

 

Sementara itu, Director Humanitarian and Program Operations Save the Children Indonesia, Fadli Usman, menegaskan perlindungan anak menjadi tujuan utama program dengan memanfaatkan kakao sebagai aset ekonomi masyarakat.

 

“Program ini pemberdayaan masyarakat. Kita gerakkan ekosistem mulai dari Cargill, pemerintah hingga kelompok-kelompok masyarakat. Tujuan utamanya adalah perlindungan anak, tetapi kita melihat aset terbesar masyarakat adalah kakao,” jelasnya.

 

Fadli menambahkan, program juga berupaya mencegah pekerja anak dan perkawinan dini. Dalam pelaksanaannya, lebih dari 1.000 anak teridentifikasi dalam pemantauan program, termasuk lebih dari 100 anak yang masuk kategori pekerja anak di empat kabupaten.

 

Baca Juga: BPK Wilayah XVIII Dorong Anak Muda Palu Aktif Lestarikan Budaya

 

Ia berharap berakhirnya dukungan program tidak menghentikan praktik baik yang telah dibangun. Keberlanjutan PATBM, kelompok simpan pinjam, literasi keuangan dan pemberdayaan petani muda diharapkan terus berjalan secara mandiri.

 

“Program memang selesai, tetapi edukasi tetap berjalan. Masyarakat yang melanjutkan program secara mandiri itulah yang menjadi ukuran bahwa edukasi kami berhasil,” pungkasnya.

Editor : Wahono.
EMPOWER palu anak PATBM Save The Children