RADAR PALU – Program Kelurahan Menanam yang digagas Pemerintah Kota Palu masih menghadapi sejumlah tantangan. Hingga pertengahan Juli 2026, realisasi program tersebut baru mencapai sekitar 10 hingga 20 persen dari target yang telah ditetapkan.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kota Palu, Lukman, mengatakan lambatnya realisasi dipengaruhi keterbatasan lahan dan sumber air di sejumlah kelurahan.
"Targetnya memang masih sangat kecil. Baru sekitar 10-20 persen dari target," kata Lukman saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (20/7/2026).
Baca Juga: 200 Wirausaha Pemula di Kota Palu Akan Terima Bantuan Modal Rp5 Juta
Program Kelurahan Menanam merupakan inisiatif Wali Kota Palu untuk mengoptimalkan lahan tidur di 46 kelurahan menjadi kawasan pertanian produktif berbasis lima komoditas unggulan. Setiap kelurahan ditargetkan menyediakan lahan seluas satu hektare yang akan dikembangkan sesuai potensi komoditas masing-masing.
Meski demikian, Lukman menegaskan pemerintah tidak ingin hanya mengejar target luasan tanam. Menurutnya, membangun kesadaran masyarakat agar mau mengelola lahan tidur menjadi prioritas utama.
"Lahan tidur itulah yang kita sasar. Sebelum lahannya kita bangunkan, tentu orangnya dulu yang kita bangunkan. Proses sekarang ini adalah membagikan semangat kepada masyarakat," ujarnya.
Baca Juga: Layanan NIB Gratis di Car Free Day Dinilai Permudah UMKM Urus Legalitas Usaha
Selain membangun partisipasi masyarakat, DPKP juga menghadapi persoalan teknis berupa keterbatasan sumber air. Menurut Lukman, banyak warga bersedia meminjamkan lahannya, namun lokasi tersebut belum didukung pasokan air yang memadai.
"Kami masalah air. Banyak yang memberikan lahan, tapi tidak ada air. Ini menjadi kendala dan tantangan kami," ungkapnya.
Tantangan lainnya muncul di kawasan padat penduduk yang sulit menyediakan lahan seluas satu hektare. Untuk mengatasi kondisi tersebut, DPKP menyiapkan alternatif budidaya menggunakan polybag.
"Siapapun bisa menerka bahwa mencari lahan di Besusu Barat, Besusu Tengah, Besusu Timur, Lolu Selatan, Ujuna dan Kampung Baru tidak semudah yang kita bayangkan. Makanya kami menyiapkan pola berikutnya yakni dengan pendekatan polybag," jelasnya.
Di tengah berbagai kendala, seluruh kelurahan disebut telah menerima distribusi benih. DPKP mencatat komoditas seperti bawang, cabai, tomat, kangkung, dan sawi hijau sudah mulai ditanam. Bahkan, beberapa lokasi telah memasuki masa panen kangkung, sementara lokasi lainnya menunggu distribusi benih tahap berikutnya.
Lukman berharap program tersebut tidak hanya mendorong pemanfaatan lahan tidur, tetapi juga mampu meningkatkan kemampuan masyarakat mengelola pertanian secara mandiri dan menghasilkan komoditas bernilai ekonomi.
"Dari kegiatan yang masih awal ini, kalau kita jalankan dengan benar bisa jadi rezeki untuk mereka. Istilahnya multiplier effect yang bisa ditularkan atau disaksikan oleh masyarakat," pungkasnya.***
Editor : Muhammad Awaludin