RADAR PALU – Kelompok Wanita Tani (KWT) menjadi salah satu pilar utama dalam pelaksanaan Program Kelurahan Menanam di Kota Palu. Pemerintah Kota Palu melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) menilai keterlibatan perempuan dalam mengelola lahan menjadi faktor penting untuk mendorong keberhasilan program sekaligus meningkatkan ketahanan pangan masyarakat.
Kepala DPKP Kota Palu, Lukman, mengatakan hampir di setiap kelurahan yang mengikuti program tersebut, KWT dilibatkan sejak tahap awal, mulai dari penyemaian benih, penanaman, perawatan tanaman, hingga pengelolaan hasil panen.
Menurutnya, pola kerja kolaboratif antara KWT dan masyarakat telah menunjukkan hasil positif di sejumlah wilayah.
Baca Juga: DPRD Palu Minta Pelatihan UMKM Diperbanyak, Akses Pasar Juga Harus Diperluas
Salah satu contoh berada di Kelurahan Baiya. Di kawasan itu, KWT bersama warga mengelola lahan sekitar 3.000 meter persegi untuk budidaya cabai. Sejak awal, kelompok tersebut juga telah menyepakati sistem pembagian hasil sehingga kegiatan pertanian dijalankan dengan pendekatan usaha yang berkelanjutan.
"Di beberapa tempat, KWT itu sangat menonjol. Saya contohkan itu Kelurahan Baiya. Mereka berkolaborasi dengan para lelaki. Mereka siapkan pembibitan, dan para lelaki yang menyiapkan lahannya," kata Lukman kepada Radar Palu, Senin (20/7/2026).
Ia menilai model tersebut dapat menjadi contoh bagi kelurahan lain karena tidak hanya mampu mengoptimalkan lahan tidur, tetapi juga membuka peluang tambahan pendapatan bagi masyarakat.
Baca Juga: Tenaga Kerja IMIP Tembus 97 Ribu, Dorong Pertumbuhan Lapangan Kerja Formal di Sulteng
"Memang ini bisa berorientasi pada bisnis. Tidak perlu banyak kepala tapi bikin pusing, namun sebaliknya sedikit kepala tapi serius menjalankan. Jadi bisa mendatangkan pendapatan yang baik," ujarnya.
Selain Baiya, Program Kelurahan Menanam juga mulai berjalan di sejumlah wilayah lain, seperti Pantoloan, Kayumalue Ngapa, Kawatuna, Poboya, Petobo, hingga Donggala Kodi. Sebagian lokasi telah memasuki masa tanam, sementara lainnya masih mempersiapkan lahan dan sistem pengairan.
Untuk memperkuat kemampuan kelompok tani, DPKP Kota Palu juga menyiapkan program pendampingan melalui sekolah lapang. Program tersebut akan membekali peserta dengan berbagai keterampilan, mulai dari teknik budidaya tanaman, pembuatan pupuk organik, pestisida nabati, hingga pengendalian hama dan penyakit tanaman.
"Pelatihan sejenis sudah kami lakukan secara paralel sebelumnya, jadi sudah duluan ilmunya ke masyarakat walaupun belum semua terurai. Tapi hasil monev nantinya akan saya cermati permasalahan yang ada, dikelompokkan, lalu dibuatkan sekolah lapang untuk menjawab permasalahan tersebut," tutup Lukman.***
Editor : Muhammad Awaludin