RADAR PALU – Ketika banyak sekolah memilih menyimpan bantuan teknologi karena khawatir rusak, SD Negeri 5 Palu justru mengambil langkah berani. Sekolah ini membolehkan siswa membawa pulang Chromebook ke rumah sebagai bagian dari percepatan adaptasi teknologi dalam proses belajar.
Kebijakan tersebut diambil langsung oleh Kepala SDN 5 Palu, Asira Husain, yang menilai perangkat pendidikan akan jauh lebih bermanfaat jika benar-benar digunakan oleh guru dan siswa.
“Saya lebih baik Chromebook itu rusak karena dipakai oleh guru dan siswa, daripada rusak karena disimpan di lemari,” kata Asira, Selasa (20/1/2026).
Saat ini, sebanyak 61 unit Chromebook telah digunakan oleh siswa SDN 5 Palu. Meski terkesan berisiko, kebijakan ini disertai sistem pengamanan berlapis. Pihak sekolah melakukan sinkronisasi perangkat sehingga akses ke situs negatif dan pornografi diblokir sepenuhnya.
Tak hanya itu, sekolah juga menjalin nota kesepahaman (MoU) dengan orang tua murid untuk memastikan penggunaan Chromebook di rumah tetap dalam pendampingan.
Pemanfaatan perangkat digital ini menjadi solusi ketika pembelajaran tatap muka tidak dapat dilakukan secara optimal. Melalui aplikasi Classroom, guru dan siswa tetap dapat menjalankan kelas daring secara efektif.
“Siswa bisa dipantau dari rumah. Di kelas juga dipasang CCTV, sehingga guru bisa memantau dari mana saja,” jelas Asira.
Meski mendorong pembelajaran berbasis digital, SDN 5 Palu tidak sepenuhnya meninggalkan metode konvensional. Buku tulis dan pembelajaran manual tetap digunakan sebagai penyeimbang agar kemampuan dasar siswa tetap terjaga.
Sekolah bahkan menetapkan dua hari khusus untuk kelas digital, strategi yang diharapkan mampu meningkatkan motivasi belajar siswa sekaligus membiasakan penggunaan teknologi pendidikan berstandar internasional sejak dini.
Langkah SDN 5 Palu ini menjadi gambaran bahwa transformasi pendidikan tidak hanya soal ketersediaan perangkat, tetapi juga keberanian mengambil kebijakan progresif demi masa depan peserta didik.***
Editor : Muhammad Awaludin