RADAR PALU – Laju penurunan angka kemiskinan di Kota Palu yang dinilai masih lambat mendorong pemerintah daerah menyiapkan formula baru pada 2026.
Program tersebut difokuskan pada bantuan modal usaha bagi masyarakat miskin yang dibarengi pendampingan bisnis agar bantuan benar-benar berdampak
Plt. Kepala Bappeda Kota Palu, Ahmad Rizal Arma, menjelaskan bahwa langkah tersebut diambil karena tren penurunan angka kemiskinan di Kota Palu selama lima tahun terakhir dinilai masih relatif kecil.
“Tren penurunan kemiskinan kita untuk lima tahun terakhir itu hanya di angka rata-rata 0,3 persen. Jadi itu tipis,” ujar Rizal kepada Jawa Pos Radar Palu saat ditemui pada Selasa (10/3/2026).
Menurutnya, Pemerintah Kota (Pemkot) bersama Wali Kota Palu dan Wakil Wali Kota berupaya mencari formula agar bantuan yang diberikan benar-benar tepat sasaran dan memberikan dampak nyata bagi penerima manfaat.
“Jangan sampai bantuan itu banyak, tapi tidak tepat sasaran. Atau tepat sasaran, tapi tidak ada pendampingan,” katanya.
Ia menambahkan, pendampingan menjadi bagian penting dalam program tersebut. Oleh karena itu, organisasi perangkat daerah (OPD) serta inkubator bisnis akan dilibatkan secara aktif dalam melakukan pendampingan kepada para penerima bantuan.
Rizal mengatakan bantuan modal usaha yang diberikan memiliki nilai sekitar Rp2 juta dan disesuaikan dengan jenjang kebutuhan. Bantuan tersebut tidak hanya berupa dana, tetapi juga dapat berupa peralatan kerja.
“Ada bentuk dana, kombinasi dengan bentuk modal kerja. Modal kerja itu alat-alat peralatan dan segala macam,” ungkapnya.
Terkait realisasi program pada tahun ini, Rizal menyebut pemerintah masih melakukan proses monitoring dan evaluasi karena program masih berada di awal tahun pelaksanaan.
Sementara itu, Ia juga menegaskan inkubator bisnis akan memiliki peran penting dalam memastikan penerima bantuan tepat sasaran sekaligus memberikan pendampingan usaha.
“Inkubator bisnis punya peran aktif di situ untuk lakukan pendampingan-pendampingan. Jadi dilakukan verifikasi oleh inkubator bisnis itu memastikan yang dibantu tepat sasaran,” ujarnya.
Namun demikian, Rizal mengakui keberadaan inkubator bisnis saat ini masih terbatas sehingga perlu ada upaya penguatan dan perluasan cakupan.
“Inkubator bisnis sebenarnya kan masih terbatas. Sehingga perlu ada upaya penambahan, ada upaya penguatan sehingga nanti coverage-nya semakin luas,” jelasnya.
Menurutnya, ke depan inkubator bisnis diharapkan dapat menghadirkan lebih banyak fasilitator hingga pada tahap keluaran program agar proses pendampingan dapat berjalan lebih cepat.
Untuk target penurunan kemiskinan tahun 2026, Pemkot Palu menargetkan angka kemiskinan berada di bawah 5 persen. “Kita upayakan ya,” pungkasnya.(rna)
Editor : Mugni Supardi