RADAR PALU – Suasana berbeda terasa saat memasuki lingkungan SMAN 3 Palu, Rabu (21/1/2026). Tidak ada teriakan dari pengeras suara atau kegaduhan siswa yang tak terkendali. Yang tampak justru interaksi hangat, budaya tabe, siswa berolahraga ringan, hingga sapaan santun kepada guru yang melintas.
Ketenteraman itu lahir dari pendekatan kepemimpinan humanis yang diterapkan Kepala SMAN 3 Palu, Idris Ade. Ia menolak pola pendidikan berbasis amarah dan tekanan keras. Menurutnya, karakter dan kepemimpinan siswa tidak akan tumbuh dalam suasana yang penuh bentakan.
“Anak-anak kalau terus ditekan dengan kasar, tidak akan menghasilkan pemimpin,” tegas Idris.
Idris memandang siswa sebagai individu yang sedang dibentuk karakternya. Ia mengibaratkan proses pendidikan layaknya membentuk berlian yang membutuhkan tekanan, namun bukan tekanan yang melukai.
“Berlian memang lahir dari tekanan, tapi tekanan yang tepat akan menghasilkan kualitas terbaik,” tuturnya.
Meski mengedepankan kasih sayang, Idris memastikan disiplin tetap ditegakkan. Namun, pendekatan yang dipilih bukan represif, melainkan sanksi sosial yang mendidik. Siswa yang melanggar aturan diwajibkan melakukan kerja bakti menjaga kebersihan lingkungan sekolah selama satu pekan.
“Ditegur bukan dengan keras, tapi dengan tegas. Mereka harus membuktikan bahwa dirinya bermanfaat bagi lingkungan,” jelas Idris.
Pendekatan ini justru menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kepedulian siswa terhadap lingkungan sekolah, tanpa menimbulkan rasa takut berlebihan.
Untuk pelanggaran serius seperti sering bolos atau mengabaikan kewajiban belajar, Idris tetap bersikap tegas. Siswa bisa tidak naik kelas, tidak diluluskan, bahkan dikeluarkan. Namun, keputusan itu selalu dibarengi pendekatan personal.
Alih-alih memutus masa depan siswa, Idris memilih berdialog layaknya hubungan ayah dan anak.
“Saya tanya baik-baik, mau pindah ke sekolah mana? Biar saya bantu hubungi kepala sekolahnya,” ujarnya.
Menurut Idris, langkah ini diambil demi menyelamatkan masa depan siswa. Ia meyakini, lingkungan baru bisa menjadi titik balik perubahan perilaku.
Baginya, mengeluarkan siswa tanpa solusi justru berisiko memperburuk kondisi psikologis dan masa depan anak. Pendidikan, kata Idris, harus menghadirkan ketegasan yang manusiawi.***
Editor : Muhammad Awaludin