RADAR PALU - Bagi banyak warga Palu, Bundaran STQ bukan sekadar simpang jalan di Soekarno-Hatta.
Di titik itu, pernah berdiri Monumen Iqra yang selama bertahun-tahun menjadi penanda sebuah fase penting dalam perjalanan kota.
Revitalisasi Bundaran STQ di Jalan Soekarno-Hatta, Palu, mengubah wajah kawasan yang selama ini akrab bagi masyarakat.
Perubahan itu sekaligus menghilangkan Monumen Iqra yang berdiri di tengah bundaran dan telah lama menjadi penanda kawasan tersebut.
Bagi sebagian warga, monumen itu bukan hanya elemen visual kota, melainkan bagian dari ingatan bersama.
Koordinator Komunitas Historia Sulteng, Mohamad Herianto, menyebut Monumen Iqra merekam peristiwa nasional yang pernah berlangsung di Palu.
Monumen tersebut dibangun untuk menyambut STQ Nasional XI pada 1995 dan kembali dimaknai saat MTQ Nasional XIX digelar pada 2–9 Juni 2000.
MTQ Nasional XIX dibuka langsung Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, di tengah situasi sosial yang sensitif akibat konflik di Kabupaten Poso.
“Monumen ini bukan sekadar ornamen kota. Ia penanda bahwa Palu pernah menjadi panggung peristiwa nasional,” ujar Herianto, Selasa (3/2/2026).
Seiring waktu, masyarakat lebih mengenal kawasan itu sebagai Bundaran STQ, merujuk pada keberadaan monumen bertuliskan “Iqra”.
“Nama itu hidup di percakapan sehari-hari warga. Artinya, monumen ini sudah menjadi bagian dari memori kolektif,” katanya.
Herianto menilai, di banyak daerah lain, monumen peninggalan STQ atau MTQ Nasional tetap dipertahankan sebagai bagian dari identitas kota.
Ia mencontohkan Kota Kendari yang masih menjaga monumen serupa sebagai pengingat sejarah.
Menurutnya, hilangnya Monumen Iqra tidak harus dimaknai sebagai akhir dari cerita kawasan tersebut.
Namun, ia berharap pemerintah kota tetap menghadirkan penanda sejarah di lokasi Bundaran STQ.
Penanda itu bisa berupa plakat, tugu kecil, atau bentuk memorial lain yang memberi konteks bagi generasi berikutnya.
“Setidaknya ada jejak yang mengingatkan bahwa tempat ini pernah punya cerita penting bagi Palu dan Sulawesi Tengah,” tutupnya.***
Editor : Muhammad Awaludin