RADAR PALU — Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Palu kembali mencatat langkah besar dalam pengembangan industri energi hijau di Indonesia timur.
Penandatanganan nota kesepahaman antara KEK Palu dan Aslan Energy Capital PTE LTD asal Singapura menghadirkan investasi senilai 1,73 miliar USD atau sekitar Rp30 triliun untuk pembangunan Battery Energy Storage System (BESS) dan Terminal LNG di kawasan KEK Palu.
Nilai investasi tersebut menjadikannya salah satu proyek strategis terbesar di Sulawesi Tengah dalam sektor energi masa depan.
Baca Juga: Kejati Sulteng Setujui Restorative Justice Kasus Pencurian Laptop di Palu
Proyek ini juga diproyeksikan membuka sekitar 1.300 lapangan kerja langsung dan ribuan peluang kerja tidak langsung bagi masyarakat.
Palu Dibidik Jadi Pusat Energi Hijau
Investasi ini dinilai berpotensi memperkuat posisi KEK Palu sebagai kawasan industri dan perdagangan di Indonesia timur.
Efek ekonominya diperkirakan menjalar ke sektor logistik, konstruksi, jasa, transportasi, hingga pelaku UMKM lokal.
Baca Juga: Dedikasi Personel Polda Sulteng AKP Siti dan Bripka Hamzah Antar ke Nominasi Hoegeng Awards 2026
Selain mendorong arus investasi asing, proyek tersebut juga diharapkan mempercepat pembangunan infrastruktur kawasan industri dan memperluas aktivitas ekonomi daerah.
Investor Fokus Energi Masa Depan
Aslan Energy Capital PTE LTD merupakan perusahaan energi berbasis di Singapura yang fokus pada pengembangan energi transisi dan energi hijau.
Perusahaan yang berdiri sejak 2019 itu bergerak di sektor green hydrogen, blue ammonia, sustainable aviation fuel (SAF), LNG, serta infrastruktur penyimpanan energi.
Aslan diketahui mengembangkan sejumlah proyek energi internasional, termasuk proyek hidrogen hijau di Indonesia dan Meksiko.
Salah satu proyek yang tengah dikembangkan berada di Batam dengan target keputusan investasi final pada 2026.
Dalam profil resminya, Aslan Energy Capital menyebut Indonesia sebagai salah satu “hub market” utama dalam pengembangan infrastruktur energi bersih di kawasan Asia.
Tantangan Realisasi Proyek
Meski nilai investasinya besar, realisasi proyek tetap bergantung pada sejumlah faktor pendukung.
Mulai dari kepastian lahan dan perizinan, kesiapan infrastruktur, kualitas SDM lokal, hingga stabilitas pasokan energi.
Sebab, nota kesepahaman atau MoU belum otomatis membuat proyek langsung masuk tahap pembangunan penuh.***
Editor : Muhammad Awaludin