RADAR PALU – Keterbatasan sarana fisik tak selalu berbanding lurus dengan kualitas pendidikan. SMP Negeri 12 Palu membuktikan bahwa karakter dan kedisiplinan siswa dapat tumbuh kuat meski sekolah belum didukung infrastruktur ideal. Dengan pagar sekolah yang masih berupa lembaran seng, tingkat pelanggaran di sekolah ini justru terbilang sangat rendah.
Alih-alih mengandalkan aturan kaku dan sanksi berat, SMPN 12 Palu memilih menanamkan nilai karakter melalui pembiasaan sehari-hari. Pendekatan ini dinilai efektif membentuk kesadaran siswa, bukan sekadar kepatuhan karena takut hukuman.
Konselor Sekolah sekaligus Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Ahmad Zakin Kurniawan, mengungkapkan bahwa kasus bolos hampir tidak pernah terjadi, meski secara fisik sekolah memiliki akses terbuka tanpa penjagaan ketat.
“Untuk bolos mungkin satu-dua orang saja. Tapi secara umum, tidak ada yang mau keluar sampai bolos. Padahal di depan ini tidak ada satpam,” ujar Zakin saat ditemui di sekolah, Selasa (13/1/2026).
Menurutnya, integritas siswa justru paling terlihat saat jam istirahat. Banyak siswa yang keluar area sekolah untuk membeli jajanan di kios sekitar, namun seluruhnya kembali ke sekolah tanpa paksaan.
Tak hanya soal kedisiplinan hadir, angka perkelahian antarpelajar pun sangat minim. Dalam kurun satu semester, hanya tercatat satu kasus perkelahian. Kondisi ini menjadi indikator kuat bahwa iklim sekolah berjalan sehat dan kondusif.
“Saya sebagai guru BK menilai ini luar biasa. Di sekolah lain, kasus seperti ini sering terjadi. Di sini, dalam tiga sampai empat bulan, hampir tidak ada,” jelasnya.
Zakin menyebut, kunci utama pembentukan karakter siswa terletak pada budaya Imtaq (Iman dan Taqwa) yang diterapkan secara konsisten. Setiap pagi, guru piket menyambut siswa dengan senyum, sapa, dan salam, membangun kedekatan emosional sejak awal hari.
Selain itu, pembiasaan religius juga dijalankan tanpa paksaan. Saat azan berkumandang, siswa dengan kesadaran sendiri menuju masjid untuk beribadah.
“Kalau sudah dengar azan, langsung ke masjid. Ketemu siapa pun, kita biasakan mereka untuk sapa dan salam,” pungkas Zakin.
Di tengah keterbatasan fasilitas, SMPN 12 Palu menunjukkan bahwa pendidikan karakter yang konsisten mampu menjadi pagar moral yang jauh lebih kuat dibanding pagar fisik.***
Editor : Muhammad Awaludin