RADAR PALU – Hilal Syawal 1447 H di Palu tidak terlihat saat proses rukyat pada Kamis (19/3/2026). Kondisi cuaca berawan menjadi penyebab utama, sehingga penentuan Lebaran menunggu hasil sidang isbat pemerintah.
Pengamatan hilal dilakukan oleh tim Stasiun Geofisika Palu di Gedung Menara Hilal Kemenag, Marana, sejak pukul 16.00 hingga 19.00 WITA.
Namun hingga matahari terbenam, hilal Syawal 1447 H Palu tidak berhasil diamati. Awan yang menutup ufuk barat membuat objek bulan sabit awal Syawal tidak terlihat secara visual.
Secara perhitungan, konjungsi terjadi pada pukul 09.23 WITA. Saat matahari terbenam pukul 18.11 WITA, posisi bulan sudah berada di atas ufuk dengan tinggi sekitar 1 derajat 56 menit.
Elongasi bulan tercatat sekitar 5 derajat dengan umur bulan 8 jam 48 menit. Sementara fraksi iluminasi bulan masih sangat kecil, yakni 0,17 persen, sehingga hilal sangat tipis dan sulit diamati.
Selama proses rukyat, kondisi cuaca di lokasi terpantau berawan dengan suhu sekitar 29 derajat Celsius. Kelembaban udara mencapai 81 persen dengan tekanan 1009 mb.
Kabut tipis juga sempat muncul di beberapa titik, memperparah keterbatasan jarak pandang ke arah ufuk barat.
Hasil rukyat ini menjadi salah satu rujukan dalam sidang isbat yang digelar oleh Kementerian Agama Republik Indonesia.
Sidang tersebut akan menentukan secara resmi kapan 1 Syawal 1447 Hijriah atau Hari Raya Idulfitri ditetapkan di Indonesia.
Meski hilal Syawal 1447 H Palu tidak terlihat, masyarakat diimbau tetap menunggu hasil sidang isbat sebagai acuan resmi penetapan Hari Raya Idulfitri.***