Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Menjelang Wisuda, Mahasiswa Palu Pilih Kerja atau Fokus Skripsi?

Ade Safitri • Kamis, 19 Februari 2026 | 17:09 WIB
Psikolog Klinis Puskesmas Singgani, Ade Sintya Indrayani, saat menerima pasien
Psikolog Klinis Puskesmas Singgani, Ade Sintya Indrayani, saat menerima pasien

RADAR PALU - Menjelang wisuda, tekanan itu terasa makin dekat. Revisi belum selesai, tenggat makin sempit.

Di saat yang sama, sebagian mahasiswa tingkat akhir di Palu justru memilih bekerja. Ada yang mengejar pengalaman. Ada yang karena kebutuhan. 

 

 

 

RA, mahasiswi semester delapan, pernah bekerja sebagai konten kreator di salah satu brand minuman lokal. 

Baginya, lulus tanpa pengalaman kerja terasa berisiko.

“Prinsipku sebelum lulus harus sudah punya exposure dunia kerja, biar CV tidak kosong dan tidak kaget nanti,” katanya, Kamis (19/2/2026).

Namun ritmenya tidak selalu mulus. Energi sering habis di pekerjaan. Skripsi pun tertunda.

Ia sempat mencoba membagi waktu dengan jadwal ketat. Tapi rasa lelah kerap datang lebih dulu. 

Kini RA memilih sistem freelance. Lebih fleksibel, meski tetap butuh disiplin tinggi.

“Skripsi itu butuh fokus panjang. Kalau kerjaan terlalu demanding, bisa burnout,” ujarnya.

Cerita berbeda datang dari Moh Iqbal. Mahasiswa semester delapan ini bekerja sebagai daily worker di perusahaan e-commerce.

Motivasinya lebih sederhana: ingin meringankan beban orang tua.

“Saya tidak mau terlalu bergantung untuk biaya bensin, UKT, dan lainnya,” katanya, Rabu (18/2/2026).

Iqbal bekerja malam hari. Pagi istirahat. Siang mengurus skripsi. Pola yang melelahkan, tapi menurutnya masih bisa dijalani.

Ia mengakui pernah berada di titik dilema antara mengejar revisi atau memenuhi jadwal kerja. Namun komunikasi dengan atasan membantunya mencari jalan tengah.

Menurutnya, pekerjaan yang fleksibel lebih realistis bagi mahasiswa akhir. 

“Selain atur waktu, kita juga harus atur tenaga. Kalau fisik habis, susah fokus skripsi,” ujarnya.

Psikolog Klinis Puskesmas Singgani, Ade Sintya Indrayani, melihat fenomena ini sebagai hal yang wajar.

Mahasiswa tingkat akhir, menurutnya, umumnya sudah lebih mengenal kapasitas diri.

“Kadang kerja itu jadi bentuk pelarian dari tekanan skripsi,” katanya.

Namun ia mengingatkan agar mahasiswa tetap peka terhadap tanda kelelahan mental. Gangguan tidur, mudah tersinggung, hingga menarik diri dari pergaulan bisa menjadi alarm.

Ambisi mandiri boleh saja. Tapi kesehatan tetap harus dijaga***

Editor : Muhammad Awaludin
#mahasiswa palu #Radar Palu #kerja sambil skripsi #kuliah sambil kerja #psikolog Palu #burnout mahasiswa