RADAR PALU - Upaya menekan stunting di Kota Palu terus diarahkan ke pencegahan. Pemerintah kota memilih masuk lebih awal, menyasar keluarga yang berisiko sebelum kasus baru muncul.
Pendekatan ini dijalankan Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P2KB) melalui sejumlah program yang berjalan sepanjang 2025.
Kepala Bidang Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga DP2KB Kota Palu, I Komang Gd Woliantara, mengatakan ada empat program utama yang difokuskan untuk pencegahan stunting.
“Semua program berjalan di 2025 dan menunjukkan tren penurunan berdasarkan data berbasis masyarakat,” ujarnya, Selasa (10/2/2026).
Menurut Komang, strategi yang ditempuh lebih menitikberatkan pada intervensi promotif dan preventif, terutama pada keluarga berisiko stunting.
“Intervensi sensitif ini dampaknya bisa sampai 70 persen untuk menekan munculnya kasus baru,” katanya.
Salah satu program yang dijalankan adalah Taman Asuh Sayang Anak (Tamasya). Program ini menyasar tempat penitipan anak dengan pendampingan pola asuh bagi pengasuh baduta.
“Anak bisa lahir normal, tapi pola asuh yang tidak tepat bisa memicu stunting. Itu yang kita cegah,” ujarnya.
Program lain adalah Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting), yang mendampingi keluarga berisiko sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun.
Program ini melibatkan dukungan pihak swasta dan lembaga lain untuk membantu pemenuhan kebutuhan dasar keluarga sasaran.
Selain itu, Dinas P2KB juga menyasar remaja melalui program Generasi Berencana (Genre) Goes to School. Edukasi diberikan kepada pelajar SMP terkait pernikahan dini, seks bebas, dan penyalahgunaan narkoba.
“Tiga perilaku ini berpotensi memicu kehamilan tidak direncanakan dan berujung pada risiko stunting,” kata Komang.
Dari sisi ekonomi, P2KB menjalankan Sekolah Khusus Keluarga. Sebanyak 30 keluarga didampingi sepanjang 2025 untuk memperkuat kemandirian ekonomi rumah tangga.
“Kalau ekonomi keluarga baik, akses gizi dan layanan kesehatan juga lebih baik,” ujarnya.
Komang menegaskan penurunan stunting membutuhkan kolaborasi lintas sektor melalui pendekatan pentahelix, termasuk peran media dalam edukasi publik.***
Editor : Muhammad Awaludin