RADAR PALU - Gelombang aksi demonstrasi Jilid II yang digelar Alinsi Buruh dan Rakyat Berkuasa (BURASA) di depan Kantor Gubernur Sulawesi Tengah, Selasa (12/05/2026), tidak hanya menyuarakan tuntutan kesejahteraan.
Di Tengah orasi massa, muncul kecaman tajam terhadap sejumlah tokoh media sosial yang dinilai membentuk sudut pandang negatif terhadap gerakan aliansi pasca demonstrasi jilid I pada Jumat, (01/05/2026).
Koordinator lapangan aksi, Fajar, menyayangkan tindakan sejumlah tokoh influence yang dianggap mencoba "menggoreng" aksi melalui berbagai saluran media sosial. Menurutnya, beberapa influencer yang diketahui berada di pihak kampanye gubernur dinilai menggiring opini publik terhadap perjuangan massa aksi.
Baca Juga: Sembunyi di Rumah Warga, Pelaku Penganiayaan di Palu Ditangkap Polisi
"Ada beberapa video yang kami lihat, kami saksikan bersama di beberapa platform media bahwasanya ada beberapa oknum influencer yang mencoba menggoreng, mencoba memframing buruk pergerakan kawan-kawan aliansi yang memperjuangkan hak-hak kawan-kawan pekerja," ujarnya saat dimintai keterangan.
Pernyataan serupa juga dilontarkan oleh Koordinator lapangan Universitas Al- Khairat Thalib dalam orasinya. Ia mempertanyakan informasi yang simpang siur mengenai kondisi Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid.
Thalib merujuk pada perkataan tokoh influencer yang menyebut Gubernur tengah sakit, sementara laporan lain menyebut yang bersangkutan berada di Jakarta.
Baca Juga: Kementan, TNI AL, dan Pemkab Nganjuk Kolaborasi Pacu Swasembada Kedelai Nasional
"Ada influencer yang mengatakan bahwa pak Gubernur ini sakit, tapi ada laporan pak Gubernur ke Jakarta. Mana yang dipercaya sebenarnya? Apakah yang di media? atau laporan pak Gubernur ke Jakarta?," kata Ridwan
Ridwan pun melontarkan tantangan terbuka. Menurutnya, para influencer jangan hanya berani bersembunyi di media sosial.
Mereka harus punya nyali untuk berdiri dan beradu argumen langsung dengan massa aksi. (*)
Baca Juga: Bawaslu Sigi Dorong Demokrasi Inklusif, Edukasi Politik Penyandang Disabilitas di SLB Porame
Editor : Agung Sumandjaya